Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ahmad Bastan Abhan

آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓِ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ

Hawa Nafsu Kepada Wanita

REP | 24 February 2012 | 23:53 Dibaca: 1056   Komentar: 2   4

(1)
Salah satu kelebihan manusia.
Bila dibanding makhluk lainnya.
Ia dihiasi oleh Allah Ta’ala.
Akan syahwat perhiasan dunia.

(2)
Lazim disebut hawa nafsu.
Ini perupakan pendorong laku.
Hingga manusia terus berpacu.
Untuk mencapai tehnologi baru.

(3)
Hawa nafsu memang perhiasan.
Bagi kita sekalian insan.
Tetapi jangan sampai lupakan.
Kapan dan dimana boleh disalurkan.

(4)
Demikian halnya sipat manusia.
Punya perhiasan dalam dunia.
Untuk memakai kapan dan dimana.
Disinilah agama yang mengaturnya.

(5)
Dalam agama telah diterangkan.
Diantara semua itu perhiasan.
Paling menonjol dalam kehidupan.
Ialah cinta pada perempuan.

(6)
Kalau kita menyukai wanita.
Itu merupakan hal yang biasa.
Asalkan sesuai kaidah agama.
Melalui tuntunan Rasul tercinta.

(7)
Akan tetapi wahai ihwan.
Kalau suka pada perempuan.
Janganlah hanya nafsu dibadan.
Sebab agama punya aturan.

(8)
Kalau kita menyukai wanita.
Sungguh besar itu pengaruhnya.
Semua tergantung kepada kita.
Sebab apa kita mencinta.

(9)
Hawa nafsu pada perempuan.
Dapat mengantarkan pada kejayaan.
Tapi juga bisa berkebalikan.
Dia menenggelamkan kejurang kehancuran.

(10)
Semua itu bergantung hajat.
Latar belakang kita berminat.
Apakah pendorong timbulnya hasrat.
Oleh iman ataukah syahwat.

(11)
Kalau kita mencintai wanita.
Hendaklah didasari oleh agama.
Motifasi utama iman dan takwa.
Insya Allah nanti hidup bahagia.

(12)
Biar seumpama hidup sederhana.
Mengarungi bahtera berumah tangga.
Tapi bersama isteri shaleha.
Insya Allah hidup rukun sejahtera.

(13)
Tapi kalau mencintai wanita.
Semata mata syahwat belaka.
Mungkin nanti akan merana.
Kalau tidak merasa hina.

(14)
Karena kalau menyukai gadis.
Hanyalah syahwat sebagai pemanis.
Itu merupakan kendaraan Iblis.
Jauh dikata dari harmonis.

(15)
Memang disini letak perso’alan.
Bagi lelaki insan sekalian.
Dalam memandang pada perempuan.
Kadang hanyalah nafsu dibadan.

(16)
Sedangkan agama mengajarkan kita.
Dalam memandang itu wanita.
Untuk merahmati dan memuliakannya.
Berbelas kasihan berlaku iba.

(17)
Karena siapa memuliakan wanita.
Hanyalah dia orang yang mulia.
Berbudi tinggi penuh wibawa.
Selalu menjalankan perintah agama.

(18)
Juga siapa yang menghinakan wanita.
Serta memandang sebelah mata.
Hanyalah dia orang tercela.
Rendah budi tingkah lakunya.

(19)
Dalam halnya memandang wanita.
Cukup mencontoh Rasul utama.
Motiv pernikahan bukan sayahwat semata.
Tapi merupakan nilai Takwanya.

(20)
Semoga kita juga demikian.
Mencontoh Rasul dalam perkawinan.
Kecenderungan syahwat pada perempuan.
Bisa terkontrol oleh keimanan.

wallahua’lam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

Mudik Menyenangkan bersama Keluarga …

Cahyadi Takariawan | | 26 July 2014 | 06:56

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

ASI sebagai Suplemen Tambahan Para Body …

Andi Firmansyah | | 26 July 2014 | 08:20

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 12 jam lalu

Risma dan Emil Lebih Amanah Dibanding …

Leviana | 12 jam lalu

Analisis Prosedur Sengketa Hasil Pilpres …

Muhammad Ali Husein | 13 jam lalu

Jokowi: The First Heavy Metal’s …

Severus Trianto | 15 jam lalu

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: