Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bella Vlinder

Hidup untuk terus berkarya dan bermanfaat untuk orang lain..

Yang kami butuhkan bukan nilai, tapi ilmu..!!!

OPINI | 30 May 2012 | 21:31 Dibaca: 198   Komentar: 3   3

Melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi adalah hal yang saya idam-idamkan sejak masih duduk di bangku kelas 2 SMK. Rasanya iri sekali ketika melihat kakak-kakak mahasiswa memakai jas almamater bergerak aktif dalam berbagai kegiatan pendidikan atau sosial masyarakat. Apalagi jika saya mendengar mereka bisa menorehkan prestasi di tingkat nasional ataupun internasional. Saya rasa itu akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri jika saya juga bisa seperti mereka. Saya yang terbiasa aktif berorganisasi ingin sekali bisa seperti mereka.

Memasuki kelas 3 SMK, niat saya untuk melanjutkan kuliah mulai terombang-ambing. Banyak teman-teman yang memilih untuk bekerja daripada melanjutkan kuliah. Maklum, kami adalah siswa SMK yang orientasi kedepannya untuk langsung bekerja ketika lulus sekolah. Disamping pilihan bekerja, saya juga mulai tertarik menjadi seorang pengusaha. Mungkin karena terlalu sering mengikuti workshop dan lomba-lomba kewirausahaan, mindset saya jadi terbentuk untuk membuka usaha sendiri. Saya jadi dilema. Tapi semuanya saya pertimbangkan dengan matang. Akhirnya untuk menyenangkan hati orang tua, saya putuskan untuk bekerja.

Walaupun sudah bekerja, impian saya untuk melanjutkan pendidikan tidak pernah pudar. Saya rasa perlu untuk menimba ilmu lebih dalam untuk bidang yang saya ingin tekuni. Butuh waktu cukup lama untuk memilih-milih sekolah tinggi mana yang sesuai dengan jam kerja dan keuangan saya. Akhirnya saya putuskan untuk rehat setahun sampai saya mulai berkuliah.

Awal mula saya berkuliah, terasa sangat berat untuk menjalaninya. Bayangkan, saya harus bekerja mulai pukul 7.30 s.d 17.30, lalu saya langsung menuju kampus dengan jarak tempuh sekitar 1 jam. Padahal kuliah dimulai sekitar pukul 18.00. Ya, alhasil saya selalu saja datang terlambat. Bahkan teman-teman dan dosen juga sudah hapal kalau saya pasti terlambat setiap hari. Tapi saya coba melakukan semuanya dengan ikhlas. Saya pikir ini adalah perjuangan saya untuk mendapatkan ilmu.

Setelah beberapa minggu berkuliah, akhirnya saya mulai terbiasa. Kini saya juga merasa kalau kuliah adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan. Walaupun lelah sehabis bekerja, saya bisa berkumpul bersama dengan teman sebaya. Melupakan masalah pekerjaan dan bersenda gurau bersama. Kadang para dosen yang mengajar kami juga mengerti apa yang kami rasakan. Mereka sering menyelipkan guyonan-guyonan sederhana saat mengajar. Suasana kelas juga dibuat se-rileks mungkin agar kami semua tidak merasa jenuh dan memberatkan.

Lalu bagaimana saya mengatur waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas? Untuk waktu belajar, saya dan teman-teman sekelas sering mengadakan belajar bersama. Karena mayoritas dari kami adalah pekerja, biasanya kami mengambil waktu hari minggu. Masalah tugas lain lagi. Karena dosen terlalu pengertian, maka tugas yang kami dapatkan juga tidak sebanyak kuliah reguler. Bahkan ada satu mata kuliah yang memberikan tugas akhir saat akhir semester. Mungkin karena tidak ingin memberatkan mahasiswanya. Lalu kapan saya mengerjakannya? Kelas saya punya strategi sendiri saat mengerjakan tugas. Rutinitas kami yang sangat padat membuat kami hanya punya sedikit waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas. Akhirnya kami sepakat untuk membagi giliran siapa yang mengerjakan tugas. Bergantian setiap mata kuliah. Jika sudah selesai, maka jawaban tugas tersebut akan kami sebar melalui email.

Mungkin untuk sebagian orang ini terlihat curang dan mengandalkan. Tapi inilah sistem belajar kami. Buat kami, nilai tugas bukanlah sesuatu yang penting. Karena nilai bagus tidak akan menentukan suksesnya kami di masa depan. Yang menjadi tujuan kami kuliah adalah ilmu. Tugas bisa di-copy, tapi tidak untuk ilmu. Maka setiap kali jawaban tugas disebarkan, kami selalu menyempatkan waktu untuk membahasnya bersama. Dan setiap ada mahasiswa yang kurang paham akan sebuah mata kuliah, maka mahasiswa lainnya akan saling membantu. Buat saya itu sistem yang menyenangkan. Karena kesibukan di dunia kerja kadang tidak bisa diprediksi, jadi sah-sah saja men-copy jawaban tugas, yang penting kami mengerti ilmu yang dipelajari.

Sekarang saya masih menikmati kesibukan sebagai seorang pekerja dan mahasiswa. Mencoba bertahan di dalam rentetan panjang aktivitas yang saya jalani. Dan saya juga berusaha untuk tetap fokus di keduanya. Tidak ada yang saya priorotaskan. Tapi bagaimana seharusnya saya menyeimbangkan. Untuk para pelaku ganda (kerja-kuliah) yang punya pengalaman yang sama seperti saya, bertahanlah untuk beberapa tahun ke depan, karena di akhir nanti kita akan mendapatkan hasil yang lebih baik dari sekarang.

Salam,

Bella Vlinder

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Susahnya Mencari Sehat …

M.dahlan Abubakar | | 30 August 2014 | 16:43

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | | 30 August 2014 | 18:30

Negatif-Positif Perekrutan CPNS Satu Pintu …

Cucum Suminar | | 30 August 2014 | 17:13

Rakyat Bayar Pemerintah untuk Sejahterakan …

Ashwin Pulungan | | 30 August 2014 | 15:24

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Florence Penghina Jogja Akhirnya Ditahan …

Ifani | 5 jam lalu

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 15 jam lalu

Masalah Sepele Tidak Sampai 2 Menit, Jogja …

Rudy Rdian | 16 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 18 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: