Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Fay Shalamar

Fay Shalamar was an new writer that's loves many literature.

Dilematis Tutor PAUD

OPINI | 16 March 2012 | 19:21 Dibaca: 414   Komentar: 2   0

13318903951802718979

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai saat ini masih menjadi program utama dari DINAS PENDIDIKAN. Malah angka perkembangan lembaga PAUD semakin bertambah dan perhatian masyarakat akan PAUD kian marak.

Pencanangan program PAUD adalah bentuk gebrakan pemerintah dalam meningkatkan mutu kualitas anak bangsa. Sebagai perhatian akan kesulitan masyarakat yang 75% adalah menengah ke bawah yang ingin menyekolahkan anak-anaknya sejak usia dini, sedang biaya untuk memasukan anak ke TK sangat tinggi, jauh lebih mahal memasukan anak ke TK ketimbang ke SD. Sebagai program pencanangan tentulah sudah sangat bagus. Namun secara manajemen masih kurang.

Contohnya di DKI, perwilayah memiliki HIMPAUDI masing-masing dengan kebijakan masing-masing, sehingga tidak ada penyetaraan. Akibatnya setiap ada info untuk para tutor PAUD setiap wilayah berbeda-beda ketentuan, ada yang mudah, ada yang sulit. Ada yang membagi dengan merata, ada yang sesuka hati HIMPAUDI-nya.

Bicara masalah tutor PAUD tentulah akan membicarakan apa sumbangsih pemerintah pada para tutor PAUD yang pada sedianya adalah relawan. Namun tetap serela-relanya, pekerjaan yang dilakukan para tutor PAUD dua kali lebih berat dari pada relawan pada umumnya. Tutor PAUD dituntut untuk mengajar anak setiap hari dari jam 8-11 pagi tergantung kebijakan masing-masing PAUD. Kemudian tentu harus mengajar sesuai dengan kurikulum yang berlaku dari DIRJEN PENDIDIKAN. Dengan demikian tentulah membutuhkan pembekalan-pembekalan bagi para tutor PAUD karna pada dasarnya mengajar anak usia dini tidak dapat sembarangan. Namun seberapa jauhkah perhatian pemerintah kepada para tutor PAUD?

Setiap tahun sesuatu yang selalu saja membuat para tutor harap-harap cemas adalah insentif dari pemerintah yang pada tahun 2011 kemarin sebesar Rp. 1.200.000,-/tahun. Itu pun masih dipotong pajak, belum lagi harus dibagi dengan tutor yang lain apa bila dalam sebuah lembaga PAUD tutor yang mendapatkan insentif hanyalah 2 orang. Coba banyangkan! Berapa besar insentif perbulannya jika dibagi 12 bulan? Ya! Jumlahnya Rp. 100.000,-, lebih rendah dari upah PRT. Padahal kinerja tutor PAUD lebih berat ketimbang PRT karna mengajar dengan kesungguhan mental seorang guru. Ironis.

Seperti yang sudah disinggung di atas, belum tentu dalam satu PAUD pun setiap tutornya mendapat insentif tersebut. Kalau tutornya 4 orang yang dapat hanya dua orang, ya mau tidak mau insentif tersebut harus dibagi rata. Hal ini selalu menjadi permasalahan paling sensitif yang memicu pertikaian dalam kekompakan sebuah lembaga. Karna pastinya sesuatu ingin dibagi rata, tapi toh tidak merata. Padahal untuk mendapatkan insentif seorang tutor harus menyerahkan berkas-berkas dengan segala macam tetek bengeknya dan minimal penerima harus berpendidikan akhir SMA. Sedang untuk sumber daya tutor masih minim. Tidak semua orang mau mengajar di PAUD dengan pertimbangan tidak dibayar pun harus mengajar begitu banyak anak setiap harinya. Apa yang didapat? Amalan? Doa dari anak? Terlalu naif. Kebanyakan tutor relawan adalah ibu-ibu rumah tangga yang mau meluangkan waktunya untuk berbagi, namun pada akhirnya menjadi pengajar PAUD bukanlah sekedar berbagi.

Tahun ini pemerintah menjanjikan peningkatan jumlah bantuan dengan jumlah Rp. 2.000.000,-/tahun. Tetap dengan ketentuan yang tetek bengek, namun kembali untuk kuota tutor PAUD yang akan mendapatkan insentif berjumlah terbatas. Di Jakarta Pusat contohnya, dari sekitar 1000 orang tutor, yang akan mendapat hanyalah 636 tutor saja. Entah bagaimana pembagian kuota akan diserahkan pada kebijakan pemerintah. Namun sedianya pemerintah bisa menyadari betapa mulianya kinerja seorang tutor PAUD. Seikhlas-ikhlasnya seorang tutor pemerintah harusnya dapat memberikan perhatian lebih dari sekedar uang sejumlah tersebut. Sedianya pemerintah haruslah memikirkan peningkatan taraf hidup bagi para pengajar PAUD yang juga bekerja keras dalam membentuk kecerdasan anak-anak bangsa. Penulis berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih baik lagi kepada para tutor dari hanya sekedar insentif pertahun tersebut dengan banyaknya pertimbangan yang ada bagi seorang tutor PAUD.

Tags: paud

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Paser Baroe, Malioboronya Jakarta …

Nanang Diyanto | | 24 November 2014 | 14:09

Catatan Kompasianival: Lebih dari Sekadar …

Ratih Purnamasari | | 24 November 2014 | 13:17

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Pak Mendikbud: Guru Honorer Kerja Rodi, Guru …

Bang Nasr | | 24 November 2014 | 11:48

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 5 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 8 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Resensi Buku “Beriman di Arus …

Elisabeth Meilinda | 8 jam lalu

Nikmatnya Pergaulan Bebas …

Lala Anggraini | 8 jam lalu

Komunikasi Orang Tua dan Remaja Macet? …

Endah Soelistyowati | 8 jam lalu

Meladeni Tantangan Thamrin Sonata di …

Tarjum | 9 jam lalu

Mari Berpartisipasi Berbagi bersama Sanggar …

Singgih Swasono | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: