Artikel

Edukasi

Icha_nors

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Berhenti melihat jam/waktu dan mulai melihat dengan mata

PAUD Holistik Pilihan Orang Tua Bijak


HL | 22 February 2012 | 21:24 Dibaca: 568   Komentar: 24   2 dari 4 Kompasianer menilai bermanfaat

13299321331230155337

Ilustrasi PAUD (Kompas/Ferganata Indra Riatmoko)

Kebanyakan orang tua merasa bangga kalau perkembangan kognitif anaknya lebih cepat dibanding perkembangan aspek lain. Mereka merasa bahwa kecerdasan logis matematis adalah segalanya. Terkadang mereka lupa berapa usia anak mereka. Ada kesan bahwa sekolah itu ya belajar membaca, menulis dan berhitung. Mereka lupa bahwa Pendidikan Usia Dini adalah pendidikan pra sekolah. Makanya jangan heran kalau mereka menganggap bahwa lembaga PAUD baik formal maupun non formal dianggap maju kalau sudah mengajarkan pada peserta didiknya berbagai macam hitung-hitungan dan bertumpuk-tumpuk PR (pekerjaan rumah), padahal usianya masih dalam “Kelompok Bermain,” hebat ya….

Anak Usia Dini Jangan Dipressure

Manusia itu berkembang sesuai tahapannya. Masing-masing ada masanya. Lahir menjadi bayi tumbuh menjadi kanak-kanak, remaja dan terus berkembang menjadi manusia dewasa. Belajar pun demikian. Tidak mungkin anak usia TK kita ajari kalkulus, kecuali anak ajaib.

Orang tua manapun akan bangga bila mempunyai anak yang baru usia 3 tahun sudah lancar baca tulis dan berhitung. Itu mungkin saja terjadi. Salah satu anak saya juga ada yang pernah seperti ini. Tak pernah secara langsung mengajarinya membaca dan menulis tapi mampu melakukannya. Pernah suatu hari saya dibuat kaget karena ulahnya membuat wayang kertas yang masing- masing diberi nama sesuai tokoh yang dikaguminya dan memainkannya (bercerita). Setelah saya tanya, darimana dapat ide seperti itu? Dia kemudian menunjukkan sebuah majalah anak (sisipan dari majalah langganan saya).

Intinya boleh dan malah bagus anak bisa dan tahu lebih dini, asal proses menuju ke sana diperoleh dengan wajar. Artinya jangan memaksa anak dengan penekanan layaknya kita memberi penekanan pada kakak-kakanya yang sudah duduk di bangku sekolah. Mengajarkan membaca, menulis dan berhitung jangan sampai menjadi rutinitas yang menegangkan apalagi menakutkan. Anak yang mengalami penekanan belajar pada usia dini akan mengalami kejenuhan pada masa sekolah. Kita tentunya tidak mau dicap oleh anak-anak kita sebagai penjajah, perampok dan pemerkosa. Berikanlah hak mereka untuk bermain. Sekolah/ lembaga pendidikan Paud yang bermutu biasanya mempunyai SDM handal di bidang kepaudan. Pandai mengkreasikan, inovatif dalam membuat berbagai ragam main untuk menjadi wahana belajar yang mengasyikkan. Paling tidak bisa terlihat dari program-program yang ditawarkan dan kurikulum yang dipakai. Tentunya sesuai standar yang dianjurkan dan berbagai prestasi yang telah diperoleh oleh tenaga pendidik sesuai kompetensinya serta prestasi yang telah dicapai dalam berbagai pengembangan oleh anak didiknya. Tak kalah penting adalah fasilitas bermain dan belajar yang memadai.

Pilih Pembelajaran Terpadu

Karakteristik perkembangan AUD (Anak Usia Dini) bersifat holistic atau menyeluruh atau terpadu.Antara aspek perkembangan satu dan yang lain saling berkaitan, dan saling mempengaruhi. Pembelajaran yang cocok adalah pembelajaran terpadu yang berbasis pada tema dan bertujuan untuk membantu pengembangan potensi anak seutuhnya. Lebih tepatnya pembelajaran yang menyentuh semua dimensi kecerdasan anak (multiple intelligence).

Nah sudah jelaskan kalau anak tidak hanya butuh bimbingan di bidang kognitif saja untuk mencapai kesuksesannya kelak (baik dunia maupun akhirat)? Tidak usah berkecil hati anak yang sudah berumur 4 tahun belum bisa membaca. Bergabunglah dengan kelompok-kelompok bermain atau TK/RA yang bermutu , di sana akan diajarkan bagaimana membaca, menulis , berhitung dan keterampilan yang lain sesuai perkembangannya secara mengasyikkan karena dikemas dalam bentuk permainan sehingga tahu-tahu bisa tanpa dipaksa.

Para orang tua, bersyukurlah mempunyai anak dengan kemampuan kognitif yang melebihi anak seusianya, tapi jangan terlalu bangga karena survey membuktikan IQ (Intelligence Qoutient) hanya mempunyai andil 20% untuk mencapai kesuksesan hidup dan selebihnya (80%) adalah peran EQ (Emotional Qoutient). Lalu apa dan siapa makhluk bernama EQ ini? Kita bahas lain kali ya…

Yang terpenting jangan berhenti mengarahkan dan memberi rangsangan ke berbagai pengembangannya secara menyeluruh. Tentunya akan lebih bangga mempunyai anak dengan kemampuan logis matematis biasa-biasa saja tapi mempunyai kecerdasan spiritual, sosial emosional, intra dan interpersonal yang memadai. Lagi pula anak yang terdidik hanya untuk mengejar kecerdasan kognitif biasanya cenderung egois, kuper, tak berempati dan sulit mengambil keputusan karena terlalu memperhitungkan untung dan rugi. Apa-apa dikalkulasi dengan kalkulator dunia buatan manusia , sering mengesampingkan hal-hal yang bersifat lateral dan mengesampingkan intuisi.

Semoga tulisan ini menggugah para orang tua untuk tidak mendewakan kecerdasan logis matematis dan menafikan kecerdasan yang lain. Bijaksanalah memilih lembaga pendidikan pra sekolah agar kelak di kemudian hari tidak menyesal.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: