Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Johan Wahyudi

Kolumnis, Penulis, Penyunting, dan Motivator Kepenulisan dan PTK. CP 08562517895 dan Email: jwah1972@gmail.com. Deskripsi Lengkap: selengkapnya

Pesta Seks Usai Lulus Ujian

REP | 27 May 2012 | 10:25 Dibaca: 5177   Komentar: 65   7

Beda zaman beda kebiasaan. Dahulu, ujian selalu dilakukan untuk mengukur keberhasilan seseorang. Setiap akan mendapatkan sesuatu, tentunya kita akan menghadapi ujian. Berat dan ringannya ujian sangat dipengaruhi tinggi dan rendahnya cita-cita. Jika bercita-cita tinggi, besar dan berat pula ujian yang akan dihadapinya. Rerata kita berkeinginan untuk mendapatkan ujian yang ringan sedangkan cita-cita kita teramat tinggi. Maka, mustahillah kita menjadi pribadi terpuji. Seperti yang dilakukan 10 pasang anak muda dari Riau kemarin.

Melalui layar kaca alias televisi di hotel tempatku menginap, pagi ini, saya dibuat terkejut bukan alang kepalang. Sepuluh pasang anak remaja yang baru saja lulus Ujian Nasional (UN) diduga akan merayakan kelulusannya dengan mengadakan pesta seks di sebuah hotel. Mereka tertangkap basah oleh petugas. Karena tidak dapat menunjukkan surat-surat yang sah sabagai pasangan resmi, petugas pun menggelandang mereka ke kantor.  Di kantor itu, kesepuluh pasang anak muda itu dimintai keterangannya. Lalu, mengapa mereka berani melakukan perbuatan tercela itu? Bagaimana pula kita bersikap atas kejadian tersebut?

Seperti lazimnya anak-anak, tentu ujian dianggap sebagai tantangan. Ketika menghadapi ujian dan mereka merasakan beratnya ujian, tentunya mereka memerlukan hiburan. Usai menghadapi ujian yang dirasakan berat, mereka membutuhkan pelampiasan atas terselesaikannya sebuah tugas berat. Sayangnya, pelampiasannya itu termasuk ke kategori perbuatan bejat.

Sebenarnya kasus asusila anak remaja itu sering terjadi dan selalu terjadi sepanjang tahun. Namun, kita sering menutup mata atas kejadian itu karena kita telah menganggapnya sebagai tradisi. Kita sering memaklumi perbuatan mereka sedari awal. Ketika mereka berpakaian bak artis, kita mendiamkannya sedangkan mereka adalah murid. Mereka berpacaran begitu mesra di depan kita sedangkan mereka masih berstatus pelajar. Dan mereka menjalin hubungan suami-istri sedangkan mereka belum diresmikan sebagai pasangan yang sah. Bayangkanlah jika kita menjadi orang tuanya.

Guru tidak dapat menjamin moral anak didiknya. Guru hanya bertugas untuk mendidik mereka di sekolahnya. Ketika mereka berada di sekolah, tentu guru akan memberikan pendidikan karakter yang santun, akhlak mulia, pengetahuan, dan keterampilan hidup. Untuk semua jenis pendidikan berkarakter itu, guru hanya diberi waktu sekitar 5 jam per hari, yaitu berkisar jam 07.00 – 13.00. Sehari terdiri atas 24 jam. Lalu, bagaimanakah orang tua menggunakan 19 jamnya untuk mendidik anak-anak itu di rumah? Bagaimanakah anak-anak itu akan berperilaku setelahnya?

Di luar sekolah, anak-anak langsung berhadapan dengan dunia nyata dan maya. Ketika orang tua tidak lagi berada di rumah, mereka dapat berbuat apa saja. Di hadapannya, terhidang beragam fasilitas tanpa batas: internet, warnet, DVD player, majalah porno, kesempatan, dan juga duit. Jika semua tersedia di depan mata, maka janganlah kita menyalahkan mereka ketika mereka berusaha mempraktikkan semua yang pernah dilihatnya? Mestinya kita menyalahkan diri kita sebagai orang tua.

Sejauh yang saya ketahui, orang tua sering berpikir picik bin sempit. Orang tua sering menyerahkan nasib anaknya secara total kepada pihak sekolah. Orang tua sudah menganggap tugasnya selesai sebagai orang tua usai menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah. Setelah itu, orang tua bersuka-suka bepergian dan bekerja tak kenal waktu tanpa berusaha berkomunikasi dengan pihak sekolah dan mengontrol perilaku anak-anaknya jika tidak bersekolah.

Nasi sudah menjadi bubur dan tidak lagi bisa diubah menjadi nasi. Sepuluh anak itu sudah tertangkap tangan oleh petugas. Sepuluh anak itu merupakan guru bagi kita untuk bersikap. Apakah kita akan meniru perilaku guru itu ataukah kita harus mengenyahkan guru itu? Sepuluh anak itu telah memberikan pelajaran berharga bagi kita sebagai orang tua. Dan orang tua sepuluh anak itu mesti bertanggung jawab karena anaknya telah menjadi guru tak bermoral. Mari kita berjibaku untuk mencerdaskan anak-anak agar terhindar dari perilaku demikian. Tertulis dari sebuah hotel nan asri di Kota Solo sambil melihat cantiknya gadis remaja dan pasangan remaja yang berlalu lalang di depanku.

Teriring salam,

Johan Wahyudi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kapan Kota di Indonesia Jadi World Book …

Benny Rhamdani | | 23 April 2014 | 09:29

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Ina Craft Apakah Mampu Membantu dan …

Een Irawan Putra | | 23 April 2014 | 06:01

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 4 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 5 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 6 jam lalu

Masih Adakah Harapan bagi Win-HT? …

Syarif | 8 jam lalu

Menelanjangi Iklan LA Lights ‘Cari …

Giri Lumakto | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: