Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ceppy Mooien

Life is a journey, enjoy it!

Belajar Karakter dari Erie Sudewo

REP | 04 May 2012 | 11:22 Dibaca: 648   Komentar: 2   1

Sebelumnya saya tidak mengenal siapa sosok Erie Sudewo, ketika itu ada iklan mengenai buku terbaru yang diterbitkan Republika judulnya “Character Building (Menuju Indonesia Lebih Baik).”  Tanpa pikir panjang saya langsung meluncur ke Toga Mas dan pas lihat cover belakang yang biasanya terdapat kata-kata tokoh terkenal dengan komentar mengenai buku tersebut, ternyata ada foto dari sosok Erie Sudewo yang saya maksud. Saya langsung berkesimpulan bahwa beliau adalah orang yang rajin shalat, karena ada tanda hitam di dahinya.

Erie Sudewo lahir di Bandung, pernah memimpin Dompet Dhuafa Republika selama 10 tahun. “Saya senang karena pekerjaan ini tidak dihiraukan orang, sehingga tidak direcoki. Saya bisa leluasa membangun gagasan dan menerjemahkannya sendiri gagasan itu di tataran aksi,” ungkap beliau mengenai posisinya memimpin Dompet Dhuafa. Peraih anugerah Social Entrepreneur ini kini disibukkan dengan mengisi pelatihan character building di berbagai perusahaan dan kantor-kantor pemerintah.

Karakter menurut beliau adalah bagian dari attitude yang baik, berbeda dengan ‘tabiat’ yang termasuk jenis attitude yang buruk. Karakter merupakan kumpulan dari tingkah laku baik dari seorang anak manusia.

Tanpa karakter, seseorang akan kehilangan arah dalam bersosialisasi, berjalan tanpa rambu dan aturan.

“Anda kenal seseorang yang anda ingin agar berubah dan memperbaiki sikapnya?” Dale Carnegie pernah mengungkapkan dalam buku How to Win Friends and Influence people “Bagus! Hal itu boleh saja. Saya setuju dengan itu. Namun mengapa tidak dimulai dengan diri anda sendiri?” Apa yang dikatakan Dale Carnegie menurut saya didukung oleh Erie Sudewo, beliau mengatakan ” Begitulah banyak orang yang ingin meningkatkan diri, namun hanya sedikit yang ingin memperbaiki diri.”

Kebanyakan orang mengejar karir kehidupannya, atau yang ingin menjadi pengusaha sering lupa dengan karakter yang seharusnya mereka miliki. Mereka dapat berkompetisi secara profesional, tapi apakah yang dilakukannya itu benar? Kompetensi berbicara tentang peningkatan diri, dan karakter adalah usaha perbaikan diri. Kompetensi tanpa karakter akhirnya akan menjadi jomplang.

Erie membedakan karakter menjadi dua kategori yaitu karakter pokok dan karakter pilihan. Karakter pokok harus dimiliki oleh tiap orang, sedangkan karakter pilihan adalah perilaku baik yang bekembang sesuai dengan profesi pekerjaan. Misalnya seorang guru, pada bagian tertentu karakternya berbeda dengan karakter militer. Berbeda lagi karakter dokter dibanding karakter pengacara. Pada intinya, apapun profesinya, tiap orang harus membangun karakter pokok terlebih dahulu.

Karakter pokok dibedakan menjadi tiga bagian penting, yaitu karakter dasar, karakter unggul dan karakter pemimpin.

  • Karakter Dasar menjadi inti dari karakter pokok, karakter inilah yang harus menjadi pondasi bagi karakter-karakter selanjutnya. Baik buruknya, maju mundurnya, santun liarnya serta dermawan tamaknya seseorang ditentukan dari karakter ini yaitu: tidak egois, jujur dan dsipilin.
  • Karakter Unggul dibentuk oleh tujuh sifat baik yaitu: ikhlas, sabar, bersyukur, bertanggung jawab, berkorban, perbaiki diri, dan sungguh-sungguh. Ketujuh sifat tersebut harus dilatih setiap hari sehingga akan menjadi kebiasaan yang akan membentuk karakter yang unggul.
  • Karakter Pemimpin merupakan karakter yang dapat dibentuk jika kedua karakter di atas dapat diamalkan secara baik, karakter ini yaitu: Adil, arif, bijaksana, ksatria, tawadhu, sederhana, visioner, solutif, komunikatif, dan inspiratif.

Membangun karakter memang proses perbaikan diri yang tidak pernah usai, hanya orang-orang yang tahan bantinglah yang dapat mengamalkannya. Poin penting karakter ternyata bukanlah sesuatu yang diwariskan begitu saja, sifat-sifat dalam karakter-karakter di atas dapat diraih dengan proses praktek dan mendidik diri. Terakhir Erie Sudewo mengingatkan kita untuk selalu meredam sifat egois. “Janganlah resah akan apa yang dikatakan orang, tapi resahlah jika anda tidak punya karakter,” ujarnya.

sumber: buku Character Building, penerbit Republika.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

5 Jam Menuju Museum Angkut, Batu-Malang …

Find Leilla | | 31 July 2014 | 18:39

Kecoa, Orthoptera yang Berkhasiat …

Mariatul Qibtiah | | 31 July 2014 | 23:15

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Menjenguk Blowhole Sebuah Pesona Alam yang …

Roselina Tjiptadina... | | 31 July 2014 | 20:35


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 13 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 17 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 18 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 21 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: