Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Daniel Simanjuntak

Senang Mengajar dan Belajar

Sekolah Berstandar Internasional Part 2

OPINI | 03 April 2012 | 18:20 Dibaca: 288   Komentar: 7   2

Banyak sekali orang tua bangga menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang didepan gedungnya dan di setiap lembar surat menyuratnya “dengan berani” menyantumkan label “Sekolah Berstandar Internasional”. Sebenarnya banyak diantara orangtua tersebut yang sangat awam dengan kriteria “sekolah Berstandar Internasional”. Dengan bangga hanya dengan sederatan tulisan berbahasa asing dan sejumlah guru-guru yang berambut pirang, yang sering sekali keberadaan dan keabsahan mereka menjadi guru wajib dipertanyakan, mereka memamerkan kepada rekan-rekan searisan dan sekantor mereka yang bertanya tentang dimana anak-anak mereka disekolahkan.

Sekolah berstandar Internasional menjadi sangat mudah sekali ditemukan bahkan dipinggir-pinggir kota dan di sekitar ruko-ruko perumahan besar. Ironisnya hal ini terjadi karena pendidikan kita memang telah nyata mengikuti arus kapitalisme dan liberalisme yang menjadi agama hampir semua negara.

Sekolah Berstandar Internasional yang mengandalkan kepada bahasa asing dan wajah-wajah bule nan pirang sudah sangat banyak sehingga sangat mudah untuk ditemukan di negara ini. Yang meski dengan sombong dan cukup berani memamerkan diri sebagai sekolah Internasional ataupun berstandar Internasional. Namun ternyata banyak sekali diantara sekolah-sekolah tersebut belum mengantongi Surat Resmi sebagai pengakuan dari pemerintah sebagai sekolah berstandar internasional. Padahal mereka harusnya sadar ketika hal ini diangkat maka status mereka akan sangat mempengaruhi keberadaan mereka di masa depan.

Sekolah-sekolah seperti ini tidak mempunyai visi dan misi yang jelas sehingga setiap output yang dihasilkan merupakan sesuatu yang ujicoba, tidak unggul, jauh dari masyarakat yang seutuhnya. Sebagai pengajar yang juga pernah mengajar di sekolah-sekolah yang sering sekali menyamar sebagai “sekolah berstandar internasional” saya merasa berkewajiban untuk mengingatkan orangtua-orangtua yang mau menyekolahkan anak-anaknya agar jangan terlena dengan tulisan bahasa asing dan rambut pirang karena belum tentu hasil yang diperoleh setimpal dengan uang yang anda keluarkan untuk menyekolahkan anak-anak ke sekolah tersebut.

Bahkan ada sekolah yang sangat merasa Internasional namun sangat jauh dari kriteria internasional, tidak hanya dari profesionalitas dan kompetensi tenaga pengajar namun juga dari segi lain seperti sarana prasarana, sistem, kualitas service dan lain-lain.

Di sekolah seperti tersebut kemampuan bahasa asing yang standar merupakan skill yang penting bagi mereka ketimbang kompetensi guru dalam mengajar dan mendidik murid. Sayangnya setiap orang yang sudah menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut menjadi merasa terjebak dan tidak bisa keluar karena sudah mengeluarkan dana demikian besar…. berlanjut

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 12 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 12 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 13 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 13 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: