
tukang baca buku, nyampul buku dan meresensi buku, pinjam buku kadang2, beli buku juga kadang2, tp cinta mati ma buku. Ntahlah kek mana lagi bilangnya kalo dah berbau buku =D
Dibaca: 350
Komentar: 3
Nihil
Judul : Melukis Pelangi ‘Catatan Hati Oki Setiana Dewi’
Penulis : Oki Setiana Dewi
Penerbit : Mizania
Cetakan : Maret 2011
Halaman : 347 Halaman
Seperti pedang bagi samurai, begitulah jilbab sebagai jalan hidup bagi muslimah
-Soni Farid Maulana, penyair-
Sepanjang yang saya pahami jilbab adalah kain penutup seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan yang dikenakan muslimah sebagai kewajibannya untuk menutup aura, agar mudah dikenali identitasnya dan tidak diganggu. Di zaman sekarang, khususnya di Indonesia, sudah mulai banyak muslimah yang memutuskan untuk berjilbab dan bahkan tidak ada tantangan berarti, beda ketika di zaman era 80-an, mereka yang berjilbab cukup mendapat banyak penolakan disana sini diantaranya, tidak boleh bersekolah ke luar negeri, sebagian dari mereka ada yang dimaki-maki dan diusir orangtua sendiri, ada yang dibotaki kepalanya, dibakar jilbabnya, dan sampai harus berurusan dengan pengadilan karena pelarangan berjilbab saat itu.
Baru-baru ini ada juga perjuangan Marwa El-Sherbini pada tahun 2009 lalu, seorang doktor Farmasi berumur 31 tahun asal Mesir yang tinggal di Jerman. Marwa harus kehilangan nyawa karena mempertahankan jilbabnya. Seorang pria Jerman bernama Alex W (28) menuduhnya teroris dan memintanya berkali-kali melepas jilbab. Marwa menolak dan melaporkan pria itu ke polisi. Saat proses pengadilan itulah, di depan hakim dan petugas keamanan, pria itu mengambil pisau dari balik bajunya dan menghujamkannya 17 kali ke tubuh Marwa yang saat itu sedang hamil tiga bulan. Marwa kini mendapat gelar ‘Martir Jilbab’ dari rakyat Mesir.
Seorang Neno Warisman dalam kata pengantar di dalam buku autobiografi yang ditulis Oki Setiana Dewi (OSD) menuliskan bahwa betapa beruntungnya orang yang memiliki tiga kecerdasan sekaligus, yakni cerdas akalnya dalam arti memiliki ketajaman daya pikir, cerdas emosinya (memiliki kedalaman emosional, pandai merasakan berbagai situasi emosi dan meresponnya dengan benar), cerdas spiritual (mengaitkan segala sesuatu dengan eksistensi Allah). Namun, ada jenis kecerdasan lain yang membuat si pemiliknya lebih beruntung lagi yakni cerdas tangguh malang atau dikenal dengan istilah adversity quotient. Sebuah kecerdasan yang membuat pemiliknya mampu mengelola kemalangan menjadi kemenangan dan yang mau mengambil pelajaran dari setiap pelajaran hidup yang dilaluinya.
Oki Setiana Dewi adalah aktris muda pendatang baru yang namanya melejit bak roket karena berhasil memerankan Anna Althafunnisa dalam film fenomenal karya Chaerul Umam ‘Ketika Cinta bertasbih’, film yang diangkat dari sebuah novel karya Habiburrahman El-Shirazy. Siapa yang menyangka bahwa jalan hidupnya begitu berliku hingga bisa mencapai titik karier kesuksesan seperti saat ini. Buku yang dipenuhi oleh endorsement para orang hebat sekaliber Grand Motivasi Indonesia—Reza M. Syarief turut memenuhi daftar panjang endorser dalam buku ini dengan sebuah kalimat quote yang cantik untuk menyimpulkan isi buku Oki ini, Life starts from nothing to something, then becoming someone and finally to be No One because the only one is Allah SWT.
Berawal dari hobi menuliskan setiap episode dari adegan kehidupan yang dilalui Oki kecil, remaja hingga dewasa inilah yang menginspirasinya untuk mengabadikan catatan hatinya menjadi sebuah buku diterbitkan oleh Mizania. Di buku setebal 347 halaman ini, seorang Oki dengan sangat tulus berbagi tentang kisah hidupnya: tentang masa kecilnya di Batam, tentang keinginan besarnya ingin menjadi seorang aktris terkenal suatu hari nanti, kegigihannya menjalani kehidupan di Jakarta, impian-impiannya yang tertulis rapi dalam diary lengkap dengan catatan daftar impian diawali dengan kalimat I will…dan tidak lupa kalimat How to get it…, sampai pada sebuah titik balik hidupnya yakni bernazar untuk mengenakan jilbab demi kesembuhan sang Ibunda Tercinta. Semua itu diungkap dengan sangat jujur dan terbuka.
Melukis Pelangi Impian
Sesuai dengan judulnya, yakni Melukis Pelangi, pelangi identik dengan warna warni yang membuat mata sedap memandangnya, namun yang pesonanya pelangi tidak akan muncul jika tidak didahului langit mendung kemudian hujan yang turun satu satu menghujam bumi.
Bagi seorang Oki ia sudah melukis pelangi sejak jauh-jauh hari, keinginan terbesarnya adalah menjadi seorang aktris, untuk itu dari jauh hari pula ia men-setting rencana hidupnya ke arah yang mendekatkan ia pada cita-citanya, sehingga tidak perlu waktu lama baginya untuk menjadi seorang aktris. Ia mulai karirnya di Batam sebagai seorang model, serta mengumpulkan modal agar bisa merantau ke Jakarta dan bisa lebih mendekatkan ia pada impiannya semula. Saya juga belajar dari kisah hidupnya bahwa, disiplin, mandiri, kerja keras dan kerja cerdas adalah modal dasar untuk sukses dan itu pula yang dirasakan Oki saat merantau ke Jakarta dengan berbagai suka dukanya. Walaupun begitu, kasih sayang keluarga yang proposional tetap menjadikannya seseorang yang tetap pada koridor seorang anak yang masih bisa diberi kepercayaan, sehingga tidak ada waktu bagi seorang Oki remaja untuk menyalahgunakan kepercayaan orangtuanya ketika mengungkapkan niat awal hijrah ke Jakarta.
Berjilbab = Tidak Bisa Jadi Aktris
Berawal dari musibah Ibunda Oki sakit parah dan Oki mendapatkan hidayah berjilbab melalui mimpi itulah yang membuatnya mengambil keputusan besar dalam hidupnya yakni berjilbab. Jika berjilbab itu berarti tawaran untuk menjadi aktris akan hilang begitu saja, dan itu sempat dirasakan oleh Oki di tahun-tahun pertamanya berjilbab, namun dengan segenap kepasrahan dan keyakinan bahwa Allah Swt Maha Pemberi Rezeki yang tidak disangka-sangka yang membawanya kepada audisi mencari bintang film untuk bermain di Film Ketika Cinta Bertasbih. Peristiwa penting inilah yang mengubah hidupnya seketika, Oki ingin membuktikan kepada orang yang dulu menolaknya bahwa dengan berjilbab, Oki tidak akan pernah bisa jadi apa-apa, dan kini Oki membuktikannya.
Berkah berjilbabnya Oki tidak sampai disitu saja, sejak saat itu Oki menjadi aktris muslimah yang menjadi panutan para remaja muslimah, dan Oki banyak diundang menjadi pembicara di berbagai kesempatan dan mengikuti berbagai kegiatan sosial, sungguh berkah yang luarbiasa.
Tips Menjadi Aktris Terkenal dan Muslimah Prestatif
Salahsatu kekurangan dari sebuah buku autobiografi adalah hilangnya objektifitas penulis terhadap penceritaan dirinya sendiri, namun sebaliknya buku itu malah punya taste tersendiri karena ditulis langsung oleh penulisnya sendiri tentang dirinya sendiri. Kelebihan isi buku ini selain yang sudah saya paparkan diatas adalah berbagai tips tentang langkah-langkah yang harus dijalani untuk menjadi aktris terkenal dan tips menjadi muslimah yang bisa mencetak prestasi sebanyak banyaknya. Walaupun tips ini tidak bisa dipaksakan agar cocok diterapkan diri semua orang, tapi cukuplah memberi inspirasi bahwa ‘begini toh lika liku yang harus dilewati untuk menjadi aktris?, casting sana sini, dibayar murah untuk beberapa adegan numpang lewat dan lain sebagainya. Dan Oki yang juga terdaftar sebagai mahasiswa UI Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Jurusan Sastra Belanda, secara narasi menyelipkan tips menjadi muslimah yang bisa mencetak prestasi sebanyak banyaknya
Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan, buku ini patut diapresiasi bahkan kembali Reza M.Syarief menuliskan dalam kata pengantarnya,’Saya sangat ingin para Muslimah di Indonesia atau dimanapun memaksakan dirinya untuk membaca buku ini’. Selamat Membaca!

#telah terbit di Harian Medan Bisnis, Juni 2011