Institut Teknologi Bandung (ITB) sedang mempertimbangkan permohonan Wakil Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Dato Haji Muhyidin Mohd Yassin untuk membuka Kampus Cabang ITB di Malaysia (Pikiran Rakyat, 25/02/2012). Mendengar berita tersebut, saya agak merenung sambil berfikir karena sangatlah langka suatu negara meminta suatu perguruan tinggi, untuk membuka kampus sebagai cabang induknya. Pengakuan Negara Malaysia terhadap kampus ITB merupakan sebuah penghargaan yang patut dibanggakan, karena ini menjadi indikator bahwa Perguruan tinggi Indonesia memang layak diperhitungkan dikancah internasional. Malaysia secara diam-diam, ternyata “berhasrat” terhadap Perguruan Tinggi ini. Apalagi Menurut Prof Jann Hidajat Tjakraatmadja, Ketua Tim kelayakan Studi ITB, bahwa permohonan Malaysia tersebut sudah diajukan dua tahun yang lalu. Memang, sangatlah beralasan ketika Malaysia berkeinginan agar ITB membuka kampus di Malaysia, karena berdasarkan 200 top Universitas di Asia, ITB menempati rangking 16 besar dan National University of Singapore menempati rangking 3 Asia. ITB dan NUS merupakan dua perguruan tinggi yang ada di ASEAN, yang termasuk universitas top Asia. ITB pun termasuk jajaran Kampus paling top di Indonesia.
Sebuah penghargaan, tentunya haruslah disambut dengan suka cita, apalagi penghargaan ini datang dari luar negeri. Sebuah penghargaan yang teramat prestigius. Namun, dibalik penghargaan itu, lagi-lagi kita tidak bisa menutupi mata dan telinga. Ketika mendengar nama Malaysia, tak bisa dipungkiri memori kita selalu negatif terhadap negara tetangga satu ini. Kasus sengketa Pulau Ligitan, kasus reog ponorogo sampai kasus pengklaiman batik sebagai warisan budaya Malaysia, cukup menjadi penyengat kecurigaan terhadap langkah-langkah Malaysia terhadap Negara ini. Apalagi sekarang, Malaysia menginginkan kampus ITB membuka cabang di Malaysia. Ada beberapa pertanyaan yang menggelitik dibenak saya. Pertama, Apakah Malaysia memiliki maksud tertentu dengan menggandeng ITB supaya mendirikan Kampus di Malaysia? apalagi mereka sudah siap dengan gedung dan fasiltas penunjang lainnya. Bahkan perusahaan-perusahaan Malaysia dikabarkan sudah siap mendanai kerjasama ini. Kedua, Jangan-jangan Malaysia akan memanfaatkan ITB untuk lebih banyak berkiprah di Malaysia. Misalnya, ITB akan dilibatkan dalam penelitian-penelitian di Malaysia, dan tentunya dibiaya dengan jumlah dana yang besar. Kemudian penelitian tersebut akan dibeli oleh perusahaan-perusahaan Malaysia, dan pasti hak patenpun didapatkan mereka. Ketiga, Kalau berbicara Internasionalisasi Perguruan Tinggi, kenapa mesti membuka cabang baru dinegara lain. Bukankah inti internasionaliasi perguruan tinggi adalah mendayagunakan potensi SDM lokal untuk bisa bersaing dikancah dunia internasional. Memang, sebuah perguruan Tinggi dikatakan berkelas internasional menurut Times Higher Education, bisa diidentifikasi dengan banyaknya jumlah dosen Asing, mahasiswa asing dan jumlah karya tulis Dosen yang dikutip forum dunia. Akan tetapi, apa mesti melebarkan sayap dengan membuka di negara lain?
Penghargaan terhadap ITB ini jangan ternodai oleh segelintir orang yang bernafsu dengan jargon “internasionalisasi”. Internasionalisasi memang perlu, sebagai tolak ukur keberhasilan pola pendidikan di negara kita. Tapi, saya rasa tidak mengesampingkan nilai-nilai nasionalisme. ITB lebih baik fokus mengembangkan putra - putri bangsa di negara sendiri, daripada membesarkan bangsa negara lain. Ingat, program RSBI dan SBI ternyata diakhir banyak dikecam. Oleh karena itu, seyogianya pihak ITB berfikir ulang dan memikirkan jauh kedepan. Agar dikemudian hari tidak banyak kritik dari bangsa kita sendiri. ##