Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Wahyudi Husain

Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin

Aku Tidak Tahu Mana yang Benar, maka Kupelajari Keduanya

REP | 30 April 2012 | 16:47 Dibaca: 365   Komentar: 1   1

Ini alasan utama seorang teman kami ketika kutanya mengapa ia belajar syiah. Katanya, ia bingung karena antara sunni dan syiah saling menyalahkan. Ia memilih mempelajarinya sendiri. Ia berharap semoga nanti dapat menyimpulkan mana yang benar dan mana yang salah. Sepintas argumen ini nampak benar, tetapi melihat kepribadian dan keseharian teman kita tadi, tampaknya itu hanya alibi untuk membenarkan dirinya yang sedang belajar syiah dan condong ke sana.

“…makanya aku mempelajari keduanya” tidak sesuai fakta. Kesehariannya berteman dengan orang-orang yang pikirannya terasuki racun syiah. Ia membaca buku-buku syiah dan tidak membaca buku sunni. Ia membaca tulisan Jalaluddin Rakhmat dan tidak pernah membaca tulisan DR. Adian Husaini. Ia sama sekali tidak pernah membaca kitab tauhid, kitab ushuluts tsalasah, atau kitab-kitab sekunder seperti la tahzan, dan lain-lain. Jadi, pembelaannya bahwa ia sedang mempelajari sunni dan syiah hanya pembenaran atas kesalahan berpikirnya.

Mempelajari sunni dan syiah sesungguhnya jalan untuk mengajak orang awam ke syiah. Hampir bisa dipastikan semua teman kami yang sebelumnya tidak mengenal syiah lalu tiba-tiba menjadi syiah, awalnya juga menggunakan alasan ini. Dengan dalih ingin mempelajari keduanya, sekonyong-konyong mereka menelan buku-buku syiah dan aktif ikut kajiannya. Lebih dari itu, mereka akan mulai membela ketika orang-orang mengungkap kesesatan syiah. Dan pembelaan mereka cenderung buta, terlalu banyak argumen tak berdasar seperti “syiah juga Islam,” syiah tidak sesat,” dan lain-lain. Tanpa mengajukan satupun bukti.

Mengapa ini semua terjadi? Tentu saja karena ia tidak paham agama.

Teman kami yang banyak terjatuh ke syiah umumnya orang awam. Tidak paham agama. Mereka tidak punya dasar apa-apa untuk menimbang apakah syiah benar atau tidak. Mereka tidak mampu berbahasa arab, sehingga memuja-muja bahasa Persia. Mereka juga tidak mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, sehingga hanya berkutat pada tulisan-tulisan yang muatannya penuh kebohongan. Seperti buku Jalaluddin Rakhmat; Al-Mustafa, Rekayasa Sosial, mengutamakan akhlak di atas fiqih, dan lain-lain.

Ia tidak memiliki pemahaman fiqh yang baik sehingga dapat menimbang hukum-hukum. Ia bahkan tidak cinta pada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Ketika buku-buku itu menghujat para sahabat, yang berkerut hanya keningnya. Emosinya tak bergerak sedikitpun untuk membela para sahabat yang berkat jasanya Islam ini sampai kepada kita. bukan atas jasa orang-orang Majusi dan para penyembah kuburan di Iran.

Ini sama seperti orang yang tidak paham ekonomi ingin menimbang apakah BBM perlu dinaikkan atau tidak. Maka ia akan menimbang berdasarkan pertimbangan non-ekonomis yang tidak berkaitan langsung dengan BBM. Ia tidak tahu bagaimana BBM bisa siap pakai. Ia tidak paham sesungguhnya suplai BBM bagaimana. Ia hanya tahu kalau BBM naik maka harga kebutuhan pokok akan melonjak. Karena itulah ia berdemonstrasi menentang keras kenaikan BBM. Sekalipun tindakannya benar, tetapi pendekatan yang salah menunjukkan tidak bijaknya orang tersebut.

Dalam kasus kita, orang yang tidak punya kapasitas apa-apa hendak menimbang antara sunni dan syiah. Mana yang benar diantara keduanya. Akhirnya, tanpa dibimbing ilmu yang benar, nafsu mendorongnya untuk menolak cahaya Islam dan menerima kegelapan agama syiah yang berdiri di atas seks dan khums.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala yang maha membolak-balikkan hati meneguhkan hati kita di atas Islam. Dan menetapkan hati kita dalam ketaatan padaNya.[]

Setelah shalat shubuh, Mesjid Al-Mubaraqah

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menyelamatkan 500 Generasi Muda dari Dampak …

Thamrin Dahlan | | 19 September 2014 | 20:47

Dangdut Koplo Pengusir Jenuh, Siapa Mau? …

Gunawan Setyono | | 20 September 2014 | 08:45

“Apartemen” untuk Penyandang …

Arman Fauzi | | 19 September 2014 | 14:10

Saya, Istri dan Kompasiana …

Tubagus Encep | | 20 September 2014 | 08:00

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 2 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 3 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 3 jam lalu

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 11 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | 8 jam lalu

Sate Khas Semarang yang ada Di Jakarta …

Kornelius Ginting | 8 jam lalu

Browser Chrome Tidak Cocok Untuk Membuka …

Ruslan | 8 jam lalu

Andromax Pilihanku dalam Komunikasiku …

Dedy Sigid Setiawan | 8 jam lalu

Bang Ahok Jangan Bikin Malu Kami Ya …

Betterthangood Ina | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: