Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Dini Rosita

Saya ini seorang guru yang sedang belajar menulis.

Ingin jadi PNS apa Guru sih?

OPINI | 05 March 2012 | 07:48 Dibaca: 320   Komentar: 10   0

1330933608647826414

“Kalau niat awalnya ingin mendidik, jadi atau tidak jadi PNS seharusnya tidak masalah bukan? Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjadi Guru.”

Biarkan aku bernostalgia ke empat tahun silam, ketika akhirnya aku resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Sebuah pencapaian paling prestisius bagiku dan keluargaku kala itu yang ditandai dengan berlabuhnya selembar kertas berharga jutaan rupiah yang disebut ‘ijazah’ ke genggaman tangan. Saat itu terlintas dibenak akan masa depan yang terang benderang, dalam artian aku akan menjadi seorang pengajar dengan gaji dari pemerintah yang jumlahnya cukup menggiurkan. Aku memang begitu naifnya menganggap semua Sarjana Pendidikan yang menjadi guru akan secara otomatis menjadi PNS. Gambaran tentang PNS memang selalu buram di pikiranku. Tidak ada satupun dari silsilah keluargaku yang menyandang titel tersebut. Jadi wajar kalau sampai menginjak kampus pun aku tidak pernah mempunyai data valid mengenai seorang pegawai negeri sipil. Yang aku tahu hanya bahwa menjadi PNS berarti hidupmu akan ‘aman’.

Ternyata kenyataan hidup memang terkadang sungguh pahit. Betapa kecewanya aku ketika tahu ternyata untuk menjadi seorang PNS itu tidak sekedar masalah menjadi guru, tak peduli seberapa tinggi kompetensimu di bidang yang kamu geluti tersebut. Menjadi PNS itu berarti kamu harus melawan ratusan orang di sebuah tes yang diselenggarakan oleh pemerintah demi tempat yang terkadang bisa dihitung dengan jari. Menjadi PNS itu berarti salah satu antara keberuntungan atau keberanian. Belakangan aku tahu ternyata yang terakhir lah yang lebih banyak berbicara. Dan mungkin itu pula sebabnya akhir-akhir ini muncul slogan dalam Bahasa Jawa “wani piro?” yang makin lama makin populer sebagai bahan candaan. Sebuah humor sinis dari masyarakat kecil seperti aku.

Dan semuanya terbukti pada saat aku mengikuti tes yang akrab disebut tes CPNS tersebut untuk pertama kalinya. Kala itu aku melamar menjadi seorang guru Bahasa Inggris, satu-satunya hal yang aku pikir bisa aku lakukan dengan sangat baik, mengingat pencapaian yang aku raih di kampus. Dan dengan tingkat percaya diri yang tinggi, akhirnya aku maju ke medan perang. Semangat juang aku kobarkan, senjata aku genggam erat di tangan. Tapi bagaikan petir di siang bolong, alangkah kagetnya aku saat tahu ternyata yang harus aku kerjakan justru seratus soal psikotes. Oh tidaaaak! Bagaimana mungkin mereka bisa tahu kemampuanku kalau yang harus aku kerjakan adalah seratus soal ‘berandai-andai.’ Tidak ada simple past tense ataupun future tense, apalagi micro teaching. Aku pun mengerjakan soal-soal itu dengan asal. Memaksa otakku mengeluarkan jawaban dari soal yang tidak pernah diajarkan oleh para dosen di bangku kuliah dulu. Sejak saat itu aku kapok dengan yang namanya tes CPNS. Goodbye tes CPNS.

Kecewa? Sudah pasti. Apalagi setelah mendengar info dari berbagai sumber tentang betapa nyamannya hidup seorang PNS di negeri kita ini. Seolah nasib baik tiba-tiba dihapus dari garis takdirku. Namun beruntung kekecewaan ini tidak berumur panjang. Karena dari awal aku memang tidak kenal baik dengan konsep PNS yang sering digembor-gemborkan orang tersebut. Tak kenal maka tak sayang! Begitulah, saat impian menjadi PNS akhirnya melayang, aku tetap bisa santai. Kekecewaan menguap dengan cepat, dan yang pasti sudah mati keinginanku untuk berlomba di medan tes CPNS.

Selanjutnya aku runtut lagi semua dari awal. Aku suka mengajar, aku ingin menjadi guru. Pekerjaan ini adalah satu-satunya hal yang ingin dan bisa aku lakukan dengan hati. Dan untuk menjadi guru aku tidak perlu menjadi PNS dulu bukan? Akhirnya aku putuskan untuk mengajar di salah satu sekolah swasta. Disini hasratku akan dunia pendidikan akhirnya terpuaskan. Meskipun tidak menyandang gelar PNS, ternyata aku tetap bisa mendidik anak bangsa. Ada yang bilang mengajar itu adalah panggilan hati, sebuah pekerjaan mulia yang bisa dilakukan siapa saja meski tanpa embel-embel PNS. Itu memang benar. Sampai sekarang aku tetap bukan PNS, aku hanya seorang guru. Gaji yang aku terima pun tidak sebesar PNS, tapi aku bekerja tidak kalah profesional. Sekarang aku sadar, semuanya memang terletak pada tujuan awal, ingin jadi PNS, apa ingin jadi guru?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ini Curhat Saya dan Curhat Pak Ganjar …

Ratih Purnamasari | | 28 November 2014 | 07:28

Golkar Pecah, Diprediksi Ical Akan Kalah, …

Prayitno Ramelan | | 28 November 2014 | 06:14

Ditangkapnya Nelayan Asing Bukti Prestasi …

Felix | | 28 November 2014 | 00:44

Masih Perlukah Pemain Naturalisasi? …

Cut Ayu | | 28 November 2014 | 08:26

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08



HIGHLIGHT

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 7 jam lalu

Undangan Kopdar di Mataram dan Jambi …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Bias Patriakhi Wacana Pemotongan Jam Kerja …

Felix | 8 jam lalu

Anomali Tabiat Politik Aburizal Bakrie …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Catatan Lumpur dan Buku Potret Lumpur …

Kembang_jagung | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: