Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hannah Neng

ibu biasa saja namun punya mimpi luar biasa

Memandikan Jenazah? Jangan Takut!

OPINI | 01 May 2012 | 17:21 Dibaca: 2107   Komentar: 4   2

Saat jiwa terlepas dari raga, tak satu pun jua yang dapat kita lakukan. Secantik apapun perempuan, bila jiwa sudah tak bersama tubuhnya tak berarti apa apa. Hal ini berlaku pula bagi laki-laki ganteng. Kepintaran, cita-cita, harta benda, keluarga dan semua hal yang ada di dunia ditinggalkan begitu saja. Kenapa saya berbicara tentang kematian ? Hari ini sebuah pelajaran tentang kematian saya dapatkan saat memandikan jenazah.

Diawali dini hari tadi saat belanja sayuran di warung.  Ibu warung bercerita bahwa tetangga kami yang sakit tumor otak meninggal dunia. Setelah belanja, segera saya bergegas menuju rumah duka untuk mengucapkan bela sungkawa. Sebenarnya berita duka cita sudah diumumkan di mesjid tengah malam tadi, namun karena saya dalam kondisi tidur, pengumuman itu terdengar sayup sayup sampai dan bersatu dengan mimpi.

Saat saya tiba ternyata jenazah baru saja akan dimandikan. Ustadzah yang akan memandikan merupakan pembina majlis taklim Al-ikhlas komplek kami. Saat melihat saya hadir, ia meminta kesediaan saya untuk menjadi asistennya memandikan jenazah. Saya awalnya ragu karena belum pernah sama sekali. Ustadzah berkata, “kelak kita akan mengalami hal ini, mengapa mimih tidak mau mengamalkan ilmu yang sudah didapat?”. Di komplek tempat saya tinggal saya dipanggil dengan sebutan mimih karena anak-anak saya memanggil  dengan sebutan itu.

Saya tertegun merenungkan pertanyaanya. Betapa saya selama ini sok tahu dengan teori memandikan dan mengafani jenazah dan menjelaskannya kepada mahasiswa padahal sama sekali belum pernah. Betapa saya juga dengan pedenya dalam beberapa pengajian ibu-ibu menjelaskan tentang Islam termasuk  penjelasan hak-hak mayit sebelum dikuburkan.  Entah sudah berapa banyak hal saya jelaskan namun saya sendiri belum mempraktekannya. Dengan gemetar saya menyetujui permintaan ustadzah dan melafadzkan niat memandikan jenazah dalam hati.

Jenazah dibaringkan di atas dipan khusus memandikan jenazah. Kalau tak ada, bisa memakai dipan biasa yang diberi penyangga yang bulat bisa dibuat dari gedebog pisang untuk menyangga tubuh si mayit agar bagian belakang mudah dibersihkan. Setelah dibuka seluruh pakaiannya, auratnya dari pusar sampai lutut ditutup kain. Bila kukunya panjang maka dipotong dan dibersihkan terlebih dahulu. Setelah itu menguyurkan air bersih  hangat juga air yang dicampur dengan kapur barus/ kecombrang dimulai dari kepala sampai ujung kaki sampai rata. Mayit dimandikan dalam ruangan yang tertutup. Sebenarnya yang berhak memandikan adalah keluarga terdekat. Namun saat ini sedikit sekali yang memahami cara memandikan mayit sehingga orang yang dianggap amanah bisa melaksanakannya.

Setelah itu kita mengistinjakan mayit dengan menggunakan sarung tangan yang wajib dipakai selama memandikan. Selain wajib juga memakai masker agar tahan dengan bau kotoran yang akan kita bersihkan. Bagian tubuh mayit atas dari kepala sampai dada diangkat sedikit dan ditekan tekan agar keluar kotorannya. Dengan kapas kita bersihkan berulang ulang tempat keluar kotoran simayit agar betul-betul kotoran sudah bersih.  Setelah bersih kita masukan  kapas untuk menyumbat  agar tidak akan keluar dan mengalir saat sudah dikafani.

Setelah itu membersihkan mulut dan mengeluarkan kotoran-kotoran yang masih tertinggal. Siram dan basuh dengan air sabun seluruh badan dengan mengusap perlahan agar kotoran bisa hilang. Jari-jari, telinga, ketiak, rambut dan semua anggota tubuh dimandikan tanpa ada satu pun yang tertinggal. Badan mayit dimiringkan ke kanan dan dibasuh tiga kali.  Dimiringkan ke kiri dibasuh pula tiga kali. Mayit kembali diterlentangkan kemudian membasuh dengan air bersih  dan basuhan terahir kembali menggunakan air kapur barus agar harum. Setelah itu wudhukan si mayit. Setelah itu dikeringkan dengan handuk dan dibungkus kain untuk memudahkan diangkat ke tempat mengkafani

Prosesi memandikan jenazah betul betul berkesan dalam jiwa saya. Ilmu memandikan jenazah merupakan ilmu yang sangat penting dan tak ada artinya bila tidak dipraktekan.  Betapa tak ada daya dan upaya seorang makhluk bila sudah menjadi jenazah. Semua manusia akan melewati fase ini jadi kenapa  mesti takut? Sepanjang hari ini hanya nama Allah yang terus terusan saya lafazkan betapa bersukurnya masih diberikan kesempatan mengirup oksigen dunia. Kira-kira bagaimana dengan anda bila mengalami seperti yang sudah saya lakukan ?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Tips Ibu Jepang Menyiasati Anak yang Susah …

Weedy Koshino | | 22 October 2014 | 08:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Ketika Rintik Hujan Itu Turun di Kampung …

Asep Rizal | | 21 October 2014 | 22:56

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 2 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 2 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 3 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 4 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | 7 jam lalu

Filosofi Kodok …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Mirip Penyambutan Raja yang Dicintai …

Dr. Nugroho, Msi Sb... | 7 jam lalu

Cara Wanita Cerdas Memilih Calon Suami …

Nelvianti Virgo | 7 jam lalu

Fenomena Rokok pada Anak Usia Dini …

Dian Wisnu Al Afdho... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: