Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Titik Rimawati

Ibu Rumah Tangga yg berusaha menjadi wanita luar biasa. Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Matematika oh Matematika

OPINI | 03 May 2012 | 15:35 Dibaca: 487   Komentar: 0   0

Kenapa sampai saat ini matematika masih menjadi momok menakutkan bagi sebagian banyak siswa?

Padahal hampir semua aspek kehidupan ini sangat erat berkaitan dengan yang namanya matematika.

Bahkan suatu ketika ada anak didik saya yang  berkata “Bu,,,,usulin pelajaran matematika itu dihilangkan saja”.”Memangnya kenapa?”kata saya.Anak ini menjawab, “habis susah bu,,,,bikin pusing aja”.

Dan tidak hanya anak ini saja yang mengeluh seperti itu. Kemudian saya coba mencari tahu,apa sih sebenarnyayang menyebabkan matematika begitu sulit dipahami anak-anak dan menjadi mata pelajaran yang paling menakutkan???

Dan menurut saya ternyata ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya,antara lain :

1. Guru,selama ini guru matematika dikenal sebagai guru yang paling galak,killer dan dan terlalu serius dalam menyampaikan materi.

2. Metode pembelajaran,matematika adalah salah satu ilmu pasti,jadi kalau bisa dalam menyampaikan materinya pun harus secara pasti artinya lugas dan sederhana namun mengenai sasaran.Terlalu banyak PR yang tidak dinilai juga merupakan metode yang kurang tepat.

3. Media pembelajaran, mungkin anak-anak akan lebih senang kalau belajar tidak hanya membaca buku,menghapalkan rumus,atau cuma mengukur suatu benda yang tidak ada.Jadi usahakan dalam pembelajaran matematika itu sekali-kali gunakan media yang menarik perhatian anak-anak,meskipun untuk anak kelas tinggi sekalipun.

Mungkin masih banyak penyebab yang lain yang menjadikan matematika sebagai pelajaran yang menakutkan dan membosankan buat anak-anak.

Dari faktor -faktor penyebab di atas, saya mempunyai beberapa pendapat untuk membuat matematika itu lebih di sukai anak-anak,yaitu:

1. Seoarang guru matematika itu harus good looking dan menyenangkan,agar peserta didik tidak merasa kaku saat mengikuti proses KBM.

2. Siswa jangan terlalu diberi PR banyak,tapi tidak pernah dinilai atau diperiksa,karena hal ini akan membuat siswa bosan dan semakin tidak menyukai pelajaran ini.

3. Bila diperlukan,gunakan media dalam menyampaikan materi.

4. Kalau seorang guru menguasai bagaimana cara menghitung cepat,kasih tahu ke siswa bagaimana caranya,karena cara ini akan menjadi penyegaran tersendiri dalam belajar matematika.

Mungkin pendapat saya masih jauh dari dari harapan untuk membuat matematika itu menyenangkan. Tapi setidaknya bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk membuat matematika tidak lagi dianggap sebagai momok dalam belajar.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Baduy, Eksotisme Peradaban Ke XV yang Masih …

Ulul Rosyad | | 20 December 2014 | 23:21

Batita Bisa Belajar Bahasa Asing, …

Giri Lumakto | | 21 December 2014 | 00:34

Penulis Kok Dekil, Sih? …

Benny Rhamdani | | 20 December 2014 | 13:51

Bikin Pasar Apung di Pesing, Kenapa Tidak? …

Rahab Ganendra 2 | | 20 December 2014 | 20:04

Real Madrid Lengkapi Koleksi Gelar 2014 …

Choirul Huda | | 21 December 2014 | 04:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 20 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 22 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 23 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 23 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 20 December 2014 07:59


Subscribe and Follow Kompasiana: