Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Syukri Muhammad Syukri

Orang biasa yang ingin memberi sesuatu yang bermanfaat kepada yang lain…. tinggal di kota kecil Takengon selengkapnya

BSE, Perpustakaan Tanpa Buku

REP | 21 May 2012 | 13:36 Dibaca: 598   Komentar: 7   1

13376072691521822137

Buku sekolah elektronik (BSE) Bahasa Indonesia untuk siswa SD cukup menarik dengan ilustrasi gambar sebagaimana buku hasil cetakan

Buku adalah jembatan ilmu, begitu kata-kata bijak yang sering diucapkan orang. Kata bijak itu sungguh sangat benar, sebab orang bisa menggali dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan berdasarkan buku yang ditulis para ilmuan atau penulis lainnya.

Demikian pula halnya bagi anak-anak sekolah dasar (SD), kebutuhan akan buku bacaan dan buku pelajaran menjadi penentu bagi mereka dalam menyelesaikan pendidikannya. Sebagai orang tua, kompasianer sangat berharap dapat melengkapi buku bacaan dan buku pelajaran bagi anak saya yang masih duduk di bangku kelas 2 SD.

Sayangnya, di kota kecil tempat kompasianer bermukim belum ada toko buku yang memiliki judul buku yang lengkap. Dapat satu judul buku, tetapi tidak ada judul yang lain. Kendala ini menyebabkan sejumlah siswa terpaksa memfotocopy buku yang dimiliki teman-temannya. Salah satunya adalah buku anak saya yang paling sering dipinjam untuk difotocopy.

Sejak kompasianer berlangganan jaringan internet mulai tahun 2010, kesulitan memperoleh buku bacaan maupun buku pelajaran sudah dapat diatasi. Selain membaca buku elektronik untuk kebutuhan sendiri, kompasianer juga mendownload hampir semua buku sekolah elektronik (BSE) dari situs Kementerian Pendidikan Nasional.

Buku sekolah elektronik (BSE) yang didownload dan disimpan di PC kompasianer mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 SD. Selain soft copynya disimpan di hardisk PC, kompasianer juga memprint out BSE tersebut. Hal ini untuk memudahkan anak-anak membacanya, bisa dibaca sambil nonton televisi. Ternyata, BSE itu juga difotocopy oleh teman-teman anak saya. Bermanfaat juga, pikir saya.

Tidak jarang, sejumlah teman-teman anak saya dari berbagai usia sering berkumpul di depan PC. Mereka ada yang khusus untuk membaca, ada pula yang mengerjakan PR. Melihat mereka yang begitu asyik membaca buku-buku elektronik, rasanya begitu bahagia. Terkadang ruang kerja saya sudah menyerupai perpustakaan umum, tetapi tanpa lemari buku karena semuanya berupa buku elektronik.

Demikian pula bagi anak saya yang bernama Asyraf (8 tahun) benar-benar memanfaatkan BSE sebagai buku pegangan untuk menyelesaikan PR-nya. Menurutnya, BSE untuk SD itu sangat menarik karena gambar-gambarnya cantik-cantik, begitu juga tulisannya besar-besar sehingga mudah dibaca. Terkadang saya juga heran, dia membaca BSE untuk kelas yang lebih tinggi karena semua buku-buku itu sudah saya download ke PC saya.

Dari komunikasi dengan beberapa teman anak saya, ternyata belum semua sekolah memanfaatkan BSE sebagai buku pegangan di sekolahnya. Guru-guru mereka masih mewajibkan menggunakan buku pelajaran non BSE. Buku keluaran penerbit tertentu itu terkadang sulit ditemukan di pasaran. Saya jadi berpikir, kenapa mereka masih mau menyusahkan siswa dengan mewajibkan buku-buku mahal itu, padahal sudah ada BSE yang sangat murah.

Pagi tadi, kompasianer mencoba menelusuri, dan bertanya kepada ibu guru S (inisial nama guru dari teman anak saya) di sebuah SD yang terletak di tengah Kota Takengon Aceh Tengah. Dari perbincangan dengan kompasianer, ternyata si ibu guru mengetahui bahwa Kemendiknas menyediakan BSE, tetapi dia kurang memahami cara mendownloadnya. Dia menambahkan, rata-rata guru SD kurang familier dengan PC atau laptop sehingga mereka terpaksa menggunakan buku-buku lama.

Kasihan melihat keluguan ibu guru S tersebut, saya menawarkan print out BSE untuk difotocopy. Dia kelihatan kurang merespon. Setelah saya desak, akhirnya dia buka kartu bahwa dia tidak memiliki cukup uang untuk memfotocopy BSE tersebut. Akhirnya, saya serahkan semua print out BSE tersebut dengan harapan orang tua siswa yang membutuhkan dapat memfotocopy dari si ibu guru itu.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 9 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 9 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 10 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 8 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 8 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 9 jam lalu

Rinni Wulandari Lebih Melesat… …

Raynadi Salam | 9 jam lalu

Kecardasan Tradisional …

Ihya Ulumuddin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: