Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Keberadaan Manusia Potensi Terbesar Kehancuran Alam

OPINI | 22 April 2012 | 17:11 Dibaca: 208   Komentar: 1   0

Sebabnya kerusakan ekosistem lingkungan adalah skenario manusia yang terbesar dibelakangnya, manusia adalah bencana bagi alam bagaimana tidak, sekalipun dia tidak beraktifitas tapi selama manusia itu masih bernyawa untuk bernapas ada andil dan ambil bagian dia untuk menghancurkan alam ini.

Jauh dari bumi diatas sana ada lapisan atmosfir (ozon) yang mengandung gas rumah kaca (GRC), fungsi dari GRC di lapisan ini adalah menyerap radiasi panas yang berbentuk sinar infra merah dari bumi yang telah disinari oleh matahari pada siang hari, logika inilah yang menjawab mengapa pada malam hari ketika daerah yang tidak disinari matahari itu suhu rendah bisa mencapai 15 derajat celcius, itu bukan suhu normal, melainkan radiasi panas yang dikembalikan lagi oleh efek gas rumah kaca (GRC) setelah adanya proses dan aktifitas siang tadi, ini yang kita sebut juga efek rumah kaca. Karena suhu normalnya tanpa adanya GRC bisa – bisa mencapai minus 15 derajat celcius, makhluk hidup normal mana yang bisa bertahan lama hidup dengan suhu seperti itu?, yang terpenting lagi salah satu unsur senyawa yang mengikat dalam gas tadi (GRC) adalah senyawa CO2 atau karbondioksida yang kita anggap racun kemarin – kemarin itu, tapi bersama air dan sinar matahari senyawa ini adalah sumber kehidupan bagi tumbuh – tumbuhan melalui proses mahakaryanya fotosintesis untuk menyusun tubuhnya (batang) sendiri. Karbondioksida lepas melalui proses sirkulasi pernapasan pada manusia dan binatang, tapi ini masih bisa diproses lagi oleh tumbuhan, karena dari proses penyerapan, karbondioksida dibutuhkan untuk fotosintesis tersebut (sisanya karbondioksida itu disimpan) dan dengan bijaksananya tumbuhan memproduksi ulang oksigen untuk kehidupan binatang dan manusia, sungguh hubungan mutualisme yang emosional antara kita dengan tumbuhan, yang perlu diingat proses besar – besaran fotosintesis tersebut ada di hutan, jadi fungsi lahan hutan salah satunya adalah menyimpan karbondioksida (rosotkarbon) serta mengontrol pelepasan senyawa tersebut secara besar – besaran, selain dari manusia karbondioksida dilepas dari hasil proses pembakaran hasil tambang bumi batu bara, minyak bumi sampai pada gas alam yang kita sebut teknologi itu, karena selain hutan karbon juga terikat pada fosil yang ada di perut bumi yang selanjutnya menjadi batubara dan lainnya.

mobilitas masyarakat bagi kerusakan ekosistem alam.

Sejarah mencatat pembalakan hutan permulaanya terjadi pada masyarakat eropa, disebabkan penduduk yang semakin padat dan penggunaan kayu untuk keperluan rumah tangga serta industri, serta ekspansi besar – besaran yang mereka (eropa) lakukan pada daerah – daerah kolonialnya. Pastinya melalui jalur tranportasi laut yang membutuhkan banyak kapal dengan kayu sebagai komponen utamanya, menjadikan salah satu proses penyebab menyusutnya luas hutan, ini tidak hanya terjadi dinegara mereka tetapi daerah kolonialnya juga, mereka menebang hutan untuk selanjutnya dijadikan kawasan perkebunan, menanam pangan untuk penduduk lokal yang dijadikan mereka sebagai tenaga kerja, sampai pada akhirnya menyusul amerika utara dengan eksodus besar – besaran bangsa eropa kebenua ini, hukum alamnya jelas menuntut perluasan wilayah dengan mengorbankan hutan untuk pemukiman, pertanian, perindustrian, dan tujuan komersil itu sendiri. Terakhir terjadi pembalakan hutan besar – besaran pada perang dunia II lagi – lagi untuk tujuan dan kepentingan yang komersil selama dan pasca perang tersebut!

Pada era modernisasi ini penduduk bertambah padat dan hampir tidak mungkin untuk melakukan konsentrasi wilayah atau daerah pemukiman, dengan sendirinya lahan kosong aktifitas manusia seperti hutan tadi lambat laun bergeser fungsinya akan menjadi wilayah pemukiman (settlement), tempat dimana ada aktifitas manusia seperti perkebunan dan pertanian untuk kebutuhan sandang dan pangan, serta manfaat kayu untuk kebutuhan papan, sampai adanya wilayah industrialisasi pertambangan (kepentingan ekonomis) inilah yang sepertinya menjadi awal terbukanya wilayah hutan, yang selanjutnya merambat menjadi pemukiman. Mobilitas ini walaupun awalnya terlihat sedikit demi sedikit dan hanya bagian kecil tapi terus menerus konsisten serta pasti, sedangkan tidak mungkin ada pertambahan daratan di bumi ini untuk membentuk lahan hutan baru belum lagi ditambah aktifitas haram dari pembalakan liar (ilegallogging) besar - besaran lambat laun juga akan menambah daftar menyusutnya luas hutan, fungsi hutan sebagai pengontrol senyawa karbondioksida yang lepas ke atmosfir dan memproduksi oksigen di tempat utama yang harus dilestarikan dalam rantai ekosistem alam menjadi hilang (losses). Selanjutnya dengan bebas senyawa karbondioksida lepas kelapisan atmosfir dalam jumlah banyak, kadar karbondioksida dalam atmosfir naik, bahayanya adalah kenaikan intensitas gas rumah kaca tersebut (GRC) karena salah satu kandungan gas tersebut adalah senyawa karbondioksida tadi yang intensitasnya naik, Selain dari alam manusia juga dengan teknologi sainsnya memproduksi zat sintesis yaitu ClorofluoCarbon (CFC) untuk keperluan industri untuk kebutuhan rumah tangga, di rumah tangga kandungan zat tersebut ada pada Air Conditioner (AC), lemari pendingan (kulkas) sampai peralatan kosmetik. zat ini akan lepas ke lapisan ozon dengan menghancurkan strukturnya dan berpotensi juga menaikan kadar gas rumah kaca (GRC), karena zaat ini buatan tentunya zat ini tidak bisa dikontrol pelepasannya oleh alam - selain manusia itu sendiri melalui penggunaanya. Seperti didalam rumah kaca efek yang terjadi suhu permukaan bumi menjadi naik (pemanasan global) dampak pemanasan global seperti yang kita ketahui adalah berubahnya iklim, perubahan curah hujan, intensitas dan frekwensi badai yang tidak teratur, dan hal yang paling menakutkan adalah naiknya permukaan air laut yang dapat menimbulkan banjir bandang parahnya lagi bisa berpotensi memusnahkan peradaban manusia. Naiknya air laut ini disebabkan mencairnya es abadi yang mencapai ketinggian jutaan kilometer dari permukaan tanah di dua daerah kutub akibat dari kenaikan suhu tersebut.

Masih inginkah kita melakukan akselerasi yang mengganggu ekosistem alam yang sejatinya adalah keberlangsungan tempat tinggal kita, kalau kita renungkan, manusia tidak melakukan ancaman terhadap alam saja seperti pembalakan liar, pembakaran, penggunaan ClorofluoCarbon (CFC) secara besar – besaran, membuka lahan pertambangan, dengan eksisitensial saja sebagai makhluk hidup, manusia sudah berpotensi menghancurkan alam itu sendiri dari proses bernafasnya serta dari kebutuhan hidupnya.

meminjam istilah ali syahratie bahwa manusia adalah makhluk yang sadar (berpikir), sadar dalam pengertian manusia mampu memahami realitas alam dengan kekuatan berpikirnya, kesadaran adalah esensi yang lebih tinggi ketimbang eksisitensinya, dia (manusia) akan sadar jika alam mengancamnya, sedangkan alam sepenuhnya tidak akan pernah sadar dan kalau kita telah mengancamnya ditiap sisi kehidupan, kita sendiri telah sadar tapi tidak mau tahu bahwa kita telah mengancam alam tersebut, padahal alam termasuk kita didalamnya sedang dalam proses menuju kehancuran alias ketidakberadaan (seperti apa yang telah diberitakan oleh kitab suci al’quran) hanya bagaimana prosesnya saja ingin diperlambat atau dipercepat sesuai jalan ketentuan mana yang kita lalui itu, meridhoi apa yang dikatakan filosof sejarah, Tweiny : “Peradaban manusia dewasa ini, telah sampai pada puncak kesempurnaan sejarahnya. Sebab, peradaban masa modern sekarang inilah satu – satunya peradaban manusia yang tahu bahwa manusia menuju kepada kehancurannya.”,

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

PR Matematika Anak SD Hebohkan Netizen …

Samandayu | | 22 September 2014 | 14:16

Jawaban PR Anak SD yang 80% Salah …

Hendri Ma'ruf | | 22 September 2014 | 15:12

Nyari Hobi yang Menguntungkan? Hidroponik …

Jeane Siswitasari | | 22 September 2014 | 16:34

Mandiri dengan Make Up, Siapa Takut? …

Asri Alfa | | 22 September 2014 | 14:07

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 4 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 12 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 13 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 8 jam lalu

Pengen Diet Koq Ngences? …

Vita Sinaga | 8 jam lalu

Jangan (Hanya) Cari Kelebihan Dari Istrimu …

Muhammad | 8 jam lalu

Wong Ndeso Ngaku Kutho …

Rizka Amalia Nur Fa... | 8 jam lalu

Gunung Padang Mitos Gerak Sejarah Yang Abadi …

Akhmad Ali | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: