Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Anik Yulianita

Siangku untuk mewujudkan dunia dan ketika malam tiba Allah memberikan pakaian untukku :)

Laron, Kenapa Kau memilih Hidup yang Lemah

REP | 19 February 2012 | 08:49 Dibaca: 415   Komentar: 0   0

1329637570361207476

“Engkau di lahirkan sebagai laron dengan sepasang sayap, tapi mengapa engkau lebih suka menjalani hidup dengan merangkak dan menjadi makanan hewan lain hingga engkau di jadikan umpan oleh orang - orang yang suka memancing?”.

“Laron, tidak ingatkah diri mu ketika masih menjadi rayap? Ketika engkau menjadi rayap, engkau sangat hebat dari pada gergaji yang di pakai oleh tukang kayu saat memotong kayu. Engkau sama sekali tidak meninggalkan serpihan - serpihan kayu tersebut. Engkau bisa memakan kayu yang lebih besar dari ukuran badan mu. Ketika engkau jadi rayap, engkau rakus hingga engkau di anggap jadi masalah besar oleh orang - orang yang mempunyai rumah kayu”.

“Laron, kembalilah diri mu sebagai rayap supaya kau tetap kuat atau tetaplah bersayap karena mungkin kau bisa keliling dunia atau mungkin Tuhan akan menciptakan mu sebagai malaikat kecil”.

Pikiran - pikiran itu tiba - tiba muncul di otak ketika pagi tadi saya melihat laron - laron berterbangan lalu tiba - tiba melepaskan sayapnya satu persatu dan kemudian jalan merangkak. “Kenapa dia memilih jalan merangkak dari pada terbang?”. Pikiran itu muncul lagi lalu saya melihat Papi tetangga depan rumah yang semangat menangkap laron bersama cucunya dan anak - anak.

Papi dan anak - anak terlihat senang, saya pun juga ikut senang melihat keceriaan anak - anak yang berlari lari menangkap laron tapi saya juga kasihan kepada laron - laron karena pastinya nanti sore seperti biasa Papi ke tempat pemancingan lalu menjadikan laron - laron yang di tangkap menjadi umpan untuk ikan mujair atau ikan nila. Lebih seremnya lagi kalau ingat tetangga di kampung bahkan nenek saya sendiri selama masih hidup suka sekali dengan laron. Nenek suka memasak laron menjadi botok atau sekedar di goreng menggunakan minyak lalu di jadikan lauk untuk makan nasi, kadang - kadang juga di jadikan peyek untuk cemilan. Kata nenek sangat enak tapi saya tidak pernah mencicipi masakan dari laron.

Nenek juga pernah bilang kepada saya bahwa laron hanya mempunyai waktu hidup selama sehari jika laron tidak mendapat pasangannya. “Benarkah demikian?”. Kata saya.

Nenek menambahkan lagi laron yang mendapat pasangan akan hidup lalu membentuk koloni lagi, mereka ada ratunya. Hidup itu berputar ketika kita di beri kekuatan pasti dalam stag tertentu kita akan di uji dengan kelemahan pada diri kita untuk menjadikan diri kita semakin kuat. Begitu pula dengan laron, ketika dia menjadi rayap dia sangat kuat hingga bisa menumbangkan pohon - pohon besar dan bisa menggerogoti rumah - rumah atau perabotan yang terbuat dari kayu. Ketika sudah menjadi laron, dia beterbangan kesana kemari lalu merontokkan sayap - sayapnya satu persatu, jalan merangkak , bertahan hidup lalu mencari pasangannya atau dia akan mati.

Terapkan pada perjalanan hidup kita, ada saatnya kita kuat dan ada saatnya pula kita lemah dan jadi mangsa orang lain. Mangsa orang lain bukan berati memakan orang lain seperti Sumanto. Semua pasti tahu bagaimana orang lain memangsa orang lain yang lemah. Ketika kita bertahan dengan kelemahan kita maka kita akan lemah untuk selamanya namun ketika kita berusaha untuk bangkit dan menjadi kuat orang pun akan berpikir beberapa kali untuk memangsa kita karena pastinya juga takut kalau kita balik menyerangnya. Ketika kita kuat kita akan kuat, tidak di pandang setengah mata orang lain, oraang lain akan butuh dan menghormati.

Demikian pula ketika laron berusaha bertahan ketika dia lemah saat kehilangan sayap - sayapnya. Ketika laron menyerah dia akan mati dan ketika dia berusaha bertahan untuk mencari keberhasilannya dengan mencari pasangan dia akan terus hidup dan yang terkuat akan di jadikan ratu di dalam koloninya dan sebagai ratu tentunya di hormati dan segala perintahnya juga akan di jalankan anak - anak buahnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 8 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 9 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 12 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sikap Pabowo Terhadap Ahok & Bu Mega …

Kwee Minglie | 7 jam lalu

GP Singarpura, Hamilton Luar Biasa Rosberg …

Hery | 8 jam lalu

Menguak Misteri Gua Jepang di Malang …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Bahaya Bateri Bekas …

Pan Bhiandra | 8 jam lalu

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: