
Dibaca: 44
Komentar: 5
Nihil

Teknologi semakin canggih menjadikan malas untuk berpikir.
Teknologi kini sudah sangat canggih. Mencari akses data sekejap pun langsung dapat. Ya internet. Internet sudah sangat mendunia. Sejak pertama kali google ditemukan, dunia seakan sempit-ada pada genggaman tangan.
Google dianggap paling mujarab. Google-lah yang diyakini sebagian orang sebagai tuhan mereka. Karena acapkali selalu membantu untuk menyelesaikan segala sesuatu dengan hitungan detik. Entah mahasiswa dalam menyelesaikan tugas. Mungkin juga dosen. Beberapa materi yang disampaikan dosen, ada yang sama persis dengan yang ada di internet. Berarti kemungkinan besar adalah copast. Bagaimana mungkin mahasiswa yang selalu diperingatkan untuk tidak melakukan plagiatisasi namun, dosennya sendiri malah dewa plagiat. Mungkin sistem dalam pembelajaran pendidikan di Indonesia memang ada yang salah.
Betapa tidak mahasiswa selalu terpacu dengan nilai. Keberhasilan pendidikan diperoleh ketika seseorang mendapat nilai atau IP yang bagus. Paradigma ini lah yang sudah salah kaprah di tengah-tengah masyarakat. Pemerintah yang sesat berfikir ketika suatu pendidikan dikatakan maju ketika jumlah kelulusan di SMP atau SMA tinggi. Padahal sebenarnya penuh dengan rekayasa. Betapa tidak tindakan contek menyontek, beli kunci jawaban ketika ujian sudah menjadi hal yang lumprah. Itulah dikatakan pendidikan yang maju?
Siswa atau mahasiswa lupa akan suatu proses yang dilakukan ketika duduk di bangku pendidikan. Yang mereka pikirkan hanya nilai dan nilai. Makanya semua cara dilakukan untuk mendapat nilai yang bagus. Tidak menuntut kemungkinan hal-hal yang tidak terpuji ditempuhnya. Misalnya saja copast, contek mennyontek hingga orang yang berada pada tingkat sarjana, megister, dan doctor sekalipun.
Sekolah pun tidak lagi menjadi tempat untuk mencari ilmu, wawasan, dan pengembangan softskill. Namun, tempat untuk mengejar pangkat. Artinya mereka hanya memburu ijazah, sertifikat dan setaranya. Inilah cermin dunia pendidikan di Indonesia? Kebohongan pun sudah terdidik di bangkau pendidikan. Jadi, jangan heran jika ada orang pinter yang minteri orang lain. Atau orang bodo yang berlagak pinter karena punya ijazah diatas rata-rata.