Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Betong Dangka

Lahir di Elar, Manggarai - Flores pada tgl 10 Juni SD di Elar, SMP & selengkapnya

Sebuah Catatan Toleransi dari Perjalanan ke Timur Tengah

REP | 26 March 2012 | 06:58 Dibaca: 454   Komentar: 4   1

Beberapa waktu lalu, tepatnya minggu terakhir bulan Februari sampai minggu pertama bulan Maret 2012, saya berkesempatan mengikuti wisata rohani ke beberapa tempat di Timur Tengah, yakni di Yordania, 6 hari di Israel-Palestina dan terakhir sebelum pulang ke Indonesia kami menghabiskan waktu tiga hari di Mesir. Saya bersama rombongan menggunakan Rosari T & T di Jakarta. Di samping saya merasa sangat puas dan senang dengan route perjalanan serta paket-paket kunjungan selama hari-hari tour tersebut, saya juga mendapat pengalaman dan pelajaran sangat berharga tentang toleransi hidup beragama di negara yang selama ini saya tahu dari pemberitaan di Indonesia, sangat bergejolak dan selalu diwarnai konflik bernuansa agama.

Selama berada baik di Israel-Palestina, maupun di Mesir, saya selalu berusaha berkomunikasi dengan beberapa warga setempat tentang kondisi kehidupan beragama di sana. Dari percakapan dan pengalaman saya sendiri selama perjalanan itu, beberapa hal yang menurut saya penting untuk dicatat:

Pertama, beberapa hari berada di Israel-Palestina, kehidupan  masyarakat di sana terkesan aman, damai dan sangat toleran. Ketika berada di Jerusalem, saya melihat banyak orang Arab-Muslim, Arab-Kristen, Yahudi-Kristen, dan Yahudi, dan mereka hidup berdampingan dengan sangat rukun. Dari beberapa percakapan singkat dengan beberapa orang, saya mendengar bahwa mereka merasa sangat nyaman dalam hidup, beragama dan pekerjaan mereka.

Kedua, dari beberapa informasi, bahwa Perayaan Natal di Palestina bukanlah sekedar perayaan keagamaan bagi orang Kristen, tetapi merupakan perayaan Nasional di Palestina. Dan Pemimpin Otorita Palestina yang beragama Muslim hampir selalu hadir dalam Misa Natal di Bethlehem.

Ketiga, hal yang menarik dari sebuah obrolan singkat saya dengan seorang driver Arab-Muslim ketika berada di Nasareth yang adalah wilayah Otorita Palestina, tentang kehidupan beragama mereka dan tentang pemberitaan media seolah-olah setiap hari terjadi konflik antara Israel dan Palestina yang lebih banyak diidentikkan dengan konflik antara Yahudi dan Islam. Dia menjawab, “itu soal politik, tidak ada hubungannya dengan agama; dan itu urusan politik dan kerjaan orang politik.”

Keempat, sebagai suatu gambaran, ketika berada di Bethlehem, yang adalah wilayah Otorita Palestina, saya bertanya kepada pemandu perjalanan tentang komposisi penduduk di Bethlehem, dan dia memberikan informasi bahwa dari sekitar 32 ribu sampai 33 ribu penduduk kota Bethlehem, ada 16 ribu sampai 17 ribu adalah penganut agama Kristen. Saya sempat heran, karena di Indonesia saya selalu mendengar Palestina selalu diidentikkan dengan Islam.

Kelima, hampir di semua kota, baik di Israel maupun di wilayah Otorita Palestina, bangunan Gereja dan Mesjid berdampingan. Lalu saya bertanya dalam hati, apakah ini pertanda mereka hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati…

Keenam, ada beberapa tempat suci di Israel-Palestina adalah merupakan tempat suci bersama antara Kristen dan Muslim, misalnya tempat Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir bersama murid-murid-Nya, tempat Yesus naik ke Surga, dan beberapa tempat lainnya.

Ketujuh, ketika beberapa hari berada di Mesir, saya pun menemukan hal yang hampir sama. Ketika sampai di puncak gunung Sinai, saya menemukan sebuah Gereja dan sebuah Mesjid di sana. Di Cairo saya menemukan di banyak tempat Gereja Katolik Koptik berdampingan dengan Mesjid.

Kedelapan, ketika di Mesir, saya sempat bertanya kepada beberapa orang, termasuk kepada pemandu yang adalah orang Mesir, tentang konflik terakhir di Mesir yang sempat beberapa Gereja dibakar. Semua penjelasan dan cerita yang saya dapat hampir sama, bahwa “itu kerjaan orang dari luar Mesir; di Mesir selama berabad-abad orang Katolik dan Muslim selalu hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati”.

Kesembilan, baik di Israel-Palestina maupun di Mesir, saya melihat wanita-wanita masuk Gereja untuk menghadiri Misa mengenakan jilbab. Sebagai orang Indonesia saya sempat kaget awalnya, karena di Indonesia, yang saya tahu jilbab adalah pakaian khas muslimah. Ternyata di sana, jilbab dan sorban serta jubah panjang untuk laki-laki adalah kostum khas padang-pasir untuk melindungi orang dari kondisi cuaca yang sering kali berubah drastis dari panas sekali ke dingin sekali.

Dari pengalaman perjalanan yang singkat itu, saya bertanya kepada diri sendiri, “mengapa di Indonesia selalu mengidentikkan persoalan di Timur Tengah sebagai persoalan agama dan konflik antar agama ? Mengapa hubungan antar manusia di Indonesia selalu diwarnai pengkotak-kotakan berdasarkan agamanya?  Apakah itu juga sebenarnya hanya kepentingan politik dan kerjaan orang politik seperti kata Supir di Nazareth?

Saya sungguh bersyukur boleh mengalami pengalaman ini, yang mencerahkan iman saya tetapi sekaligus pikiran dan cara pandang saya.

Semoga bermanfaat …

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Produk Indonesia di Tengah Konflik Rusia dan …

Syaripudin Zuhri | | 02 September 2014 | 08:42

Koalisi Merah-Putih Terus Berjuang Kalahkan …

Musni Umar | | 02 September 2014 | 06:45

Serunya Berantas Calo Tiket KA …

Akhmad Sujadi | | 02 September 2014 | 05:55

Tepatkah Memutuskan Jurusan di Kelas X? …

Cucum Suminar | | 01 September 2014 | 23:08

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 1 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya ,serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 6 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Yakitori, Sate ala Jepang Yang Menggoyang …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

Sebuah Cinta Berusia 60 Tahun dari …

Harris Maulana | 8 jam lalu

Yohanes Surya Intan Terabaikan …

Alobatnic | 8 jam lalu

Mengukur Kepolisian RI Dari Kuching …

Abah Pitung | 8 jam lalu

Xiaomi RedMi 1S “Hajar” Semua Brand …

Andra Nuryadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: