Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Maman A Rahman

Lahir di Subang. Belajar Filsafat dan Mistisisme di IAIN Jakarta dan Mengkaji Islam dan Psikologi selengkapnya

Menunggu Di Bawah Shirotol Mustaqim

REP | 07 March 2012 | 12:26 Dibaca: 6188   Komentar: 3   2

Siapa yang tidak tahu jembatan sirotol mustaqim? Hampir dipastikan umat muslim mengetahui cerita “keangkeran jembatan tersebut”. Bagaimana tidak angker, kalau di bawah jembatan tersebut terdapat neraka yang sangat panas.

Dalam keyakinan umat muslim, semua manusia akan melewati jembatan tersebut setelah kiamat kelak. Tidak ada orang yang bisa selamat melewati jembatan tersebut kecuali dengan amal baiknya. Konon diceritakan bahwa shirotol mustaqim sangat kecil dan digambarkan bagai sehelai rambut.

Cerita tersebut sering kita dengar dan bahkan sejak kecil. Cerita yang mungkin baru kita dengar adalah ternyata di bawah jembatan itu ada seorang manusia yang sangat mulia yaitu Nabi Muhammad saw. Apakah Nabi tidak bisa melewati jembatan tersebut sehingga terjatuh ke dalam neraka?

Cerita ini diperoleh dari keterangan seorang peceramah pada acara maulid Nabi di daerah Condet Balekambang Jakarta Timur. Penceramah bercerita, pada suatu ketika Aisyah, istri Rasulallah, bertanya kepada rasulallah dengan air mata menetes, “ya Rasulullah dimana kami dapat menjumpaimu kelak di akhirat?” Rasullalah pun menjawab dengan tenang “Aku dapat dijumpai di bawah jembatan sirotol mustaqim” beliau melanjutkan “jika aku tidak ada disana, cari aku di tempat timbangan amal baik buruk manusia”.

Aisyah pun mengeryitkan dahinya seraya bertanya “mengapa Rasulullah ada di kedua tempat tersebut?” Rasulullah pun menjelaskan, umatku akan melewati jembatan sirotol mustaqim dan banyak yang tidak bisa melewatinya sehingga terjatuh ke dalam api neraka, meskipun aku sudah melarang untuk jatuh tetapi mereka banyak yang berjatuhan. Aku tidak bisa membiarkan mereka terpanggang panasnya api neraka, aku meraih meraka satu persatu untuk menolongnya.”

Aisyah mendapat penjelasan Rasulullah seperti itu semakin tak tahan air matanya keluar, begitu besar kecintaan dan kepedulian Rasulullah kepada ummatnya. Aisyah pun bertanya lagi, lalu mengapa Rasulullah berada pada tempat timbangan amal baik buruk manusia? Rasulullah pun melanjutkan penjelasannya. “Aku berada di tempat itu untuk melihat timbangan amal baik-buruk umatku, jika ada umatku yang timbangan amal buruknya lebih berat ketimbang amal baiknya, aku akan menyimpan kartu di timbangan amal baiknya hingga amal baiknya lebih berat”.

Mendengar penjelasan Rasulullah tersebut, Aisyah secara kritis bertanya “apa yang Rasulallah tambahkan dalam timbangan amal baik umat tersebut?”.  Rasulullah pun kembali menjelaskan “aku menambahkan apa yang telah umatku lakukan yaitu mengucapkan shalawat kepadaku. Apa yang mereka ucapkan aku kembalikan kepada mereka”.

Demikian hikmah maulid yang telah disampaikan oleh seorang penceramah di  Mushola al-Barkah Balekambang. Dialog dalam tulisan ini, tidak persis sama dengan apa yang disampaikan oleh penceramah. Tetapi itu yang dapat saya tangkap. Semoga bermanfaat.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Generasi ‘Selfie’: Bisakah Diandalkan? …

Fandi Sido | | 17 April 2014 | 11:02

Final BWF World Junior Championship 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 17 April 2014 | 22:38

Di Saat Tidak Ada Lagi yang Peduli dengan …

Thomson Cyrus | | 17 April 2014 | 17:39

Jalur Linggarjati Gunung Ciremai Nan Aduhai …

Agung Sw | | 18 April 2014 | 01:24

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Manuver Amien Rais Menjegal Jokowi? …

Pecel Tempe | 7 jam lalu

Jokowi di Demo di ITB, Wajarkah? …

Gunawan | 16 jam lalu

Pernyataan Pedas Jokowi Selama Nyapres …

Mustafa Kamal | 16 jam lalu

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 17 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 17 April 2014 06:59

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: