Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Titik Rimawati

Ibu Rumah Tangga yg berusaha menjadi wanita luar biasa. Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Matematika oh Matematika

OPINI | 03 May 2012 | 15:35 Dibaca: 514   Komentar: 0   0

Kenapa sampai saat ini matematika masih menjadi momok menakutkan bagi sebagian banyak siswa?

Padahal hampir semua aspek kehidupan ini sangat erat berkaitan dengan yang namanya matematika.

Bahkan suatu ketika ada anak didik saya yang  berkata “Bu,,,,usulin pelajaran matematika itu dihilangkan saja”.”Memangnya kenapa?”kata saya.Anak ini menjawab, “habis susah bu,,,,bikin pusing aja”.

Dan tidak hanya anak ini saja yang mengeluh seperti itu. Kemudian saya coba mencari tahu,apa sih sebenarnyayang menyebabkan matematika begitu sulit dipahami anak-anak dan menjadi mata pelajaran yang paling menakutkan???

Dan menurut saya ternyata ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya,antara lain :

1. Guru,selama ini guru matematika dikenal sebagai guru yang paling galak,killer dan dan terlalu serius dalam menyampaikan materi.

2. Metode pembelajaran,matematika adalah salah satu ilmu pasti,jadi kalau bisa dalam menyampaikan materinya pun harus secara pasti artinya lugas dan sederhana namun mengenai sasaran.Terlalu banyak PR yang tidak dinilai juga merupakan metode yang kurang tepat.

3. Media pembelajaran, mungkin anak-anak akan lebih senang kalau belajar tidak hanya membaca buku,menghapalkan rumus,atau cuma mengukur suatu benda yang tidak ada.Jadi usahakan dalam pembelajaran matematika itu sekali-kali gunakan media yang menarik perhatian anak-anak,meskipun untuk anak kelas tinggi sekalipun.

Mungkin masih banyak penyebab yang lain yang menjadikan matematika sebagai pelajaran yang menakutkan dan membosankan buat anak-anak.

Dari faktor -faktor penyebab di atas, saya mempunyai beberapa pendapat untuk membuat matematika itu lebih di sukai anak-anak,yaitu:

1. Seoarang guru matematika itu harus good looking dan menyenangkan,agar peserta didik tidak merasa kaku saat mengikuti proses KBM.

2. Siswa jangan terlalu diberi PR banyak,tapi tidak pernah dinilai atau diperiksa,karena hal ini akan membuat siswa bosan dan semakin tidak menyukai pelajaran ini.

3. Bila diperlukan,gunakan media dalam menyampaikan materi.

4. Kalau seorang guru menguasai bagaimana cara menghitung cepat,kasih tahu ke siswa bagaimana caranya,karena cara ini akan menjadi penyegaran tersendiri dalam belajar matematika.

Mungkin pendapat saya masih jauh dari dari harapan untuk membuat matematika itu menyenangkan. Tapi setidaknya bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk membuat matematika tidak lagi dianggap sebagai momok dalam belajar.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sangiang, Pulau Memukau yang Mudah Dijangkau …

Hari Akbar Muharam ... | | 24 May 2015 | 01:37

Beras Plastik Siapa Bermain? …

Musni Umar | | 24 May 2015 | 07:31

Kompasiana Seminar Nasional: Harapan serta …

Kompasiana | | 18 May 2015 | 15:58

Pahami Screen Time dan Play Time untuk Anak …

Giri Lumakto | | 23 May 2015 | 22:19

Kota Batam Gandeng Yokohama untuk Menjadi …

Isson Khairul | | 23 May 2015 | 20:23


TRENDING ARTICLES

Rekayasa Hadi, Negara Rugi 2 Triliun, KPK …

Imam Kodri | 5 jam lalu

FIFA, Jangan Heran Indonesia Berani Bekukan …

Mafruhin | 14 jam lalu

Menyoroti Pembangunan Rel Kereta Api di …

Johanis Malingkas | 16 jam lalu

Dua Kali Ke Toilet, Saldo Multitrip Dipotong …

Endang Priyono | 17 jam lalu

Air Mata Ema Tumpah di Korem 151 Binaya …

Rusda Leikawa | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: