
Dibaca: 46
Komentar: 1
Nihil
Saya bukanlah ahli dalam bidang pendidikan, tetapi saya ingin berbagi pengalaman (tentu jika salah tidaklah menjadi dosa). Mula-mula saya perlu yakinkan, dan tentunya Anda juga yakin, bahwa pendidikan tidak identik dengan sekolah! Ya, orang yang berpendidikan bukan berarti lulusan sebuah sekolah. Jadi kalau ada orang yang merasa puas dengan menyebut dirinya orang berpendidikan oleh karena sudah lulus sekolah, bahkan sampai tingkat yang lebih tinggi sekalipun, sejatinya ia belumlah serta merta menjadi orang yang terdidik.
Begini penjelasan sederhananya. Banyak orang yang “sukses” bukan karena ia lulusan sekolah. Kata sukses dalam tanda petik ini menjadi penting, lantaran punya makna tersendiri sesuai dengan konteksnya masing-masing. Banyak orang yang sukses secara harta-materi, ia bahkan tidak lulus sekolah di tingkat yang paling dasar sekalipun. Anda tentu sudah banyak menemukan hal-hal yang seperti ini. Banyak juga orang yang sukses dalam hal karier intelektual, misalnya sastrawan, budayawan, kiai, intelektual, seniman, atau apapun namanya, tidak juga sekolah secara sempurna.
Namun, juga jangan terburu-buru mempunyai kesimpulan bahwa sekolah itu tidak penting. Itu sebabnya banyak orang-orang tua kita dulu tetap ingin anaknya sekolah, minimal pada tingkat yang dasar dan menengah. Di sini, kita tentu juga harus menyadari bahwa sekolah adalah salah satu instrumen di dalam pendidikan, dan banyak instrumen-instrumen lain dalam proses pendidikan. Jika pendidikan adalah sebuah upaya memberdayakan manusia agar bisa menghadapi hidup (dan ini nanti saya akan jelaskan), maka sekolah adalah salah satu instrumen untuk menuju ke arah sana. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi orang dalam kehidupannya.
Salah satunya adalah tantangan (dan ini yang paling dasar) untuk memenuhi kecukupan materi dan ekonomi bagi dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar filosofi munculnya sekolah di sini. Yang penting dicatat adalah “sekolah” yang baik adalah sekolah yang mampu untuk memberikan bekal kepada orang yang bersekolah (peserta didik atau murid) untuk menghadapi semesta kehidupan yang luas. Dalam hal ini lingkungan sekolah juga ikut mendukung keberhasilan siswa dalam memberdayakannya menjadi manusia yang mampu memuliakan kehidupannya (*memayu hayuning bawana*).
Jadi, selain sekolah, lingkungan juga menjadi salah satu instrumen yang penting dalam proses pendidikan, tetapi juga tidaklah mutlak, karena belum tentu anak seorang pelacur akan menjadi pelacur. Oleh karena itu, motivasi diri juga pada akhirnya akan menentukan keberhasilan pendidikan. Dalam bahasa agama (Islam) motivasi diri adalah niat. Jadi tergantung niatnya.
Misalnya, jika ingin menjadi seorang penguasaha kaya raya, Anda tidak perlu sibuk-sibuk mempelajari ilmu manajemen. Ilmu manajemen hanya untuk manajer, bukan penguasaha! Jika Anda ingin menjadi teknisi kendaran bermotor Anda tidak perlu harus menunggu menggondol ijazah sarjana teknik, dan seterusnya.
Saya hanya ingin mengulangi lagi bahwa materi atau ekonomi adalah salah satu tantangan kehidupan di antara tantangan kehidupan yang luas. Kesarjanaan adalah kategori intelektual, ia selalu gandrung dengan produktivitas dan penciptaan kebaruan dalam berbagai pengertiannya, bukan sibuk mengumpulkan rupiah untuk memperkaya diri. Bahwa sah sarjana boleh kaya, bahkan itu lebih baik. Tetapi ia tetap harus menempatkan dirinya dalam sifat kesarjanaannya.
Kesarjanaan bukan pula kategori sekolahan. Ia, saya sebut, “kategori intelektual.” Ia adalah orang mampu memfungsikan dirinya sebagai “khalifah” yang memuliakan kehidupan. Untuk memuliakan kehidupan orang butuh ilmu hidup, dan pendidikan yang baik adalah pendidikan memenuhinya dengan ilmu-ilmu kehidupan. Jadi, jika Anda ingin melanjutkan sekolah, carilah sekolah dan lingkungannya yang mengajari ilmu hidup.