Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Syaiful W. Harahap

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Prostitusi ‘Cewek ABG’ di Bangka Belitung: Mengabaikan Perilaku Seks Laki-laki Dewasa

REP | 14 May 2012 | 15:58 Dibaca: 753   Komentar: 0   0

Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Bangka Belitung (Babel), Yulizar, mengaku miris mendengar ada anak baru gede (ABG) di Babel terjerumus pergaulan seks bebas dan prostitusi (Yulizar Miris ABG Babel Terjerumus Prostitusi, bangkapos.com, 9/5-2012).

Sayang, Yulizar dan wartawan yang menulis berita ini tidak mencari realitas sosial terkait dengan laki-laki yang ‘membeli’ (pelayanan) seks ABG tsb. Karena tidak ada keterangan tentang laki-laki yang ‘memakai’ ABG itu, maka stigma (cap buruk) pun diberikan pada ABG.

Padahal, ABG tsb. terjerumus ke prostitusi tidak bisa dilepaskan dari peranan laki-laki dewasa, yang dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, pacar, duda, lajang, dll. yang bekerja sebagai pegawai, karyawan, rampok, mahasiswa, dll.

Dibagian lain dikabarkan Yulizar mengatakan: ” …. kondisi ini menujukkan terjadinya kemorosotan moral anak-anak usia sekolah.”

Tentu saja Yulizar tidak objektif karena dia tidak memberikan julukan kepada laki-laki dewasa beristri yang ’memakai’ ABG itu.

Apakah laki-laki dewasa, tertutama yang terikat dalam pernikahan, yang ’membeli’ seks dari ABG bukan kemerosotan moral?

Kasus-kasus IMS (infeksi menular seksual, seperti sifilis, GO, hepatitis B, dll.) serta HIV/AIDS banyak terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga. Mereka ini tertular dari suaminya. Nah, apakah suami-suami yang menularkan IMS atau HIV atau dua-duanya sekaligus kepada istrinya bukan kemerosotan moral?

Masih menurut Yulizar: ”Saya kerap melihat jam 11 malam masih ada ABG perempuan berkeliaran di luar rumah.”

Pertanyannya: Bagaimana dengan ABG laki-laki dan laki-laki dewasa yang juga berkeliran di luar rumah di malam hari?

Dalam kaitan ini Yulizar dan wartawan tidak melihat fenomena ABG tsb. dengan perspektif, tapi mereka melihatnya dengan moralitas diri mereka sebagai laki-laki ’bermoral’.

Yulizar, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengatakan: ”Kemerosotan moral anak muda di Babel harus segera diperbaiki.”

Selama laki-laki dewasa tetap ada yang melacur, maka selama itu pula ABG perempuan akan ada yang terjerumus ke lembah nista.

Karena yang dipakai wartawan dalam menulis berita ini adalah sudut pandang, maka berita ini pun bias gender. Hanya menyalahkan ABG perempuan.

Yulizar mengaku, sudah berkali-kali menyampaikan ke Dinas Pendidikan Babel, Biro Kesra dan badan perlindungan anak agar membuat program pembinaan ke sekolah-sekolah.

Lalu, bagaiaman dengan pembinaan terhadap laki-laki dewasa yang ’membeli’ seks dari ABG tsb.

Praktek prostitusi yang melibatkan ABG putri tidak lepas dari perilaku laki-laki dewasa. Selama laki-laki dewasa penduduk Babel tetap ada yang melacur, maka selama itu praktek pelacuran akan terus bergulir di Babel. ***[Syaiful W. Harahap]***

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: