Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Noviana Tri Lestari

aku mahasiswi PGSD UNS KAMPUS VI KEBUMEN

Mengapa Harus Pembelajaran Terpadu?

REP | 13 March 2012 | 02:20 Dibaca: 497   Komentar: 1   0

Dalam menjalani setiap kegiatan hidup, selalu berawal dari impulsi karsa, dan pertimbangan rasa, dan menurut keputusan cipta. Karena itu, masalah pendidikan adalah proses bagaimana ketiga potensi kodrat manusia itu dikembangkan secara dinamis dan berimbang. Untuk mencapai sasaran itu, proses pendidikan harus dilangsungkan dari taraf individual sampai taraf sosial seluas-luasnya. Jadi pendidikan berproses didalam diri pribadi seseorang, keluarga, masyarakat lokal, nasional, regional, sampai taraf internasional.

Penyelenggara pendidikan khususnya pembelajaran di kelas-kelas sekolah dasar sampai saat ini lebih menekankan pada pendekatan managerial administrasi. Pendekatan ini menekankan pada penyelesaian program pembelajaran, pelaporan, bersifat budjed oriented, hubungan kerja secara vertical yang ditunjukan dengan pemesanan dan perancangan oleh atasan dan dilaksanakan oleh bawahan. Hal ini dibuktikan dengan penyusunan rancangan semester yang dilaksanakan secara kaku, penyusunan satuan pelajaran yang dikoorsinir oleh Kantor Depdikbud Kabupaten, walaupun disadari karakteristik tiap sekolah dasar berbeda. Akibat yang ditimbulkan adalah pengabaian kepentingan minat dan kebutuhan murid sebagai subjek didik dan lingkungan yang pada akhirnya pendidikan dan pembelajaran bukan sebagai wahana pengembangan potensi anak tetapi penyelenggan suatu paket pembelajaran. Hal ini terjadi karena guru hanya memikirkan penyelesaian program sesuai tuntutan atasan, sehingga mereka takut untuk mengembangkan idenya.

Pemikiran guru seperti ini adalah tipologi guru Indonesia sekarang ini dan sudah berlangsung sangat lama, sehingga mereka kebanyakan mengabaikan aspek psikologis anak sebagai subjek pendidikan. Dalam penyelenggaraan pembelajaran, guru bukan berorientasi membantu perkembangan anak seoptimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimiliki, hal ini disebabkan adanyua pembatasan-pembatasan yang tidak bernuansa administrative. Pembelajaran dilaksanakan guru sebagai suatu rutinitas yang berorientasi penyelesaian materi. Guru adalah pelaksana pembelajaran di kelas dengan seluruh kebijakan telah diatur secara tertulis maupun tak tertulis. Suasana kelas menjadi arena show guru yang bertugas memerankan penyelesaian program.

Pembelajaran yang dikemas oleh seorang guru harus dikemas sebaik-baiknya agar seluruh potensi yang ada pada diri siswa berkembang sesuai tingkat perkembangan mereka. Strategi yang digunakan untuk upaya tersebut secara sistematis perlu memperhitungkan hubungan kurikulum dan proses pembelajaran dengan: karakteristik murid sekolah dasar, tuntutan pembentukan pengalaman, pemahaman, dan ketrampilan secara utuh, megadakan refleksi yang dapat membuahkan pengembangan pemahaman melalui proses belajar individual dan kelompok, serta teraktualisasinya beberapa dampak pengiring yang mengembangkan pemahaman, keterampilan, dan sikap siswa.

Harus dicari suatu inovasi dalam pembelajaran guna mencapai cita-cita pendidikan. Inilah yang melatar belakangi munculnya pembelajaran terpadu di sekolah dasar. Pembelajaran akan lebih bermakna menggunakan pendekatan terpadu, karena pembelajaran terpadu memberikan kesempatan pada peserta didik untuk belajar sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Pembelajaran terpadu didasarkan pada tiga konsep tentang proses belajar anak yaitu: anak-anak tidak membedakan antara bidang-bidang pelajaran, anak memandang bidang mata pelajaran sebagai sesuatu yang berkaitan secara keseluruhan; pembelajaran terpadu berdasarkan pada konsep bahwa berbagai mata pelajaran dapat digunakan untuk meningkatkan belajar; pembelajaran terpadu berdasarkan metode mengajar induktif, yang menghubungkan berbagai kegiatan dengan topic tertentu yang diintegrasikan ke dalam satu kesatuan. Pembelajaran terpadu memungkinkan peserta didik menggunakan ketrampilan-ketrampilan dalam suatu mata pelajaran dengan cara yang bermakna.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 13 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Tentang Peringatan di Dinding Kereta …

Setiyo Bardono | 7 jam lalu

Musik Adalah Hidup …

Nitami Adistya Putr... | 7 jam lalu

Dilema Struktur Kabinet …

Yanuar Nurcholis Ma... | 7 jam lalu

Untuk Anak-anakku di Negeri Hijrah …

Gayatri Shima | 8 jam lalu

Pengalihan Subsidi BBM …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: