
Aku memilih jadi guru karena aku benci guru. Cara lain memajukan bangsa ini adalah menghasilkan guru yang terdidik, mau belajar dengan hidup penuh syukur.
Dibaca: 298
Komentar: 24
3 dari 7 Kompasianer menilai bermanfaat
Balita dan anak-anak masa kini sepertinya mengalami loncatan kemajuan yang sangat pesat.
“Kemajuan” yang sangat menonjol salah satunya adalah kemampuan mereka menggunakan dan mengeksplorasi beragam tekonologi canggih mulai dari televisi, handphone, iphone, komputer, laptop, internet, mobil-mobilan bahkan mainan anak dengan fasilitas remote control.
Hal ini didukung oleh keinginan para orang tua agar perkembangan anak mereka lebih baik, sehingga sejak dini mereka mengenalkan beragam teknologi canggih yang mampu dijangkau.
Ada begitu banyak teori dan penelitian terkait dengan perkembangan [fisik, kognitif, emosi, sosial, dan motorik] anak, yang bisa menjadi referensi bagi para orang tua dalam rangka peningkatakan tumbuh kembang anak. Dan tentu saja tidak semua harus mengacu kepada teknologi masa kini.
Yang menarik perhatian saya adalah “kegemaran” beberapa orang tua membekali anak-anak mereka dengan teknologi canggih. Tidak jarang kita jumpai anak berkalung hape dengan beragam tipe dan harga, sering pula mereka asyik ngegem dengan iPad, bahkan anak-anak berseragam sekolah khusuk ngegem di warnet-warnet yang sudah menjamur.
Orang tua tidak boleh meremehkan kemampuan eksplorasi anak termasuk balita!
***
Agar anak saya tidak menggangu saat lagi sibuk di depan komputer, maka saya mengupayakan pc tua yang bisa terkoneksi dengan internet. Awalnya dia hanya minta gambar-gambar bola, lama kelamaan permintaannya meningkat. Anak tiga tahun ini kelihatan tak mau tergantung sama orang lain dalam hal mengoperasikan komputer. Perlahan, dia mulai menggunakan mouse, berlanjut ke klik sana klik sini. Intinya sekarang dia sudah bisa on kan kumputer, buka firefox dan shut down komputer.
Maksud hati hendak “menjauhkan” anak dari televisi mulai terbukti. Frekuensi nonton tv sudah beralih ke komputer.
Kemarin, saya terganggu dengan suara kartun yang rada-rada porno di telinga saya. Saya lirik ke samping, memperhatikan apa yang sedang dia tonton.
Astaga, dia lagi asyik memperhatikan adegan kartun porno! Segera saya hampiri dan mengganti halaman yang dia akses dengan alasan nanti komputernya macet.
Saya penasaran bagaimana dia mendapatkan akses seperti itu, padahal di komputernya sudah dipasang berbagai filter konten porno. Ternyata karakter asal tekan yang dipencet itu merefer ke situs kartun porno.
Hahhh… umur segini udah mulai bikin orang tuanya mesti belajar tingkat dewa klo ceritanya seperti ini.
Beberapa hal menurut hemat saya yang perlu mendapat perhatian khusus para orang tua agar keinginan dan kebaikan anak berjalan seirama adalah :
Jika anak balita saja bisa mengakses konten porno, bagaimana dengan anak yang usianya lebih?
Jadi, suka-tidak suka kita “dipaksa” bergaul dengan dunia lain, budaya lain, tontonan berbeda, wacana berbeda, selera berbeda cukup melalui perangkat yang bisa digenggam!
Daniel Pasedan sedang digauli.