Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Usman Kusmana

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan selengkapnya

Apa Pentingnya Ujian Nasional?

REP | 13 April 2012 | 15:34 Dibaca: 2371   Komentar: 12   1

Ujian memang menjadi sebuah keniscayaan dalamĀ  pendidikan apapun. Jika kita belajar di sekolah untuk naik kelas, kita harus melewati serangkaian ujian. Ujian (ulangan) rutin per materikah, ujian tengah semesterkah, ujian akhir semesterkah, dengan hasil ujian (ulangan) itu dicantumkan dalam nilai tertentu yang diakhir semester dalam bentuk raport. Prestasi belajar siswa secara periodik dapat terpantau, apakah pembelajaran yang dilakukan didalam kelas melalui kinerja seorang guru memiliki daya serap yang baik atau tidak dimata anak didik.

Kita tentu boleh bertanya, bahwa semua proses belajar mengajar yang dilakukan dalam kelas, dimana terjadi interaksi yang intensif secara tatap muka antara guru dengan murid, apakah pada akhirnya harus ditentukan eksekusi akhirnya melalui sebuah ujian nasional? Bukankah perjalanan selama 3 tahun dan 6 semester itu juga telah melewati berbagai rangkaian ujian? yang prestasi belajar siswa dapat terlihat dengan jelas sejauhmana perkembangan dan peningkatannya.

Ada banyak kasus, seorang siswa yang sebenarnya dalam keikutsertaannya dalam proses belajar keseharian memiliki tingkat kepintaran yang lebih, daya tangkap yang bagus, selalu mendapatkan nilai unggul dan ranking kelas yang baik. Tapi pada saat mengikuti ujian nasional, dia dinyatakan tidak lulus. Sementara siswa yang boleh dibilang dalam pembelajaran sehari biasa-biasa saja, nilai yang cenderung kurang dan raport merah terus, bahkan naik kelasnya pun terpaksa dan dipaksakan, akan tetapi saat ujian nasional dia lulus.

Format dan sistem ujian nasional, memang sebuah konsep yang bagus dan ideal, namun dalam kenyataannya, hasil UN siswa sangat ditentukan juga oleh bagaimana sang guru mampu secara tuntas menumpahkan materi pembelajaran sehingga benar-benar dikuasai dan dipahami anak didik. Adonan peserta didik di tiap daerah seluruh Indonesia tentu takkan mungkin sama, antara siswa Jakarta dan siswa di daerah papua tentu berbeda, namun dalam hal penentuan soal ujian disamakan secara nasional. Jika seorang anak tidak lulus UN, maka pihak guru dan sekolah juga harus ikut bertanggungjawab. Bukankah proses pembelajaran itu dilakukan dalam tiga tahun? dengan berbagai format ujian yang dilakukan oleh sekolah.

Saat ini, dalam memori siswa, UN seolah menjadi momok yang sangat menakutkan. hasil UN itu akan merontokan secara serta merta perjuangan peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran di kelas, jika kenyataan pada akhirnya dalam UN dia tidak lulus. Sementara resiko tidak lulus UN akan merontokkan motivasinya untuk dapat masuk di perguruan tinggi, secara mental dan psikologis dia akan jatuh. Sementara pada sisi yang lain, kesempatan yang diberikan oleh pemerintah paling hanya meneruskan melalui program paket C.

Selain itu, pelaksanaan UN juga disinyalir masih diwarnai praktik-praktik tidak terpuji. Guna meluluskan 100 persen anak didiknya, tak sedikit guru atau pihak sekolah membagikan kunci jawaban, saling contek, hingga melakukan pembiaran-pembiaran terjadinya kecurangan.

Perlu pembenahan lebih lanjut di tingkat para pemegang kebijakan urusan pendidikan. Peningkatan kualitas guru, ketersediaan buku-buku penunjang belajar peserta didik, metode pembelajaran, hingga amatan akan suasana mental dan psikologis siswa. Banyak sekolah dan guru-guru yang ikut stress memikirkan UN ini, jika sebuah sekolah ada yang tidak lulus, maka rontoklah image sekolah tersebut. Jika ada sekolah yang siswanya lulus semua, kadang orang juga bertanya-tanya, jangan-jangan ada permaianan di dalamnya.

Saya tak bermaksud menghakimi, cuman pemberitaan media beberapa waktu lalu pernah mengangkat berbagai kejadian yang memilukan, misalnya ketika seorang anak SD yang dalam UN tak mau mberbagi contekan ke teman-temannya, dan mengakui secara jujur akan apa yang dilakukan oleh gurunya, si anak dan orang tuanya yang malah disalahkan, didemo, dan diintimidasi, hingga sang anak dan orang tuanya harus pindah tempat tinggal. Kejujuran menjadi sesuatu yang teramat mahal dalam praktek dan upaya pencaaian target kelulusannya.

Tapi memang UN itu menjadi satu dari sekian cara yang dilakukan pemerintah demi ikhtiarnya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, namun tekad ke arah sana memang perlu dibarengi dengan semangat kejujuran dan peningkatan profesionalitas sang guru juga. Sehingga ketika semua siswa lulus UN, maka kita harus dengan bangganya mengatakan, karena memang guru-guru di sekolah itu sangat berkualitas dan profesional dalam mendidik dan mengajar peserta didik dan ajarnya tersebut.

Dari sinilah kita harus berangkat, bahwa UN memang penting, tapi menjalankan UN dengan jujur juga sangatlah penting, memaksimalkan kelulusan memang penting, tapi menyelesaikan secara tuntas proses pembelajaran dengan kondisi guru-guru yang berkualitas juga penting.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: