Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Liszton Indrajaya

Seorang antagonis dalam karya sastra Tuhan.

Pemahaman Hukuman Seumur Hidup

OPINI | 10 April 2012 | 04:25 Dibaca: 1759   Komentar: 0   0

Lagi-lagi saya dapat ilham tpik tulisan dari obrolan di warung makan. Sambil menikmati makan pagi yang terlalu terlambat, saya mengobrol dengan seorang teman muali dari topik entak apa hingga hingga topik yang lumayan menarik, hukuman seumur hidup. Saya pun jadi lebih antusias saat teman saya menyinggung tentang hal tersebut. Sambil menyeruput es teh, saya pun mendengarkan.

Sayangnya, hasil dari perkataan teman saya membuat saya mengerutkan dahi. Teman say ternyata kurang paham terhadap apa yang dikatakannya. Tentulah semua orang pernah mendengar tentang hukuman yang satu ini tetapi kebanyakan dari mereka kurang paham terhadap pemahamannya Teman saya salah satunya. Menurutnya, hukuman seumur hidup bererti dia dikenai hukuman sepanjang umur/usia pelaku saat itu. Misalnya umurnya 20 tahun berarti dia dipenjara selama 20 tahun. Kalau umurnya waktu itu 50 tahun, dia dipenjara selama 50 tahun. Maaf ya teman, tapi itu salah.

Pemahaman yang benar tentang hukuman seumur hidup adalah hukuman yang dijatuhkan kepada seorang terdakwa sepanjang hidupnya. Kalau disederhanakan sama artinya dia mendekam dipenjara sampai dia menemui ajal atau sampai mati. Jika selama masa hukumannya dia tidak mendapatkan potongan masa tahanan seperti grasi atau remisi, seamanya dia berada dipenjara.

Sejara logika dan melihat dari sisi keadilan pun mengatakan demikian. Misalnya ada dua orang terdakwa tindak kejahatan yang sama dengan motif dan modus kejahatan yang sama contohnya Si Amir dan Si Bejo. Amir saat kena vonis berusia 20 tahun sedangkan Bejo 50 tahun. Mereka melakukan kejahatan yang sama dan keduanya di vonis hukuman seumur hidup. Jika pemahaman yang digunakan adalah pemahaman teman saya, lalu dimana letak sisi keadilannya? Amir hanya akan dikenai hukuman selama 20 tahun sedangkan Bejo 50 tahun. Lalu bagaimana kalau yang kena hukuman seumur hidup adalah kakek-kakek berusia 70 tahun? Nah lho.

Semoga tulisan ini bisa memperbaiki pemahaman banyak orang mengenai hukuman seumur hidup karena saya yakin bukan hanya teman saya saja yang kurang paham tetapi banyak orang termasuk Guru PPKN saya semasa SMA dulu. Mudah-mudahan beliau baca tulisan ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 17 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 17 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 18 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Gayatri Dwi Wailissa, Anggota BIN yang Gugur …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

MEA 2015; Bahaya Besar bagi Indonesia …

Choerunnisa Rumaria | 8 jam lalu

Bersenang-Senang dengan Buku …

Mauliah Mulkin | 8 jam lalu

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Depok …

Syaiful W. Harahap | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: