Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Noviana Tri Lestari

aku mahasiswi PGSD UNS KAMPUS VI KEBUMEN

Landasan Filosofis Manajemen Berbasis Sekolah Secara Umum

REP | 12 March 2012 | 22:00 Dibaca: 924   Komentar: 0   0


Manajemen berbasis sekolah pada intinya adalah memberikan kewenangan terhadap sekolah untuk melakukan pengelolaan dan perbaikan kualitas secara terus menerus.

Landasan filosofis MBS secara umum adalah cara hidup masyarakat. Landasan munculnya MBS yang berasal dari kehidupan masyarakat diantaranya:

a. Pendidikan nilai yang ada dalam kehidupan masyarakat yaitu nilai – nilai kebersamaan yang bersumber dari nilai sosial budaya yang terdapat di lingkungan keluarga dan masyarakat serta pada pendidikan agama.

MBS merupakan salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mengakomodasi pendidikan nilai. Pendidikan kewarganegaraan dan agama sangat penting untuk menumbuhkembangkan tanggungjawab bersama didalam kehidupan suatu masyarakat(baik secara local, nasional, regional, global). Nilai-nilai spiritual diperlukan untuk menyempurnakan kesejahteraan manusia di dunia dan alam sesudahnya sehingga kehidupan lebih bermakna. Nilai-nilai lokal tercermin dalam nilai social budaya setempat yang diwujudkan dalam bentuk tata krama pergaulan, model pakaian, seni. Nilai-nilai nasional berkaitan erat dengan penerapan kaidah-kaidah sebagai warga Negara yang baik yang menjunjung tinggi kebangsaan. Kedua nilai tersebut membentuk budi pekerti dan keperibadian yang kuat, hanya dapat dikembangkan melalui manajemen yang berbasis sekolah dengan dukungan masyarakat. Manajemen berbasis sekolah dengan dukungan masyarakat berupaya memperkuat jati diri peserta didik dengan nilai social budaya setempat, mensinergikannya dengan nilai-nilai kebangsaan serta nilai-nilai agama yang dianut.

b. Kesepakatan-kesepakatan yang diberlakukan dalam kehidupan masyarakat

Maksudnya adalah kesepakatan atas pranata sosial yang berlaku dalam masyarakat. Dengan kata lain maka segala bentuk perubahan harus melibatkan masyarakat setempat agar semuanya lancar sesuai harapan. Tuntutan penerapan MBS semakin nyata seiring dengan perubahan karakteristik masyarakat. Perubahan dalam bidang social, ekonomi, hukum, pertahanan, keamanan, secara nasional, regional, maupun global, mendorong adanya perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki siswa. Artinya telah terjadi perubahan kebutuhan siswa sebagai bekal untuk terjun ke masyarakat luas dimasa mendatang dibandingkan dengan masa lalu. Oleh karena itu, pelayanan terhadap siswa, program pengajaran, dan jasa yang diberikan kepada siswa juga harus sesuai dengan tuntutan baru tersebut. Secara umum perubahan lingkungan menuntut adanya pola kebiasaan dan tingkah laku baru oleh semua pihak. Untuk menyesuaikan keadaan tersebut dibutuhkan adanya reformasi dalam pendidikan, salah satunya dengan MBS.

MBS sebagai bentuk upaya alternatif dalam pendidikan.akan berjalan dengan baik jika lingkungan mendukung untuk diadakannya reformasi. Akar reformasi merupakan landasan filosofis yang tak lain bersumber dari cara hidup(way of life) masyarakatnya. Oleh karena itu, untuk suksesnya reformasi pendidikan harus berakar pada cara dan kebiasaan hidup warganya. Tanpa mempedulikan cara dan kebiasaan hidup warganya maka reformasi pendidikan tidak akan mendapat sambutan apalagi dukungan dari segenap lapisan masyarakat. Maksudnya jika ingin reformasi pendidikan itu sukses maka reformasi tersebut harus berakar pada cara dan kebiasaan hidup warganya. Seandainya reformasi itu peduli terhadap cara dan kebiasaan warganya maka reformasi tersebut akan mendapat dukungan dari segenap lapisan masyarakat.

Unsur lain dari reformasi pendidikan adalah keterlibatan orang tua siswa dan keterlibatan masyarakat untuk menentukan misi sekolah yang dapat diterima dan bernilai bagi masyarakat setempat. Segala keputusan yang diambil oleh pihak sekolah harus melibatkan atau memusyawarahkan keputusan tersebut kepada orang tua siswa atau masyarakat. Hal ini dikarenakan agar siswa dapat mencapai kompetensi yang ditetapkan dan dapat merespon dengan tepat dan cepat keinginan masyarakat, baik yang menyangkut pengembangan dan pengayaan kognitif siswa, keterampilan maupun sikap sesuai dengan aspirasi yang berkembang dilingkungannya. Dalam mewujudkan hal itu maka sekolah harus diberi kewenangan yang lebih luas untuk mengambil keputusan yang didukung oleh masyarakat(diantaranya orang tua murid). Pemberian kewenangan kepada sekolah didalam pengambilan keputusan itulah yang merupakan hakikat MBS. Oleh karena itu, pelaksanaan MBS seyogyanya benar-benar melibatkan masyarakat dan memberdayakan peranserta masyarakat sekitar.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tangan Terampil Ini Mengantarkan Batik Solo …

Suci Handayani | | 30 March 2015 | 09:53

Seru! CFD Pertama di Jakarta Bersama …

Lastboy T | | 30 March 2015 | 10:10

[UPDATE] Nangkring Hulu Migas: Peningkatan …

Kompasiana | | 26 March 2015 | 12:44

Moto GP 2015 Losail Qatar: Kemunculan Liyan …

Asep Wijaya | | 30 March 2015 | 08:27

Pesan Gelap Pembunuhan di Stasiun Kereta …

Harry Ramdhani | | 30 March 2015 | 11:05


TRENDING ARTICLES

BBM Mau Naik Lagi? Tanya ke Jokowi …

Abd. Ghofar Al Amin | 4 jam lalu

Bangga Menjadi Tersangka Korupsi, Belajar …

Sang Pujangga | 4 jam lalu

Tawa Lega Tim Angket Ahok …

Axtea 99 | 5 jam lalu

Gagal Dipanggil Tim Angket, Ahok: Itu Lucu! …

Imam Kodri | 11 jam lalu

Lucunya Breaking News PKSpiyungan Ini …

Gatot Swandito | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: