Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Maruntung Sihombing

Berpikir kritis dan menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila

Menggugah Sensitifitas Mahasiswa Kekinian?

OPINI | 15 March 2012 | 15:31 Dibaca: 120   Komentar: 0   0

Tak satupun orang membantah kalau dunia kampus diplot menjadi tempat dan sarana untuk melahirkan manusia-manusia yang kelak menjadi orang-orang berintelektual, berintegritas, dan punya karakter unggul. Namun sangat disayangkan ketika dunia kampus malah beralih fungsi menjadi tempat-tempat praktek peretak keadilan dan pengabur hakikat pendidikan itu sendiri. Pendidikan itu seyogianya tempat mencari orang-orang terdidik, orang-orang jujur, orang-orang yang tangguh dan unggul baik secara pengetahuan maupun hati nurani. Ironis malah disisi lain kita asyik dipertontonkan dengan praktek-praktek gak benar. Tak pelak, ini menjadi santapan kita sepanjang harinya. Pertanyaan, sampai kapan kita membiarkan masalah yang demikian? Diamkah, atau malah menerima kenyataan apa adanya. Hemat pendapat saya bahwa pendidikan kampus saat ini telah menjelma menjadi dunia gelap yang berubah menjadi pemasung keidealisan, peredam kebenaran dan pemangsa kejujuran mahasiswa.

Kita sebut saja, buka diktat yang dikonotasikan negatif menjadi diktator (jual diktat, beli motor). Kalau kita boleh berkata jujur dan mengkalkulasikan dengan matematika sederhananya apakah betul buku diktat yang dibagikan dosen sebanding dengan harga yang sebenarnya. Belum lagi ada beberapa buku diktat hanya plagiatan dari beberapa kepustakaan buku yang sudah ada sebelumnya. Kemudian dijilid menjadi satu buku dan dibadrol dengan harga yang membungbung tinggi. Luar biasa, bukan? Kita menyadari bahwa kampus tentu bukan “pajak” yang mempersoalkan untung dan rugi atau bank atau kantor perpajakan dimana uang berada, tetapi tempat dimana kita sama-sama memahami hakikat pendidikan yang sebenarnya. Masalah yang kedua adalah otonomi dosen yang sering merugikan mahasiswa. Otonomi artinya berdiri sendiri. Dalam hal ini, dosen sering memaksakan kehendak “semau gue”, tanpa memandang dan melihat si mahasiswanya menerima atau tidak materi pelajaran yang diberikan.

Hak pregoratif dosen ini bahkan tak dapat ditembus oleh siapapun walaupun pada faktanya dia benar-benar melukai hak si mahasiswa. Nah, disini tentu masih ada egosentrisme yang masih melilit dan menggunung dalam diri setiap dosen. Zona nyaman dengan model “semau gue” yang diterapkan dosen semata-mata hanya mencari keuntungan semata-mata. Problema yang ketiga adalah tentu menjurus pada mahasiswa yang berada ditingkat akhir. Dimulai dari kegiatan seminar proposal, sidang dan meja hijau yang kerap kali dipungut oleh biaya-biaya yang tak jelas arah dan tujuannya. Tentu kita akan bersedia memenuhi pungutan berapapun itu asal jelas tranparansinya kemana. Nah, melihat masalah ini sejauh mana kita menyikapi sebagai mahasiswa yang katanya kaum intelektual dan kaum terdidik? Apakah kita akan tetap dikerangkeng dengan praktek miring demikian atau malah mengubur marwah kita sebagai mahasiswa yang berfungsi sebagai agent of change? Kita yakin, intervensi yang berujung kepada nilai akademik dan mempersulit si mahasiswa dalam segi administrasi tidak menyurutkan langkah dan idealisme kita sebagai mahasiwa. Tuhan memberkati mahasiswa tingkat awal dan akhir. Salam perjuangan!

“Diam Ditindas, Bangkit Melawan”

“Orang yang tidak tahu hak dan kewajibannya, akan kebanyakan “diam” dibanding dengan mahasiswa yang tahu hak dan kewajiban”.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 3 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 8 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 10 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Si Belang, Si Nenek, dan Barang Bekasnya …

Ulfah Fa'izah N... | 7 jam lalu

Tips Bepergian Backpacking …

Rizal Abdillah | 7 jam lalu

Saudis Gay “Luthiy” …

Ali Uunk | 7 jam lalu

Tangisnya Danum …

Hozrin Hilmo | 7 jam lalu

Project Sophia: Memutus Benang Konflik …

Jafar G Bua | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: