Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Rustam Effendy Simamora

Ndang Pola Adong. Ndang Pola Porlu

Generasi Pencinta Pus(t)aka dan Saya, Guru Ini!

OPINI | 15 May 2012 | 03:34 Dibaca: 96   Komentar: 13   2

Dengan membaca, cakrawala orang dapat meluas mengatasi batas-batas waktu dan tempat — Franz Magnis-Suseno

Saya dekat dengan pustaka ketika duduk di bangku kuliah. Itu pun ketika semester tiga. Intens membaca mulai semester enam. Ketika semester tujuh, bertepatan dengan Praktek Pengalaman Lapangan Terpadu (PPLT), saya sudah tertarik membaca buku-buku filsafat dan teologi. Ketika PPLT ini jugalah motivasi untuk membaca semakin kuat ketika berkenalan dan tinggal bersama di posko dengan seorang teman yang keranjingan membaca. “Pak, kalau ada buku yang aku suka, sementara keuangan lagi tipis, saya mau puasa makan dengan makan hanya dua kali sehari. Uang untuk makan saya sisihkan untuk membeli buku yang saya sukai itu”. Demikian seru teman saya itu. Kami sering diskusi tentang buku-buku yang kami baca. Saya pun semakin sadar bahwa buku adalah investasi. Bahkan buku adalah pusaka.

Sekarang membaca sudah menjadi habit bagi saya. Kalau tidak membaca sebelum tidur seakan ada yang kurang. Kecintaan itu jugalah yang mencerahkan dan menolong saya untuk menulis. Saya berusaha menularkan kecintaan bersahabat dengan pustaka kepada teman-teman, terlebih kepada siswa-siswa saya. Saya menyesal karena tidak sejak dini suka membaca. Terlebih kepada siswa, saya berharap ‘kesalahan’ saya tidak terulang. Semoga mereka tidak mengalami penyesalan karena sudah belajar dari pengalaman saya.

Rendahnya Minat baca

Menumbuhkembangkan minat siswa untuk membaca di sekolah kami menjadi tantangan besar. Betapa tidak, di tempat kami ini sangat susah menemukan siswa yang rajin membaca. Membaca buku cerita saja pun tidak tertarik. Berkunjung ke perpustakaan tetapi bukannya membaca. Hanya lihat-lihat gambar saja. Kalau pun membaca buku cerita, sayangnya mereka hanya membaca buku yang menurut saya bacaan anak SD: gambar-gambar mencolok dan berwarna, ukuran huruf besar dan jumlah halaman tipis. Padahal mereka sudah SMP. Saya hanya bisa mengelus dada, dan berharap tak selamanya mereka begitu. Tak apalah di awal-awal pikirku menimpali.

Di ruang kelas, sering scenario pembelajaran yang saya rencanakan ditinggal hanya untuk mengingatkan dan motivasi siswa supaya suka membaca. Tak harus membaca buku fisika atau matematika. Asalkan mereka membaca. Omong kosong pengetahuan sains dan matematika siswa berada pada level yang baik tanpa keterampilan berbahasa. Dan di lain sisi, dengan membacalah keterampilan berbahasa tercapai dengan baik.

Pernah juga terpikirkan, barang kali buku bacaannya yang kurang sesuai dengan minat siswa. Setelah saya amati ternyata bukan. Dasar siswanya yang kurang berminat untuk membaca. Tentunya banyak factor yang mempengaruhi hal ini.

Guru Bahasa Indonesia

Guru bahasa Indonesia ditantang sebagai salah satu pembangun minat baca siswa. Sayangnya, Guru bahasa Indonesia bukannya menjadi bagian dari solusi, mereka justru bagian dari masalah – setidaknya di tempat saya mengajar. Guru-guru di tempat kami sangat malas untuk membaca. Apalagi untuk menulis. Mereka berdalih, “sudah tua, jadi sulit konsentrasi untuk membaca”. Kalau gurunya sendiri malas membaca, bagaimana lagi dengan siswanya? Di mana lagi siswa mendapat teladan membaca kalau bukan di sekolah?

Ibu saya guru sebelum sakit. Ibu bukan tipe orang yang dekat dengan bacaan. Tetangga sebelah juga guru. Banyak guru di sekitar tempat tinggal kami. Tapi mereka lebih dikenal sebagai guru yang rajin ke ladang. Bukan guru yang rajin berkunjung ke perpustakaan. Up date dengan perkembangan handphone, style berbusana, bahkan up date dengan kendaraan, tapi ketinggalan dengan pengetahuan. (Padahal sains sendiri banyak mengalami perubahan secara mendasar!)

Bagaimana dengan Masyarakat?

Budaya baca-tulis saya kira belum populer. Tak perlu kiranya saya menyertakan data-data statistic. Dari pengamatan saja terus nampak. Mahasiswa yang katanya intelektual muda saja tidak begitu banyak yang doyan membaca. Mereka lebih bersahabat dengan handphone daripada buku. Buka internet paling buka facebook. Itu pun hanya “komen gitu-gitu doang”. Sesekali update status.

Sekalipun internet bisa dikatakan sebagai ensiklopedia raksasa, tanpa minat membaca, itu tidak akan banyak memberikan pencerahan dan pencerdasan. Laman web, gudang pengetahuan, akan sama saja dengan suatu jenis buku ‘maha bermanfaat’ yang terbuka tetapi tidak dibaca.

Penutup

Terus terang, saya tak punya gagasan supaya masyarakat, khususnya orang tua siswa, lebih dekat dengan buku. Semacam trik khusus atau tips ringkas supaya para orang tua membangun kebiasaan bersahabat dengan buku atau bagaimana orang tua mengajarkan anak-anak mereka mencintai literature, tak saya miliki. Saya hanya beranggapan, satu-satuya lingkungan supaya siswa lebih bersahabat dengan buku adalah sekolah. Iya, sekolah. Dengan guru sebagai pemantik dan penyulut api hasrat membaca siswa. Memang ada kalanya siswa mendapat minat membaca di tempat lain. Tapi, tak bisa tidak, guru-lah yang paling bertanggung jawab setelah orang tua. Dibandingkan jumlah orang tua yang tidak gemar membaca, sedikit saja orang tua yang mencintai dan memacu buah hatinya untuk membaca.

Anak-anak tidak akan mendapat dorongan membaca di rumah. Orang tua sibuk bekerja. Malamnya istirahat. Anak-anak seyogianya melihat antusiasme guru dalam membaca. Antusiasme ini terkesan sederhana. Ketika si siswa melihat gurunya bersemangat untuk membaca, dia pun yakin, membaca itu pastilah sangat bermanfaat. Sangat penting. Di awal sajanya itu agak membosankan. Siswa pun meniru sang Guru. (Setiap kita pun belajar dengan meniru. se-otentik-otentiknya (pemikiran) kita, kita hanyalah peniru. Tak apa, asalkan bukan penipu). Dan, keteladanan guru lebih mendidik daripada nasehat.

Semoga kita yang suka ‘bercumbu’ dengan buku, menjadi model bagi siswa. Dan mereka pun gemar membaca, dan perpustakaan pun sepi dengan buku. Bukan karena memang tak ada buku di sana, tetapi bukunya pada dipinjam siswa semuanya. Lahirlah generasi cerdas, arif dan bijaksana. Mereka beregenerasi. Generasi yang dekat dengan buku, (berkecenderungan) melahirkan generasi yang juga mencintai buku.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Petrus Lengkong, Seniman Dayak, Pensiunan …

Emanuel Dapa Loka | | 20 September 2014 | 08:56

Menilik Kasus Eddies Adelia, Istri Memang …

Sahroha Lumbanraja | | 20 September 2014 | 11:51

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 10:24

Wow… Peringkat FIFA Indonesia Melorot Lagi …

Hery | | 20 September 2014 | 09:35

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 6 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 7 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 7 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Gas Elpiji 12 Kg dan Elpiji non subsidi …

Asep Wildan Firdaus | 7 jam lalu

Wow! Demi Cinta, Wanita Ini Tinggalkan …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Sempol, Desa Eropa di Kaki Gunung Ijen …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Memangnya di Sorga Ada Apa?? …

Fenusa As | 8 jam lalu

Menikmati Penyakit Hati …

Orang Bijak Palsu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: