Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bang Bams

Tidak semua Tulisan itu Benar & Tidak semua Kebenaran itu harus Dituliskan, tapi Kejujuran lebih selengkapnya

In Memoriam Tri Dharma Perguruan Tinggi

HL | 17 February 2012 | 18:36 Dibaca: 3461   Komentar: 22   8

13295181711906344091

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Yang pernah mengecap pendidikan di Perguruan tinggi atau menjadi mahasiswa di suatu kampus tentunya tahu akan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Adapun Tri Dharma Perguruan Tinggi meliputi Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian pada Masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu dan ganasnya persaingan dalam dunia kerja dan pendidikan pihak kampus seakan-akan menjadi batu penghalang bagi mahasiswanya untuk melakukan ke-3 hal tersebut melalui kebijakan-kebijakan yang mereka keluarkan dan ironisnya lagi mahasiswa sangat mendukung kebijakan-kebijakan itu tanpa ada suatu perlawanan untuk mengubahnya kembali pada jalur yang sebenarnya. Tulisan ini berangkat dari melihat realita yang ada di kampus penulis sendiri.

Semenjak dihapusnya KKN (Kuliah Kerja Nyata) menjadi PKL (Praktek Kerja Lapangan) oleh pihak kampus beberapa tahun belakangan ini, ada sebuah kenyataan yang membuat saya bertanya-tanya tentang penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi di kampus saya ini. Terutama yang berkaitan dengan pengabdian pada masyarakat. Kebetulan kejadian ini bukan di fakultas saya, tetapi di Fakultas Ekonomi. Kalau di fakultas saya masih seperti format KKN yang dulu atau masih seperti yang ada di Perguruan Tinggi pada umumnya.

13295032461348573760Tri Dharma Perguruan Tinggi

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan sebuah keniscayaan bagi sebuah perguruan tinggi. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat merupakan wujud kepedulian perguruan tinggi sebagai lembaga yang menghasilkan elit intelektual untuk senantiasa berpartisipasi dalam pengembangan kualitas masyarakat.  Pengabdian Kepada Masyarakat dilaksanakan dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan memecahkan problem sosial yang dihadapi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial, penerapan Iptek, Usaha Jasa dan Industri (UJI), dan pemberdayaan Usaha Kemandirian Masyarakat (UKM). Nah, hal inilah yang sudah mulai dilupakan di kampus saya saat ini. Seperti yang terjadi di Fakultas Ekonomi beberapa tahun belakangan ini.

Kebetulan Beberapa hari yang lalu teman-teman mahasiswa/I fakultas Ekonomi melakukan PKL (kata mereka) ke Bali selama 4 hari. Berangkat pada hari rabu dan hari Sabtu sudah kembali ke rumah masing-masing (selesai PKL nya). menurut teman saya yang ikut ke Bali, kegiatan ini tidak lebih dari jalan-jalan biasa dan tidak ada unsur pembelajaran yang berarti disana karena waktu untuk melakukan observasi yang efektifnya hanya satu hari ke perusahaan-perusahaan, Besoknya sudah jalan-jalan dan besoknya lagi sudah pulang. Biaya yang dikeluarkan juga lumayan besar yaitu sebesar 1 juta rupiah. Tak sedikit mahasiswa yang mengeluh akan biaya yang dikeluarkan, Karena jika dibandingkan dengan mengikuti rombongan tour yang minimal 10 orang biayanya hanya setengah dari ini. Namun, karena dasarnya mahasiswa sekarang banyak yang bermental ” Saya Senang Anda Senang” jadi keluhan-keluhan itu hanya akan menguap disitu saja. Yang jelas Kapitalisme pendidikan semakin menggerogoti disegala lini.

Padahal Saat ini, dunia kerja sangat kompetitif. Pasca krisis ekonomi global yang terjadi secaramassive memberikan dampak besar pada permintaan tenaga kerja. Untuk tahun 2009 saja, banyaknya tenaga kerja yang dengan terpaksa “dirumahkan” (PHK), sehingga cukup sulit mencari perkerjaan. Belum lagi banyaknya lulusan dari berbagai universitas, baik dalam maupun luar negeri setiap tahunnya yang membuat dunia kerja semakin sesak dengan persaingan yang semakin ketat. Jika pihakUniversitas tidak mampu mencetak sarjana-sarjana yang berkualitas maka sulit untuk para lulusan berkompetisi di dunia kerja. Dalam memasuki dunia kerja, calon-calon lulusan universitas(mahasiswa) tidak hanya dituntut untuk lulus berbekal kecerdasanintelektual namun harus memiliki kemampuan dasar. Seperti kita ketahui selama menempuh pendidikan di Universitas, mahasiswa hanya diberikanbekal ilmu teori. Kemampuan dasar yang dimaksud antara lain pengetahuan ( knowledge), keterampilan ( skill¬†) dan sikap (attitude). Untukmendapatkan ketiga hal tersebut, tidak semua dapat diberikan melalui kegiatan perkuliahan formal. Oleh karena itu, mahasiswa perlu melakukan praktek kerja lapangan (PKL).

Masihkah Kita hanya seperti ini? PKL hanya jalan-jalan ke Bali? Dimana letak pengabdian kepada masyarakatnya?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Olahraga Sebagai Industri dan Sarana …

Erwin Ricardo Silal... | | 31 July 2014 | 08:46

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Rasa Takut, Cinta, Naluri dan Obsesi …

Ryu Kiseki | | 31 July 2014 | 03:42

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 13 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 15 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 17 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 19 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: