Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Observasi Kelas, Memperbaiki Cara Mengajar Guru

REP | 17 May 2012 | 00:44 Dibaca: 2302   Komentar: 22   3

13371721881405756093

Koleksi Pribadi

Hari ini saya melakukan observasi guru yang sedang mengajar ke tiga kelas sekaligus, kelas 1, 2, dan 4. Observasi ini dilakukan untuk menilai guru yang mengajar sehingga bisa dijadikan acuan untuk menjadi lebih baik. Bukankah guru yang baik adalah pembelajar yang baik pula? Maka selalu belajarlah dengan baik wahai guru sekalian.

Selain itu, observasi juga dilakukan untuk mengambil sikap atau hal yang baik dari guru senior untuk diterapkan pada diriku sendiri. Tidak ada manusia yang semua jelek, pasti ada baiknya walau sedikit. Begitupun sebaliknya, tidak ada yang semuanya baik, tetap ada celanya. Sama seperti guru, tidak ada guru yang benar-benar baik tanpa cela. Semuanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Karena belum ada guru yang datang ketika jam 7, maka saya membunyikan bel masuk dan mengumpulkan semua siswa di lapangan. Sebelum masuk ke kelasnya masing-masing, saya meminta mereka untuk memunguti sampah yang berserakan. Entahlah, mengapa mereka suka sekali membuang sampah tidak pada tempatnya, padahal sudah ada tong sampah dan tempat sampah di sekolah. Beberapa kali saya juga mendapati guru yang seenaknya membuang sampah, mungkin inilah sebabnya siswaku masih kurang menyadari bahwa membuang sampah sembarangan adalah hal yang tidak baik. guru, lets walk the talk!!

Observasi pertama saya lakukan pada guru penjaskes, Ia datang paling awal dari guru yang lain, walau menurut jam sekolah, Ia juga telat. Ia sungkan kepadaku karena keterlambatannya. Ketika memulai pelajaran di kelas terlihat dari wajahnya agak grogi, namun lama kelamaan semua berjalan lancar. Saya pun memberikan penilaian yang baik untuknya.

Guru kedua yang saya observasi adalah guru kelas 1, harusnya mengajar tematik, tapi ternyata tidak. Tapi saya tetap memberikan penilaian yang baik kepadanya karena mampu memberikan pengajaran yang lumayan menarik untuk siswanya tapi tetap ada beberapa catatan untuknya. Beberapa kali ia keluar dan meninggalkan siswa di kelas. Untungnya siswa disini memang penurut, tidak ada yang keluar kelas walau tidak ada guru yang menemaninya.

Sedangkan guru ketiga yang saya observasi adalah guru agama, Ia masih sangat muda, walau lebih tua dariku beberapa tahun. Sebelum mengajar di SD ini dia mengajar di SMA, maka terlihat beberapa kesulitan ketika mengajar. Mengajar anak SD jelas tidak bisa disamakan dengan mengajar anak SMA. Mengajar anak SD harus menciptakan suasana yang menyenangkan, bukan menyeramkan.

Hari ini sang guru mengajarkan tentang akhlak terpuji. Namun di awal pembelajaran Ia memberikan materi tahfidz quran, surat pendek. Nah sayangnya sang guru salah membaca qurannya, tajwid dan makhrojul hurufnya berantakan, tapi ngotot saja Ia membenarkan bacaan siswa yang sebenarnya sudah benar. Selain itu anak-anak terlihat kaku dengan sang guru, karena guru tidak bisa membawa suasana kelas menjadi menyenangkan.

Dari observasi ini saya mengambil beberapa pelajaran, salah satunya adalah salah jika anda menganggap menjadi guru SD itu adalah pekerjaan yang mudah! Salah jika anda menganggap mengajar SD itu jauh lebih mudah dari pada mengajar SMP dan SMA! Bagiku semua memiliki tantangannya masing-masing. Mungkin materi SD memang dasar, namun jika tidak disampaikan dengan baik dan menyenangkan, semua menjadi jauh lebih susah dibandingkan mengajar SMP dan SMA yang semua siswanya sudah lebih mudah diarahkan.

Guru apapun anda saat ini, SD, SMP, SMA, PT, atau hanya guru dalam rumah tangga, anda memegang peranan penting dalam membangun negeri ini. Mari mengajar dengan baik dan menyenangkan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selayang Pandang Tentang Demonstrasi …

Fera Nuraini | | 01 October 2014 | 20:57

“Menjadi Indonesia” dengan Batik …

Hendra Wardhana | | 02 October 2014 | 05:49

Mari Melek Sejarah Perlawakan Kita Sendiri …

Odios Arminto | | 02 October 2014 | 04:32

Seandainya Semalam Ada Taufik Kiemas …

Hendi Setiawan | | 02 October 2014 | 07:27

[DAFTAR ONLINE] Kompasiana Nangkring bersama …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:36


TRENDING ARTICLES

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 4 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 4 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 6 jam lalu

MK Harus Bertanggung Jawab Atas Kericuhan …

Galaxi2014 | 8 jam lalu

Sepedaku Dicolong Maling Bule …

Ardi Dan Bunda Susy | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | 7 jam lalu

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | 7 jam lalu

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Sahara Bisnis | 8 jam lalu

Nangkring “Special” bersama Bank …

Kompasiana | 8 jam lalu

Kampung Media, “Kompasiananya” …

Ahyar Rosyidi Ros | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: