
Dibaca: 179
Komentar: 2
Nihil
Tulisan ini merupakan pengulangan dari cerita yang saya dapatkan dari CEO PT.Bina Busana Internusa 2 saat memberikan kata sambutan untuk para kami Management Trainee (MT). Entah cerita ini sudah banyak yang tahu atau tidak, tapi ada keinginan kuat bagi saya untuk menceritakannya kembali dalam bentuk tulisan. Selain juga bagian dari aktualisasi diri dalam hal dunia tulis-menulis social-networks ini.
Alkisah diceritakan bahwa dalam suatu seminar tentang ibu dan anak. Salah seorang pakar dunia tentang anak, yakni Kak Seto memberikan pemamaran singkat tentang manajemen tumbuh kembang anak. Banyak wawasan baru tentang manajemen anak yang Kak Seto paparkan kepada ratusan ibu dan orangtua yang hadir dalam seminar tersebut.
Di sela-sela kesempatan Kak Seto memberikan pertanyaan kepada para audiens mengenai para Rudy yang berpengaruh di Indonesia. “Menurut ibu-ibu, siapa sajakah Rudy-Rudy yang saat ini memberikan pengaruh di Indonesia”???, tanya Kak Seto.
Audiens pun mencoba menerka-nerka, siapakah Rudy-Rudy yang berpengaruh di Indonesia. Suasana pun gaduh, ala ibu-ibu. Tak satu pun dari mereka yang mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Kak Seto tersebut.
Setelah beberapa saat, kemudian Kak Seto memberikan jawaban Rudy-Rudy siapa sajakah yang berpengaruh di Indonesia. Mereka-mereka ialah:
1. Rudy Si Pemain Film yaitu Rudy Salam (aktor tampan era 90-an)
2. Rudy Si Tukang Masak yaitu Rudy Khoirudin (masakan beliau tidak dapat diragukan lagi cita rasa kelezatannya)
3. Rudy Si Penata Rambut yaiut Rudy Hadisuwarno (keahliannya dalam menata rambut bukan lagi menjadi rahasia umum)
4. Rudy Si Pemain Bulutangkis yaitu Rudy Hartono (berkat beliau nama harum bulutangkis Indonesia sempat menjadi yang ditakutkan di dunia)
5. dan Rudy yang terakhir adalah seorang ilmuan dari Indonesia yang jika ia berada di Jerman ia dijuluki Rudy, yaitu Prof. Dr. H BJ Habibie (beliau memiliki nama akrab Rudy jika berada di Jerman)
Kak Seto pun menanyakan kembali kepada para audiens, “kira-kira menurut para orangtua yang ada di sini, anak anda ingin menjadi Rudy yang mana nantinya”??? Para orangtua pun mengeluarkan berbagai reaksi, dan umunya mayoritas dari mereka langsung banyak yang berseru bahwa anaknnya ingin seperti Rudy yang ke lima, yakni Rudy Indo-Jerman BJ Habibie.
“Kira-kira kenapa para orangtua yang ada disini mayoritas menginginkan anaknya menjadi Rudy ke lima”??? tanya Kak Seto kembali. Reaksi yang ditimbulkan dari pertanyaan itu pun sangat banyak. Ada yang menganggap bahwa Rudy ke lima selain sudah pintar, cerdas, pandai, IQ-nya tinggi, pembuat pesawat, ilmuan, dan pernah menjadi Presiden Indonesia, dll.
Ibaratnnya Rudy ke lima sudah 4 sehat 5 sempurna. :D hehehe…
Oke terima kasih atas jawaban yang sudah bapak-ibu berikan kepada saya, kata Kak Seto, kata Kak Seto.
Penjelasan Dari Kak Seto Atas Pertanyaannya
Kira-kira kenapa Kak Seto memberikan pertanyaan tersebut??? Kira-kira lagi kalo kita yang diberikan pertanyaan tersebut, kita mau jadi Rudy yang mana??? Pesan apa yang bisa kita ambil dari cerita di atas. Berikut penjelasan dari Kak Seto:
Kak Seto menjelaskan bahwa pertanyaannya tersebut adalah upaya dia mengetaui sejauhmana para orangtua melakukan managemen terhadap anak mereka masing-masing. Bagi Kak Seto bukan masalah model Rudy seperti apa yang menjadi keinginan dan pengharapan orangtua kepada anaknnya. Silahkan jika memang para orangtua menginginkan anaknya menjadi Rudy pertama, Rudy kedua, Rudy ketiga, Rudy keempat, atau bahkan Rudy kelima.
Justru namun yang menjadi perhatian Kak Seto adalah bahwa setiap anak bukanlah para Rudy-Rudy di atas adalah manusia dengan karakteristik dan ciri khas masing-masing. Plus-minus melekat secara sosial kepada para Rudy diatas. Jikalau memang para orangtua menginginkan anak mereka seperti para Rudy di atas maka sangat sulit hal tersebut terjadi, karena memang anak mereka bukanlah para Rudy-Rudy di atas.
Kak Seto menawarkan suatu konsep managemen dan pendidikan anak harus menyentuh aspek psikologis dan sosiologis anak itu sendiri. Perkembangan anak sepenuhnya adalah tanggungjawab anak itu sendiri, orangtua dapat memposisikan dirinya sebagai fasilitator dan pengawas dalam perkembangan anak. Bukan justru dalam bagian yang sepenuhnya mengendalikan anak untuk mengikuti kemauan orangtua. Sehingga sang anak sulit untuk mengembangkan diri mereka sendiri.
Intisari menurut saya sendiri:
Menjadi diri sendiri (be your self) kiranya adalah kunci penting dari cerita tersebut. Kita sebagai manusia tentunya sulit untuk bisa menjadi para Rudy-Rudy di atas. Mereka dengan karakteristik, ciri khas, dan keahlian mereka masing-masing merupakan sosok yang memang pantas dijadikan rule of model.
Namun memang sekali lagi, saya atau kita bukanlah mereka (para Rudy). Saya, anda, kita adalah para manusia yang sudah memiliki jalan cerita sendiri. Jalan cerita itu adalah hamparan halaman buku yang masih kosong. Aktifitas yang kita lakukan adalah pena yang menggoreskan hamparan halaman kosong tersebut.