Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Maryam

Alumni SMA N 3 Yogya (3B), FK. UGM. Minat : Kesehatan, lingkungan, pendidikkan, bahasa Jawa selengkapnya

Bahasa Daerah Membuat Anak Jadi Cerdas dan Sopan

OPINI | 07 June 2012 | 05:28 Dibaca: 2798   Komentar: 34   18

http://www.edutamamulia.co.cc

http://www.edutamamulia.co.cc

Sekarang, banyak anak tidak paham bahasa daerahnya. Sayang sekali. Padahal ketrampilan berbahasa merupakan kecerdasan tersendiri. Cerdas berbahasa. Orang yang cerdas bisa menguasai banyak bahasa, tentu bukan hanya bahasa asing saja, tapi juga termasuk bahasa daerah. Tentu kita masih ingat Raden Kartono, kakak kandung Ibu RA. Kartini yang (konon) menguasai 10 bahasa (daerah dan asing).

Bahasa Jawa adalah bahasa yang sangat sempurna, lengkap. Dengan menguasai bahasa Jawa, otak anak terpacu dan menjadi cerdas karena begitu banyak yang harus dihafal, dipahami, dimengerti. Menggunakan bahasa Jawa seperti menggunakan dua atau tiga bahasa, karena untuk kata kerja dibagi menjadi 3 tingkatan, untuk sesama teman (ngoko), untuk diri sendiri ketika bercakap dengan orang yang lebih tua (kromo madya) dan untuk orang yang lebih tua (kromo inggil).   Adanya bahasa yang bertingkat ini mengajari anak sopan santun pada orang tua, ini tidak terdapat pada bahasa Indonesia.  Barangkali bahasa daerah lain seperti Sunda, Batak, Padang, Papua dan daerah-daerah lainpun sempurna dan mengajari sopan santun seperti Bahasa Jawa.

Sebagai bahasa yang sangat lengkap, Bahasa Jawa memiliki  kosa kata yang begitu banyak dan bagi yang belum menguasai terkesan rumit.   Karena lengkapnya, banyak kata yang ada dalam bahasa Jawa tetapi tidak ada dalam bahasa Indonesia. Misal kata-kata seperti berikut tidak ada dalam bahasa Indonesai: konthal kanthil, misal: “Jendelane nglengkap, konthal-kantil arep copot” (“Jendelanya terbuka secara paksa, teromabang ambinga/bergoyang-goyang mau copotDisini memang bisa diganti bergoyang-goyang tapi kurang menggambarkan keadaan yang sebenarnya.). Bocah kuwi mati kunduran mobil. (kunduran tidak ada bahasa Indonesianya sehingga harus dijelaskan panjang lebar. Dalam bahasa Indoneisa, kalimat itu menjadi: Anak itu mati karena terlindas mobil yang berjalan mundur. Kan tidak mungkin diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi: Anak itu mati karena kemunduran mobil, ya kan?) . Sebuah kalimat yang panjang. Dari sini bisa dilihat ternyata bahasa Jawa lebih efektif dari pada bahasa Indonesia.

Contoh lain bahwa betapa Bahasa Daerah dalam hal ini Bahasa Jawa lebih lengkap perbendaharaan katanya adalah : Dalam bahasa Indonesia, kita menyebut anak kambing ya anak kambing, anak kucing ya anak kucing, bunga cabe ya bunga cabe, pohon pisang ya pohon pisang dan sebagainya. Tetapi, semua itu dalam bahasa Jawa ada namanya tersendiri. Cobalah kita lihat:

Aran anak kewan (Nama anak binatang), kembang, woh (buah), wit (batang pohon):

Anak wedhus arane cempe ( Anak kambing namanya cempe)

Anak kucing arane cemeng

Anak cecak arane sawiyah

Anak jaran (kuda) arane belo

Anak sapi arane pedhet

Anak asu (anjing) arane kirik

Anak macan arane gogor

Anak bebek arane meri

Anak pitik (ayam) arane kuthuk

Anak dara (merpati) arane piyik ……. dan sebagainya.

Arane kembang (Nama bunga):

Kembang salak arane ketheker

Kembang lombok arane menik

Kembang jambe arane mayang

Kembang klapa arane manggar

Kembang jambu arane karuk….. dan sebagainya

Arane godhong (Nama Daun):

Godhong (daun) klapa arane blarak dan sebagainya

Godhong mlinjo arane so

Godhong klapa sing isih nom arane janur,

Arane woh (buah):

Woh (buah) nangka nom arane babal.

Woh jagung nom arane putren

Woh Mlinjo nom arane uceng

Woh klapa nom arane tembuluk dan sebagainya

Arane wit (pohon):

Wit (pohon) klapa arane glugu

Wit gedhang (pisang) arane debog (gedebog)

Wit jagung arane tebon dan sebagainya

Cangkriman (tebak-tebakan):

Ngarep ireng, mburi ireng, sing tengah methentheng, apa? (Depan hitam, belakang hitam, yang tengah methentheng = seperti berotot/kontraksi)

Wangsulan (Jawab): Wong mikul areng (orang sedang memikul arang)

Endase neng sikil, wetenge neng sikil, rambute neng sikil, apa? (kepala di kaki, perut di kakai, rambut di kaki, apa itu)

Wangsulan: Anak pitik kepidak . (Jawaban: Anak ayam terinjak).


Karena lengkapnya,maka dalam membuat kalimat sangat efektif, tidak perlu kalimat yang panjang. Contohnya sebagai berikut:

Ini anak kucingnya siapa?

Cukup bilang: Iki cemenge sapa? (sapa dibaca sopo dengan o ringan)

Wah anak kucingnya lucu !

Cukup bilang : Wah cemenge lucu (efektif kan?)

Dengan banyaknya hal yang ada dalam bahasa  Jawa, memacu anak untuk banyak menghafal. Dan ini hafalan yang berguna selain untuk mengasah kecerdasan, juga aplikatif. Bisa untuk dimanfaatkan. Berbeda dengan anak menghafal IPS, misal anak kelas 6 belajar tentang negeri Inggris: semua hal tentang kondisi negeri lain dipelajari seperti nama Ibukota Inggris, mata uang Inggris, penduduknya,sungainya dsb.  Demikian juga negara-negara Eropa lain, Australia, Amerika. Anak SD sudah disuruh mengahfal semua negara, kalau sudah lulus SD toh tidak terpakai. Misal ada anak karena suatu hal tidak melanjutkan ke SMP,  atau anak SMP tak melanjutkan ke SMA, hafalan-hafalan IPS itu tak ada gunanya bagi dia.   Tidak aplikatif. Lebih baik diberi pelajaran Bahasa Daerah dan Inggris atau Arab yang banyak, seandainya tidak melanjtkan, dengan bahasa darahnya yang bagus, bisa dipakai, menjadi anak yang sopan.

Pandai Bahasa Asing tapi Jangan Lupakan Bahasa Daerah

Sosok Raden Kartono, KH. Agus Salim, Sultan HB IX yang trampil berbahasa Asing namun tetap mencintai dan memakai bahasanya sendiri merupakan sikap yang patut dicontoh. Memang, bagaimanapun kita harus mempelajari bahasa asing khususnya untuk sekarang adalah Bahasa Inggris, karena sebagaian buku acuan kuliah memakai bahasa Inggris.

Namun tidak bijaksana kalau kemudian melupakan atau ada keinginan melupakan bahasa daerah. Sedangkan orang-orang Australia saja mereka heran dan kagum kepada bangsa Indonesia yang katanya ‘orang-orang Indonesia bisa menguasai paling tidak 3 yaitu bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Bahasa Inggris. Nah kalau sekarang anak-anak menggunakan bahasa ibunya bahasa Indonesia maka berarti hanya bisa 2 bahasa yaitu Inggris dan Indonesia. Wah ini suatu kehilangan sekali. Karena bahasa daerah itu selain memacu kecerdasan, sesungguhnya ada sopan santun yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Jawa, anak harus tahu mana kata yang untuk orang tua (kromo inggil/sangat halus) dan mana kata yang berarti sama tetapi digunakan untuk sesama teman (ngoko) atau mana yang krama madya,  menggunakan kata yang dipakai ketika berbicara kepada orang yang lebih tua. .

Bagaimana seharusnya?

Pertama, alangkah baiknya kalau di sekolah diterapkan seperti dalam sekolah bilingual. Sekarang bukan bi tapi trilingual. Ada hari-hari dimana seorang anak wajib berbahasa Inggris dan ada hari di mana anak harus berbahasa daerah. Sehingga ketrampilan berbahasa asing tidak akan menyebabkan lupa dengan bahasa daerah dan bahasa Indonesia.

Kedua, sekarang kurikulum bahasa Jawa terlalu melebar untuk anak-anak SD. Alangkah baiknya kalau kurikulum bahasa Jawa atau bahasa daerah lain dikhususkan untuk percakapan dengan tema yang beragam.  Seperti belajar conversation dalam berbagai tema dalam Bahasa Inggris. Rasanya anak SD tidak perlu cerita wayang karena tidak aplikatif. Cerita wayang sebaiknya diajarkan di tingkat yang lebih tinggi, SMP dan SMA.  Juga  tulisan Jawa.    Anak seusia SD alangkah baiknya diajari kosa kata yang banyak dan dipraktekkan. Ada audio visual bahasa daerah untuk menghilangkan kebosanan.

Ketiga, jumlah jam pelajaran ditambah terutama agar anak kebagian praktek percakapan. Barangkali yang tadinya 2 jam pelajaran menjadi 6 jam pelajaran. Kalau begitu memang harus ada yang dikorbankan. Sepetinya anak SD tidak terlalu membutuhkan informasi manca negara, sehingga jampelajaran IPS dikurangi. Ini bisa untuk menambah jam pelajaran bahasa Jawa.

Keempat, contoh dari orang tua. Alangkah baiknya kalau mulai sekarang orang tua berbicara kepada anak dengan bahasa daerah. Biasanya anak mengerti bahasa daerah yang digunakan untuk sesama teman (Bahasa Jawa ngoko), tapi sulit untuk yang halus. Maka orangtua seharusnya berbicara dengan kromo inggil kepada suami, dan anak akan mendengar (untuk yang berbahasa Jawa). Ketrampilan berbahasa yang pertama adalah mendengar setelah itu berbicara. Karena sering mendengar maka akan bisa berbicara. Ini saya lakukan pada anak saya. Meskipun bahasa ibu ke 3 anak saya itu bahasa Indonesia, tetapi karena sekarang hampir tiap hari saya berbicara kepada mereka dengan bahasa Jawa, maka mereka sekarang bisa berbahasa Jawa kromo inggil meskipun masih terbata-bata. Hanya saja mereka belum berani mempraktekkan kepada orang lain selain kami. Khusus untuk daerah Banyumas, rasanya tidak perlu malulah untuk menutupi bahasa daerahnya. Kenapa harus malu? Bukankah bahasa adalah hasil budi daya manusia? Bahasa Banyumas punya ciri yang unik, lucu dan  dialek yang menggelegar.  Beda memang dengan bahasa Jawa ‘wetan’  yaitu Yogya-Solo. Kalau memang malu, silahkan anak diajak bicara bahasa Jawa dialek Yogya-Solo yang halus.  Ada seorang dokter  di semarang, karena beliaunya kurang mahir berbahasa Jawa (orang Jawa tapi masa kecilnya berpindah-pindah) , anaknya dileskan wayang orang selama 3 bulan. Hasilnya sekarang anak-anaknya mahir berbahasa Jaawa kromo inggil halus.

Kelima, motivasi dari orang tua agar anak selalu berbahasa daerah di rumah, kalau benar dipuji kalau salah dikoreksi. Ini penting sehingga anak akan berani. Maka motivasi harus selalu diberikan.

Keenam, Pemerintah harusnya peduli. Karena bahasa daerah adalah kekayaan susastra yang seharusnya dilestarikan. Banyaknya kebudayaan daerah termasuk bahasa daerahnya adalah kecantikan alam Indonesia. Luar negeri boleh iri dalam hal ini. Pemerintah Australia sekarang melestarikan bahasa Aborigin, nama daerah yang ber bahasa Inggris sekarang diganti dengan bahasa Aborigin, misalnya pegunungan batu Ayers Rocks di Australia Tengah sekarang diganti dengan Nama Resmi Taman Nasional Uluru Kata Tjuta. Uluru Kata Tjuta adalah nama asli bahasa Aborigin. Juga daerah di Timur Darwin sekarang bernama Kakadu . Tahun 2006 ketika saya ikut pelatihan petugas kesehatan haji,  panitia dari Dinas Kesehatan Propinsi bilang: ” Iki  dina Kemis, nek neng Semarang  ana anjuran PNS saben dina Kemis oleh ngomong nagnggo basa Jawa.  Nek wong saka luar Jawa ya ra papa basane ngoko, senajan karo Pimpinane”( Ini hari Kamis, kalau di Semarang ada anjuran tiap hari Kamis PNS bicara dengan basa Jawa. kalu dari luar Jawa ya tidak apa pakai basa jawa ngoko/kurang halus meskipun sama Pimpinan”.  Ini adalah usaha yang bagus. Semoga ditiru oleh instansi lain baik di Jawa maupun di luar Jawa, sehingga kita sama-sama  melestarikan bahasa daerahnya masing-masing.

Sumber Pustaka:

1. Pepak Bahasa Jawa, Ronggo Warsito, 2002, Penerbit Nusantara Surabaya

2. Australi Selayang Pandang, Departement of Foregn Affair and Trade

Tulisan ini tidak bermaksud untuk melecehkan Bahasa Indonesia, hanya untuk menunjukkan bahwa dengan menguasai Bahasa Daerah, anak menjadi cerdas dan sopan.. semoga bermanfaat.

Salam hormat,

Maryam

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

Mudik Menyenangkan bersama Keluarga …

Cahyadi Takariawan | | 26 July 2014 | 06:56

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

ASI sebagai Suplemen Tambahan Para Body …

Andi Firmansyah | | 26 July 2014 | 08:20

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 12 jam lalu

Risma dan Emil Lebih Amanah Dibanding …

Leviana | 12 jam lalu

Analisis Prosedur Sengketa Hasil Pilpres …

Muhammad Ali Husein | 13 jam lalu

Jokowi: The First Heavy Metal’s …

Severus Trianto | 15 jam lalu

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: