Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Maryam

Alumni SMA N 3 Yogya (3B), FK. UGM. Minat : Kesehatan, lingkungan, pendidikkan, bahasa Jawa selengkapnya

Berbahaya Mendongeng Cerita Si Kancil

OPINI | 31 May 2012 | 00:33 Dibaca: 1856   Komentar: 22   2

Kancil menipu buaya

Kancil menipu buaya

Tidur merupakan pola rutinitas harian, yang diperlukan anak untuk memacu pertumbuhannya. Karena ketika seorang anak tidur, hormon pertumbuhannya bekerja lebih optimal dibandingkan dengan ketika terjaga.

Tidur mempunyai pola REM dan NREM. Tidur REM, Rapid Eye Movement, tandanya bola mata bergerak-gerak. Pada tidur dengan REM ini , kita tidur tapi tidak terlalu nyenyak. Kadang mata sudah merem tapi telinga masih mendengar. Biasanya terjadi pada awal tidur, dan akhir fase tidur ketika hendak bangun. Dalam pola tidur ini kadang disertai mimpi. Pola setelah itu adalah pola NREM, Non rapid eye movement, mata tidak bergerak, bola mata diam, kita tidur pulas. Tidak bemimpi. Dalam satu siklus tidur , pola ini berpindah pindah, dari REM ke NREM ke REM lagi .

Sementara menurut ahli syaraf, aktivitas otak kita bisa dilukur dengan alat EEG, Electro Encephalo Graph. Ada 4 gelombang otak yang sebenarnya bekerja bersamaan, tetapi selalu ada yang paling dominan pada saat itu. Berdasarkan yang direkam oleh alat ini gelombang otak yang terekam adalah beta, alfa, tetha dan delta. Gelombang beta adalah keadaan dimana orang tersebut terjaga, artinya tidak tidur. Gelombang alfa adalah keadaan seseorang dalam keadaan rilek, membaca buku dimana dibutuhkan konsentrasi, berdoa yang khusu’ dan keadaan mengantuk. Gelombang tetha adalah gelombang dimana orang dalam keadaan tidur ringan, baru mulai tidur, tidur dengan mimpi. Gelombang delta adalah tidur dalam, nyenyak sekali, tanpa mimpi.

Pada tidur REM maka gelombang otak yang terekam adalah alfa dan theta. Sementara tidur NREM yang terekam adalah gelombang delta. Pola ini dipakai oleh hypnotherapist, ahli hypnotherapy. Pada keadaan orang rileks sekali dan mengantuk, orang tersebut gelombang otak yang dominan adalah alfa dan theta. Dia tidur ringan, mata tertutup tapi masih bisa mendengar orang disekitarnya. Tentu anda sering mengalaminya kan? Menurut hypnothetapist, kesadaran orang ini berada pada alam bawah sadar. Dan orang dalam keadaan dibawah kendali alam bawah sadarnya bisa diberi saran-saran, masukan-masukan untuk ‘mengobati’ atau menyelesaikan masalahnya.

Untuk memudahkan pemahaman tentang alam bawah sadar ini, bisa dengan ilustrasi ini: ada seorang yang ingin sekali berhenti merokok, tapi sudah berkali-kali dicoba selalu gagal. Kenapa? Karena yang menginginkan berhenti merokok adalah alam sadarnya. Sementara alam bawah sadarnya tidak ingin dia berhenti dengan berbagai alasan. Atau orang yang ingin sekali melupakan masa lalu yang buruk, tapi sulit sekali melupakan. Karena alam bawah sadarnya belum mau melupakan. Ternyata memang alam bawah sadar memegang kendali yang sangat kuat dalam diri seseorang.

Seperti orang dewasa, anak yang mengantuk berada dalam keadaan kendali alam bawah sadar. Saat itu akan mendengar apa saja dan akan disimpannya di alam bawah sadarnya sampai waktu yang tak terbatas, sampai dewasa. Dan alam sadar ini akan sangat mempengaruhi perilaku anak tersebut sampai dia dewasa.

Sebagai orang tua, kita sering mendongeng untuk anak kita yang mau tidur. Dongeng apa saja. Dalam keadaan dia tidur ringan, alam bawah sadarnya mendengar cerita yang dibacakan. Apa jadinya bila dongeng yang dibacakan adalah dongeng si Kancil? Mari kita cermati muatan cerita Si Kancil. Seperti kita ketahui, cerita si Kancil selalu berujung pada Kancil yang selalu selamat dari mara bahaya. Bagaimana caranya selamat dari bahaya itu? Ya, si Kancil selalu menipu! Kancil menipu anjing ketika habis mencuri timun ditangkap petani dan dimasukkan ke kurungan. Dia berhasil menipu anjing sehingga anjing yang masuk kurungan dan dia lolos. Kancil menipu gajah ketika dia terjerembab ke lubang. Akhirnya gajah masuk ke lubang dan digunakan sebagai batu loncatan, si Kancil naik ke darat. Kancil menipu macan dalam cerita sabuk Nabi Sulaiman, akhirnya macan yang terlilit ular. Kancil menipu buaya, dengan mengatakan mau menghitung buaya karena Nabi Sulaiman mau memberi hadiah kepada semua buaya, buaya pun tertipu.

Semua cerita membuat kita berkesimpulan bahwa Kancil bisa selamat dengan cara yang licik. Yaitu menipu, berbohong. Artinya dia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Ini tentu saja akan sangat berbahaya bila diceritakan pada anak kecil yang belum tahu benar dan salah, misal anak dibawah 5 tahun. Dia akan berkesimpulan: “Oo jadi Kancil selamat, soalnya pintar, bisa menipu. Binatang lain bodoh karena bisa ditipu”. Akhirnya anak salah dalam memahami konsep pintar dan bodoh.

Kalau ini tertanam terus tiap malam menjelang tidur diberi cerita si Kancil, maka alam bawah sadar anak akan terisi dengan konsep yang salah yang akan dibawa sampai dewasa. Tentu ini akan merusak sekali moral anak. Jadilah dia menjadi anak sekolah yang pintar menipu. Maka jangan heran bila ada anak yang malas belajar tapi suka mencontek. Jangan heran bila ada remaja atau orang dewasa yang suka membuat laporan fiktif, me-mark up harga barang dan jasa, yang penting tidak ketahuan. Jangan heran kalau pejabat kita banyak korupsi, menipu rakyat, menipu negara. Jangan heran pada orang yang ketika belumjadi pejabat keras sekali menentang korupsi, tapi begitu jadi pejabat korupsi pula. Bukankah itu yang diajarkan orang tua kepadanya, seperti si Kancil kalau mau selamat?

Oleh karena itu, demi selamatnya moral anak kita, moral calon pemimpin bangsa ini, alangkah baiknya mulai sekarang kita tidak menceritakan dongeng si Kancil pada anak. Stop dongeng si Kancil. Akan lebih bermanfaat cerita semacam  Malin Kundang yang sarat makna.

Yang mengherankan, cerita Si Kancil adalah produk lama, entah puluhan atau ratusan tahun yang lalu. Pada saat itu jaman belum modern , belum terkontaminasi oleh efek negatif teknologi informasi, sehingga masyarakatnya masih biadab, masih jujur, masih suka menolong tanpa pamrih, masih sopan, masih ramah, masih punya tata krama dan berbudaya Indonesia. Kenapa  bisa hadir cerita sejenis Si Kancil ini bila masyarakatnya masih bermoral?

Mungkinkah cerita si Kancil bukan konsumsi anak? Barangkali konsumsi orang tua sebagai sindiran untuk orang yang tidak bermoral? Wallaahu alam.

Sumber:

Kuliah farmakologi (saat membahas obat-obat anti sedatif, menyinggung pola tidur)

Kuliah Syaraf, sekilas EEG ,  disampaikan oleh Dr. Pernodjo Dahlan.

Berbagai artikel tentang Hypnotherapy

Sumber gambar: http://blogger-indonessia.blogspot.com/2012/04/kancil-dan-buaya.html

Salam hormat,

Maryam

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Revolusi dari Desa di Perbatasan …

Pepih Nugraha | | 23 October 2014 | 12:52

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | | 23 October 2014 | 09:45

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Pertolongan Kecelakaan yang Tepat …

M. Fachreza Ardiant... | | 23 October 2014 | 10:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 6 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 6 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 8 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 8 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 7 jam lalu

Menunggu Hasil Seleksi Dirut PDAM Kota …

Panji Kusuma | 7 jam lalu

Penghubung Komisi Yudisial Jawa Tengah …

Muhammad Farhan | 8 jam lalu

‘Jokowi Efect’ Nggak Ngefek, …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Kisah Lebai Malang Nan Bimbang …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: