Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhibbuddin Abdulmuid Yassin Marthabi

Saya manusia biasa yang makan dan minum…bisa lapar dan haus..yang bisa senyum dan sakit…bisa gembira selengkapnya

Anjing dan Pelacur yang Masuk Surga

OPINI | 18 May 2012 | 07:25 Dibaca: 2191   Komentar: 2   0

Di tengah masyarakat kita, kata “anjing” seringkali diartikan sebagai binatang yang rendah, hina, dan najis. Bahkan, kadangkala ada yang menggunakan kata “anjing” sebagai ungkapan kekesalan dan ungkapan ketidaksukaan seseorang terhadap seseorang atau sesuatu. Kemudian, “pelacur” juga ditempatkan pada posisi yang nista, hina, kotor dan tidak bersusila.

Mengenai anjing, dilihat dari kaedah ilmu fiqih, memanglah ada bagian dari anjing yang najis. Tetapi kaedah fiqih juga yang memperbolehkan berburu menggunakan anjing dan hasil buruannya termasuk halal. Mengenai pelacur, memang perbuatan zina sudah tidak diragukan lagi dalam Islam sebagai perilaku bejat dan tidak bersusila.

Tentang anjing dan pelacur, dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Allah pernah berterima kasih dan mengampuni dosa seorang pelacur dan menjanjikan masuk surga. Dikisahkan, ada seorang pelacur yang pulang dari tempat praktiknya di tengah jalan menemukan seekor anjing yang menjulurkan lidah karena kehausan. Dia berpikir sesaat apa yang harus dilakukan untuk menolong si anjing. Dari kejauhan dia melihat sebuah sumur. Dengan seutas tali, dia mengikat sepatunya untuk mengambil air dari sumur. Kemudian dia berikan minum kepada anjing yang hampir mati karena kehausan tadi ( Ali An Nasf,At Taj al Jamií lil Ushul fi Ahadits ar Rasul, jil, 5, hal. 18-19).

Anjing dan pelacur, keduanya sama-sama berada dalam “status” kurang baik di mata umat Islam, meskipun Islam tidaklah menempatkan keduanya sebagai “barang buangan dan tidak berguna”. Islam masih memberikan harapan kepada pelacur, untuk mengenyam kenikmatan surga di akhirat kelak.

Dengan kedudukan yang rendah dari sudut pandang masyarakat, mungkin seluruh masyarakat tidak terkecuali masyarakat berperadaban modern sekarang ini, pelacur akan mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan masyarakat normatif. Meskipun demikian, ternyata melalui hadits di atas, Allah bisa melihat dan membuktikan “kemuliaan” dan “rasa kasing sayang” pelacur tersebut, sehingga memiliki derajat yang layak sebagai penghuni surga kelak di akhirat (meskipun tidak dijelaskan “kapan” masuk surganya”).

Ini membuktikan, bahwa menurut pandangan Allah, anjing dan pelacur tidaklah sehina dan senista pandangan manusia umumnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-Keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Yohanes Surya Intan yang Terabaikan …

Alobatnic | | 02 September 2014 | 10:24

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 6 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Agung Laksono Lanjutkan Warisan Kedokteran …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Mengenal Bunga Nasional Berbagai Negara di …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cemburu Bukan Represent Cinta …

Diana Wardani | 9 jam lalu

“Account Suspended @Kompasiana Diburu …

Tarjo Binangun | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: