Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Astuti Dwi Wahyu Pertiwi

I’m a simple person,,,.I’m just ordinary girl,,but I have a lot of experience. I’m a strong selengkapnya

Prestasi Akademik Vs. Non-Akademik

REP | 08 May 2012 | 04:38 Dibaca: 502   Komentar: 2   1

PRESTASI. Satu kata tediri dari delapan huruf yang dapat membanggakan seseorang.  Dengan prestasi seseorang dapat merasa puas, bangga, dan bahkan terkenal. Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan suatu prestasi tertentu dapat menghasilkan uang bagi yang mendapatkannya.

Menurut Lutfi Fazar Ridho, mahasiswa komunikasi Undip, prestasi adalah suatu keadaan dimana seseorang dapat menggapai apa yang diinginkannya baik secara akademik maupun non-akademik.

Namun pada kenyataannya, di perguruan tinggi negeri belum memiliki tadisi untuk menghargai, mengakui, dan mengembangkan prestasi non-akademik para mahasiswanya. Bahkan, PTN kerap tidak memberikan dukungan terhadap prestasi non-akademik tersebut, misalnya saja bidang kesenian dan bidang olahraga. Oleh karena itu sebaiknya PTN mencoba mengubah pola pikir yang dinilai kurang memiliki model kepemimpinan yang baik.

“PTN terlalu kaku dalam memahami aturan. Ini dilihat dari banyaknya dosen-dosen yang notabene berasal dari akademisi ketimbang praktisi. Sehingga jelas bahwa prestasi akademik jauh lebih mendapatkan tempat ketimbang prestasi non-akademik. Masih banyak ditemui kasus mahasiswa berprestasi non-akademik yang sulit memperoleh izin Universitas terkait ketika akan mengikuti ajang-ajang nasional dan internasional. Banyak dosen yang tidak ramah untuk urusan izin. Perlu pendekatan khusus. Bahkan untuk masalah pembiayaan, Universitas sangat sulit mengalirkan dana yang memang dibutuhkan oleh mahasiswa yang akan mengikuti lomba tersebut, padahal kalau menang nama alamater juga yang akan terbawa harum. Kalau diibartkan, sistem pembelajaran di PTN seperti seorang pemimpin yang hanya bisa patuh terhadap aturan sehingga tidak ada terobosan baru dan keberanian dalam mengambil risiko”, tutur Lutfi Fazar Ridho saat ditemui seusai kuliah (28/04).
Dia juga menambahkan, sebaiknya dosen memberikan arahan kepada mahasiswanya untuk juga dapat berpartisipasi dalam berbagai organisasi, pelatihan, seminar, atau lomba-lomba non-akademis di luar kelas perkuliahan. Sehingga mahasiswa dapat melihat bahwa dunia diluar kampus itu lebih luas dari apa yang dibayangkan.

“Berbagai macam teori-teori yang diajarkan dosen kepada mahasiswa belum dapat menjamin bahwa seusai menyelesaikan jenjang perkuliahan, mahasiswa dapat menerapkan teori-teori tersebut dengan mengaplikasikan di dunia pekerjaan yang sesungguhnya. Hal ini akan dirasa sangat sulit, jika sistem pengajaran dosen di PTN hanya mengandalkan teori yang diberikan kepada anak didiknya. Selain itu adanya keseimbangan pemberian teori dan praktek kepada mahasiswa, mampu melatih sisi psikologis mereka agar tetap menjadi pribadi yang tidak hanya kritis tapi juga rendah hati”, tegas Lutfi yang pernah meraih kemenangan di ajang  Caraka Festival Kreatif 2011.

PTN perlu menambah dosen-dosen yang notabene berasal dari praktisi sehingga pembelajaran dapat berimbang. “ Saya rasa Universtas Negeri perlu penambahan dosen-dosen dari sisi praktisi sehingga ada keseimbangan dalam setiap pembelajaran yang diterima oleh para mahasiswa. Misalnya saja matakuliah periklanan, akan lebih cocok apabila dosen yang mengajar adalah dosen yang memang sudah malang melintang di dunia periklanan tersebut atau istilahnya sudah banyak pengalaman. Bukan malah dosen yang hanya menguasai dari sisi teori namun prakteknya tidak pernah diberikan, yang mana ilmu yang diajarkan hanya itu-itu saja tidak pernah ada pemberian referensi yang lain. Inikan juga dapat memicu pembunuhan kreatifitas mahasiswa karena dinilai dosennya tidak kreatif”, kata mahasiwa Komunikasi Undip angkatan 2008 ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membuat KTP Baru, Bisa Jadi Dalam Sehari! …

Seneng | | 22 October 2014 | 10:00

Angka Melek Huruf, PR Pemimpin Baru …

Joko Ade Nursiyono | | 22 October 2014 | 08:31

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | | 22 October 2014 | 11:28

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 4 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 4 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 4 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 5 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 5 jam lalu


HIGHLIGHT

Senang Sama Visi Poros Maritim Dunia …

Cdt888 | 8 jam lalu

Sinyal “Revolusi Mental” Skuad …

F Tanjung | 8 jam lalu

Tantangan Membuat Buku Mini Kumpulan Puisi …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Bakmi Mama Lie Ling …

Benediktus Satrio R... | 8 jam lalu

Borneo Menulis …

Anton Surya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: