Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Kualitas Pendidikan Jepang

OPINI | 16 February 2012 | 04:04 Dibaca: 3047   Komentar: 2   1

Saya pikir setiap orang pasti setuju bahwa pendidikan dapat meningkatkan kualitas suatu manusia, karena pendidikan mengajarkan kepada setiap orang untuk dapat mengatasi masalah yang dihadapi dengan cara atau metode tertentu. Selain itu pendidikan membentuk karakter dan kepribadian seseorang yang nantinya dibutuhkan oleh lingkungan dimana seseorang tersebut akan tinggal. Selain itu, pendidikan juga akan membentuk pola pikir seseorang. Hal ini lah yang sangat penting dari dunia pendidikan. Begitu sangat pentingnya dunia pendidikan, maka pemerintah dalam hal ini sebagai penyelenggara negara harus mengupayakan segala daya dan upaya untuk menyelenggarakan dunia pendidikan. Tidak hanya sebatas dalam menyediakan fasilitas, sumberdaya (baca : tenaga pengajar) dan faktor pendukung lainnya, seperti dana, maka tugas pemerintah telah selesai. Jika hanya dengan menyediakan hal itu saja pemerintah telah berpuas diri, maka kita dapat melihat bahwa ukuran yang ingin diberikan oleh pemerintah untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa mereka telah berhasil, hanya dilihat dari sisi kuantitas penyelenggaraan pendidikan. Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan kualitas pendidikan kita?

Kali ini kita akan melihat dan mungkin bisa belajar dari sistem pendidikan Jepang mengapa mereka dapat maju (hampir bisa dikatakan maju dalam berbagai bidang) dan memiliki sumber daya manusia yang dapat diandalkan.

Untuk dapat melihat dan mengukur kualitas pendidikan di Jepang, ada beberapa hal yang dapat kita gunakan untuk mengukurnya. Salah satunya yaitu dengan melihat riset yang dilakukan oleh peneliti-peneliti Jepang. Dalam tulisan yang dibuat oleh Hadi Nur (warga negara Indonesia yang saat ini menjadi peneliti di Universiti Teknologi Malaysia dan pernah mengenyam bangku pendidikan di Jepang) ia memaparkan dengan sangat jelas bahwa ternyata riset-riset kelas internasional yang dilakukan oleh peneliti-peneliti Jepang sangat besar. Kalau mau dibandingkan dengan Indonesia, maka kita akan mendapati angka yang sangat terpaut jauh. Sebagai perbandingan, (saat menerbitkan artikel ini, ia menggunakan fasilitas web ISI (institute for Scientific Information) yang memuat data-data publikasi ilmiah dari seluruh dunia, memiliki kumpuluan 17 juta artikel, terdiri dari 5.700 jurnal dari 164 disiplin ilmu) Indonesia hanya menyumbang 2 % dari total beberapa negara yang dibandingkannya. Diantaranya, vietnam, Malaysia, Singapura, Thailand, Bangladesh, Filipina dan Jepang, dimana pada saat itu jepang menyumbang 76% persen dari keseluruhan artikel.

13293178391107175540

Sungguh miris melihat hal ini. Dalam hal riset ilmiah bertaraf internasional, kita sejajar dengan Vietnam dan berada di bawah Malaysia, negara tetangga kita.

Selain itu, artikel berbeda (yang saya dapat dari internet) ditulis oleh Hendra Gunawan. Ia menyoroti profesi tenaga pengajar antara negara Jepang dan Indonesia. tentunya, salah satu faktor yang dapat kita lihat untuk mengukur kualitas pendidikan, dapat dilihat dari kualifikasi tenaga pengajar yang ada dalam dunia pendidikan kita. Dalam artikelnya tersebut, ada satu kisah yang menceritakan pengalaman koleganya yang saat itu menjadi dosen di universitas kecil di Tokyo yang baru saja mendapat gelar doktor dari Universitas Tokyo (universitas ke-2 terbaik di Asia dan ke-19 terbaik di dunia) tentang mengapa ia tidak menjadi di Universitas Tokyo, padahal saat dua tahun kelulusannya dari Universitas Tokyo, ia telah mempublikasikan 14 paper di berbagai jurnal internasional dan saat ini (pada saat artikel ini dipublikasikan) ia telah menulis 6 paper berikutnya. Teman dari penulis artikel ini menjawab bahwa persaingan untuk dapat menjadi staf pengajar di Jepang sangat ketat. Begitu sangat ketatnya kualifikasi pengajar yang diterima oleh sistem pendidikan di Jepang.

Tidak hanya itu, dalam artikel tersebut juga dipaparkan lunaknya sistem promosi dalam sistem pendidikan di Indonesia untuk mendapatkan gelar tertinggi dalam perguruan tinggi, yaitu Guru Besar. Seseorang dapat meraih gelar tertinggi, tanpa harus memiliki prestasi yang istimewa dalam penelitian. “Hanya dengan memiliki dua publikasi nasional sejak menjadi lektor kepala, seorang dosen dapat diusulkan (dan pada umumnya disetujui) menjadi Guru Besar, asalkan ia telah mencapai angka kredit 850, yang dikumpulkannya menjadi dosen”. Tampak begitu mudah di Indonesia untuk menjadi Guru Besar bila dibanding dengan di Jepang. Apakah hal ini kita masih dapat menganggap bahwa kualifikasi Guru Besar kita dapat dipertanggungjawabkan? Saya yakin, meskipun tidak semua, akan tetapi hal ini memperlihatkan kepada kita bahwa ternyata ada yang harus diperbaiki dalam sistem pendidikan kita.

Selain itu, untuk melihat kualitas pendidikan Jepang juga dapat kita lihat dalam indeks pendidikan yang dikeluarkan oleh UNDP.

Tahun

Indonesia

Jepang

Malaysia

1980

0.346

0.719

0.423

1985

0.394

0.741

0.498

1990

0.390

0.761

0.534

1995

0.445

0.806

0.593

2000

0.484

0.836

0.654

2005

0.526

0.862

0.711

2006

0.535

0.869

0.714

2007

0.557

0.873

0.713

2008

0.562

0.876

0.721

2009

0.578

0.880

0.725

2010

0.584

0.883

0.730

2011

0.584

0.883

0.730

Sumber : http://hdrstats.undp.org/

Dari data diatas, kita dapat melihat bahwa indeks pendidikan kita terpaut jauh dengan Jepang. Bahkan untuk negara tetangga kita, Malaysia, indeks pendidikan kita masih tertinggal jauh. Tahun 2011, indeks pendidikan Indonesia 0,584 dan Malysia 0,730. Poin yang sangat jauh untuk dapat mengejar Malaysia, terlebih Jepang, dalam waktu yang singkat. Sebagai contoh, dari tahun 1980 sampai tahun 2011 kita hanya bisa meningkatkan indeks pendidikan kita sebesar 2 poin. Bandingkan dengan Malaysia yang dapat meningkatkan indeks pendidikannya sebesar 3 poin. Jadi, untuk mengejar Malaysia (menjadi sejajar) kita butuh waktu 30 tahun. Sungguh waktu yang tidak sebentar. Jadi, untuk dapat meningkatkan pendidikan kita melampaui Malaysia dan Jepang, maka kita membutuhkan waktu, tenaga dan materi yang sangat besar.

Terakhir untuk melihat kualitas pendidikan di Jepang, kita dapat melihatnya dari indeks pembangunan manusia yang telah dirilis oleh UNDP.

Tahun

Indonesia

Jepang

Malaysia

1980

0.423

0.778

0.559

1985

0.460

0.803

0.600

1990

0.481

0.827

0.631

1995

0.527

0.850

0.674

2000

0.543

0.868

0.705

2005

0.572

0.886

0.738

2006

0.579

0.891

0.742

2007

0.591

0.894

0.746

2008

0.598

0.896

0.750

2009

0.607

0.895

0.752

2010

0.613

0.899

0.758

2011

0.617

0.901

0.761

Sumber : http://hdrstats.undp.org/

Dari tabel diatas juga dapat dilihat, indek pembangunan manusia kita juga kalah dengan Jepang dan Malaysia. Hal ini terbukti dari rendahnya IPM kita, dimana pada tahun 2011 IPM Indonesia 0,617, Jepang 0,901 dan Malaysia 0,761.

Indonesia

13293181691755157369

Jepang

1329318235493308557

Dari grafik di atas kita juga dapat melihat dan membandingkan indeks pembangunan manusia Indonesia dengan dunia dan indeks pembangunan Jepang dengan dunia. Dari grafik terlihat Indonesia berada di bawah Indeks Pembangunan dunia, dan Jepang memiliki posisi terbalik dengan Indonesia, dimana kondisi indeks pembangunan Jepang berada di atas indeks pembangunan rata-rata dunia.

Daftar Pustaka

http://itb2020.itb.ac.id/makalahKontribusi/hendraGunawan.pdf

http://www.hadinur.com/paper/hadi_bpend2003.pdf

http://hdrstats.undp.org/

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 13 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 13 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 14 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 14 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: