Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Agussuwarno

Kang Guru dari lereng gunung Slamet, Banyumas,

Para Guru, Hati-hati Jika Mempunyai Murid Seperti Billy

OPINI | 14 April 2012 | 17:52 Dibaca: 607   Komentar: 2   1

Billy tidak terima atas penghinaan terhadap sekolah almamater SMP nya oleh seorang guru. Ia meminta guru tersebut untuk menarik ucapannya yang bernada menghina tersebut.Terjadi perdebatan antar murid dan guru. Billy tetap kukuh meminta sang guru untuk menarik kata-katanya.Bagi dia sudah selayaknya untuk membela nama almamaternya dan tidak sepatutnya guru tersebut menjelek-jelekkan tempat ia pernah belajar. Meskipun diancam dengan hadiah sebuah tamparan ,Billy tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Akhirnya perdebatan tersebut berakhir begitu saja tanpa ada keksepakatan kedua belah pihak. Perselisihan Billy dengan seorang guru tentang penghinaan SMP-nya menjadi awal dari perselisihan berikutnya sejak Billy bersekolah di SMA “Belajar Harus Suka”.

Cerita di atas adalah cuplikan dari dari tulisan Willian seorang siswa SMA yang menulis buku dengan judul “ Pesan dari Murid untuk Guru, Siapapun Bisa Melakukan Kesalahan”. Tulisan yang merupakan pengalaman pribadi William. Pada buku tersebut William memakai nama Billy sebagai nama tokoh dalam bukunya. Untuk nama guru dan SMA disamarkan dengan nama lain atau inisial huruf besar. Billy , seorang murid SMA swasta yang cerdas ,kritis, dan berani meskipun kadang berlebihan. Dengan menggunakan prinsip “Berani Karena Benar, Takut Karena Salah”, Billy melakukan perlawanan terhadap guru-guru yang menurutnya arogan, otoriter, dan tidak mengahrgai anak didiknya. Tidak itu saja kebijakan sekolah yang dia anggap merugikan murid ia kritisi habis-habisan, tidak terkecuali masalah keuangan. Kemampuannya berdebat dengan alasan-alasan yang logis menjadi modal utama untuk melakukan perlawanan.

Dalam suatu perselisihan dengan seorang guru, Billy berani menyerahkan diri dari ancaman tamparan sang guru dengan balik menganancam kepada guru tersebut akan tidak mengajar lagi di sekoah tersebut jika benar-benar menampar dia. Billy yakin kekerasan yang dilakukan guru tersebut akan berimplikasi hukum yang dapat mengancam karier sang guru.Terhadap tindakan hukuman yang tanpa landasan tata tertib dan tidak konsisten ,Billy selalu melakukan perlawanan. Karena sikapnya inilah Billy dicap sebagai siswa bermasalah .Dimarahi dan dikritik menjadi hal yang biasa bagi Billy.

Bagi Billy, guru bukanlah makhluk suci yang bebas dari kesalahan, dan tidak selayaknya murid patuh begitu saja kepada gurunya. Kepatuhan seorang murid hendaknya ditempatkan secara proposional, demikian ujarnya.Bagi Billy ,perintah guru yang tidak proposinal tanpa landasan yang jelas dan mengada-ada selayaknya tidak dipatuhi. Bahkan ia mempertanyakan sebutan “Pahlawan tanpa tanda jasa “ bagi seorang guru, bahkan menurutnya yang layak mendapat gelar pahlawan tanda jasa adalah “mama”.

Buku ini tidak hanya berisi perlawan Billy terhadap guru dan sekolahnya tetapi juga tentang saran-saran bagaiman bersikap kritis terhadap kebiajakan guru dan sekolah.Bahkan juga uraiakan pilihan kata yang sepatutnya digunakan dalam mengkritisi kebiajakn baik secara lesan maupun tulisan.

Dalam buku ini Billy juga mengkritik sikap negatif pelajar masa sekarang. Perilaku kurang motivasi, suka membolos, belajar kalau hanya akan ulangan. Billy mengajak pelajar untuk selalu meningkatkan kualitas diri.Dengan selalu berpikir positif, berani dan siap menghadapi situasi apapun.

Bagi seorang yang masih duduk di bangku SMA tulisana William dalam buku ini termasuk bagus.Buku yang cukup inspiratif dan agak provokatif untuk dibaca oleh siswa. Bagi guru buku ini dapat menjadi bahan renungan dan koreksi terhadap tindakan-tindakan yag telah dilakukan kepada para siswa.

Permasalahannya William menulis buku ini berdasarkan pengalaman di sekolahnya yang Kebetulan juga menemukan tidak sedikit guru yang bersifat arogan, otoriter suka menggunakan hukuman fisik. Kondisi di sekolah William tentu tidak bisa diguanakan untuk menggeneralisaikan kondisi sekolah pada umumnya, meskipun tidak menutup kemungkinan ada juga sekolah yang mempunyai kemiripan dengan kondisi tersebut. Penulis kahawatir William mempunyai persepsi keliru terhadap guru-guru lain berkaitan dengan pengalaman-pengalamn traumatik di sekolahnya. Gaya William dalam melakukan perlawanan terhadap kebijakan guru, bagi adat dan budaya daerah tertentu dapat dianggap sebagai tindakan kurang sopan.Tidak semua guru dapat melihat gaya perlawanan Willian sebagai tindakan yang layak dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya. Namun demikian sikap berani, kritis, cerdas dan kemauan kuat untuk selalau belajar dari pribadi William merupakan inspirasi positif bagi pelajar di Indonesia.

Berkaca dari tulisan William nampaknya sekolah bukan hanya sebagai wadah pengembangan ilmu semata. Sekolah perlu menekankan pada pengembangan kepribadian. Pengembangan kepribadian akan lebih fektif jika melalu keteladanan. Sikap, tingkah laku dan budi pekerti guru yang positif menjadi kunci bagi terciptanya sekolah yang berkaraketr positif. Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Sikap memanusiakan siswa dengan menghormatinya sebagai pribadi yang utuh . Sikap guru yang “nguwongke” siswa akan membuat siswa lebih hormat kepada gurunya. Sikap Berani dan kritis siswa hendaknya jangan dijadikan ancaman bagi guru. Justru sikap kritis dan berani yang muncul dari diri siswa perlu pengarahan dan bimbingan agar kelak menjadi generasi yang lebih peduli kepada bangsa . Generasi-generasi yang peduli kepada bangsa inilah yang akan memberi kontribusi bagi tercipanya bangsa yang lebih bermartabat.

Sumber bacaan : “ Pesan Guru dari Murid untuk Guru, Siapapun Bisa Melakukan Kesalahan”

William.2007.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 3 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 3 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 6 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 7 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Harus Wanita yang Jadi Objek Kalian?? …

Dilis Indah | 8 jam lalu

‘86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Jack Ma: Gagal Ujian Matematika, Menjadi …

Hanny Setiawan | 8 jam lalu

Fabel : Monyet dan Penguasa Pohon Jambu …

Syam Jr | 8 jam lalu

Sunyi …

Yufrizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: