Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sugeng Budirahardjo

saya, suka nulis humor dll

Illustrator, Animator, dan Karikaturis Indonesia, Men-Dunia

OPINI | 28 February 2012 | 00:44 Dibaca: 3257   Komentar: 3   0

13303339331126375362

Democracy Karya Taufan Hidayatullah

Melimpahnya (SDM) Sumber Daya Manusia) Indonesia, di bidang Animator dan Illustrator, tampaknya tidak diragukan lagi. Indonesia banyak menyimpan potensi orang-orang muda yang sangat layak disebut Animator dan Illustrator berkelas Dunia.

Sebut saja animator (menggerakkan gambar mati), Rini Sugianto, asal Lampung, Rini, tercatat, alumni Academi of art San Francisco.Tangan dinginnya membuat media film layar lebar, mempunyai arti.Tintin Si Pewarta bule berjambul, menjadi hidup. Tokoh, Tintin, berkat kreativitas Rinibergerak, bukan gambar mati, seperti tokoh kartun yang kita kenal di cerita komik.

1330341676815585955

Film versi Animasi Tintin

Begitupun yang dilakukan Illustrator(Konseptor) Admira Wijaya pemuda asal Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Admira telah mempunyai nama dikalangan film Animasi di Dunia. Ia bekerja sebagai perancang konsep, sekaligus perancang produksi. Anda dapat mengenal Karya admira di film Transformer I, serta berbagai Game produksi Erofa dan Amerika. Dari buah kreativitasnya itu, karyanya dihargai mencapai US 1000 atau 9.000.000 juta rupiah per unit.

Rini Sugianto dan Admira Wijaya keduanya mengusai tehnologi citra. Mereka, layak, mendapat apresiasi, dan patut menjadi teladan pemuda-pemudi Indonesia.Sepak terjang mereka dibidangnya, memberi inspirasi peminat,calon animator dan illustrator sebagai profesi. Tokoh rekaan mereka, di film animasi, Shreck, Kungfu Panda dan Madagascar, dapat kita saksikan di Industri film, produksi Studio Marvell, Dreamworks dan Disney.

1330341829905492029

Animator Rini Sugianto

Kebangkitan Indonesia di Bidang Animasi dan Illustrastor menurut Wahyu Aditya, KDRI(Kementerian Desain Republik Indonesia) masih sporadis. Penggiat, bermula dari Hobbi, serta berkomunitas di dunia maya, hingga mengetahui penyelenggaraan festival, pada forum Lomba Internasional. Menurut Wahyu Aditya,” dunia animasi Indonesia bisa maju dan mendunia. Jika mau minilik cara Jepang yang industri animasinya berkembang, sejak tahun 1913″. yang kita butuhkan adalah inisiatif individu dan entrepreneur di bidang animasi”. Kata Wadit yang dimuat di Tabloid Prioritas 16-22 Januari 2012.

Lalu Bagimana dengan Karikaturis Indonesia?
Mungkin saja anda tak mengenal, dengan GM Sudarta, kartunis, karikaturis, Indonesia yang Indentik dengan tokoh kartun “Om Pasikom”. Tokoh kartun,lelaki bertopi khas, kemunculannya sering “Nyentil, Greget dan Menghibur” dengan isu-isu Nasionalnya. Om Pasikom, kerab “Nampang” di harian Surat Kabar Kompas.  Saking ngeTOPnya, Tokoh kartun “Om Pasikom” telah di jadikan Film yang diperankan oleh Aktor Didi Petet.

13303410891911556063

Karikatur

Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 20 Februari 1946, Gerardus Mayela (G.M.) Sudarta, adalah anak penjaga bioskop, karena rumahnya di Gemblegan, Kalikotes, Klaten, dipinggir Rel Kereta Api, Ia bercita-cita ingin menjadi Masinis. Pada 1967. Awal karier Pria yang suka berpakaian serba hitam ini, sebagai Karikaturis, di harian Kompas, ketika Sudarta diberi kesempatan menjalanin test menggambar penumpang pesawat terbang, yang panik, karena pesawatnya mau jatuh.

Kiprah Kartunis, GM. Sudarta dalam kartun editorial, atau kartun politis biasanya ditujukan untuk menyatakan pandangan politik atau isu sosial yang berkembang dengan cara menyindir, terkadang satire. Berbeda bila Ia sedang membuat Karikatur, Gambar dicurahkan, untuk menggiring persepsi, kelucuan, sinisme. Penonjolan watak Obyek, menampilkan kembali orang yang di gambarkan, ciri khas dalam Karikatur. Melebih-lebihkan obyek kongrit yang biasanya orang terkenal, dibalut ciri khas orang dimaksudkan, tidak merendahkan. Karikatur hanya memperjelas pesan tidak menampilkan cerita seperti Kartun.

13303426561499201928

GM. Sudarta (photo The Jakarta Post)

Dunia maya, maya yang mendunia. Seperti Facebook, twitter dan lain sebagainya, dalam kekiniannya,  telah begitu banyak memberikan kemudahan orang  mengakses informasi, serta mengtransformasikan  komunikasi. Kecanggihan Teknologi Internet, jarak dibelahan dunia yang jauhpun terjangkau dengan hitungan detik.

Melalui akses internet, Taufan Hidayatulloh berprestasi. Karya karikatur yang dikirim melalui internet, Taufan bisa mengikuti kompetisi Lomba. Hasil kreativitas Taufan itu, menjadi Juara Pertama Tingkat Dunia. Dengan karikatur,  mengantarkan, mencapai puncak prestasi tertinggi Dunia, berthemakan “Demokracy”. Prestasi  Taufan membanggakan, Ia mengalahkan peserta dari 73 Negara dari 1.000 karya yang di lombakan.

Lomba Karikatur diselenggarakan oleh Centre For International Privat Enterprise (CIPE) di Washington DC. Tahapan Seleksi CIPE pertama terpilih 90 karya. Seleksi berikutnya, terpilih 30 karya, masing-masing 10 karya yakni thema Democracy, “Gender”, dan “Coruption”. Peserta dari Indonesia  yang terseleksi ada 2 orang kartunis, yaitu 1 orang dari Kompas dan Taufan Hidayatullah dari Unikom.

Untuk kompetisi lomba karikatur “thema Gender” diraih oleh Ahmad Hamaid dari Afghanistan, sedangkan “thema Coruption” diraih Ilya Katz peserta dari Israel. Bagi Taufan, industri kreatif adalah suatu pilihan. Ia menyukai bidang ini sejak remaja. Kemampuannya semakin terasah, karena Ia acap mengikuti berbagai pameran dan lomba di dalam dan Luar Negeri, diantaranya lomba karikatur yang diselenggarakan Habibie Center, serta di Luar Negeri, di Iran.

1330342115120188117

Ditengah minimnya Industri kreatif di Indonesia, termasuk di dalamnya industri di bidang komunikasi visual dan grafis, ternyata prestasi dibidang tersebut terhadirkan. Karikatur adalah Media Komunikasi dan informasi yang sarat makna.  Selain Ribuan dollar telah diraih dari lomba karikatur CIPE Desember 2011 lalu, Taufan Hidayatullah, kini,  mengabdikan dirinya sebagai staf pengajar, ketua jurusan komunikasi visual Unikom, di Bandung, Jawa Barat.

Anda mempunyai kreativitas atau inovasi dalam bidang tertentu, dan ingin melangkah mengikuti rekam jejak mereka?. Meretas di Internet!, membuka situs, berbagai lomba kompetisi, adalah pilihan. Bersiaplah untuk kalah, kebanggaan dan bahagia, bila anda menang di puncak pencapaian. Siapa Tahu itu Karya Anda?.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gandari: Menyibak Karakter dan Sikap …

Olive Bendon | | 18 December 2014 | 17:44

Meteorisme, Penyakit Hitler yang …

Gustaaf Kusno | | 18 December 2014 | 12:20

Hidayat Nur Wahid Tidak Paham Hukum …

Hendra Budiman | | 18 December 2014 | 12:50

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Seleb yang Satu Ini Sepertinya Belum Layak …

Adjat R. Sudradjat | 9 jam lalu

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | 10 jam lalu

Menyoal Boleh Tidaknya Ucapkan “Selamat …

Dihar Dakir | 11 jam lalu

Presiden Jokowi Mesti Kita Nasehati …

Thamrin Sonata | 13 jam lalu

Pilot Cantik, Menawan, dan Berhijab …

Axtea 99 | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: