Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Nur Aeni

Masih belajar menulis...

Pelajaran IPA Kelas 3 SD, Materi Terlalu Banyak

OPINI | 13 June 2012 | 02:02 Dibaca: 7840   Komentar: 4   3

Siapa sih yang bikin kurikulum pelajaran IPA anak SD khususnya kelas 3? Menemani anak saya yang kelas 3 ketika ujian kenaikan kelas membuat saya prihatin dengan banyaknya materi pelajaran IPA.

Kalau pelajaran lain 1 buku untuk satu tahun, maka buku IPA dan Matematika masing-masing 1 buku untuk 1 semester, artinya ada 2 buku untuk 1 tahun belajar.

Pelajaran IPA kelas 3 SD ada 12 BAB dengan materi : Makhluk Hidup, Pertumbuhan dan Perkembangbiakan Makhluk Hidup, Lingkungan, Sifat-sifat Benda, Perubahan Sifat Benda, Benda dan Kegunaannya, Gerak Benda, Energi dalam Kehidupan Kita, Eksperimen, Bentuk dan Permukaan Bumu, Awan dan Cuaca, Sumber Daya Alam.

Kalau buku Matematika, setiap halamannya kebanyakan adalah soal-soal latihan, setelah sebelumnya diberi materi belajar.

Sedangkan IPA setiap halamannya adalah materi, kecuali di akhir BAB ada evaluasi berupa soal-soal.

Pertanyaan saya kenapa materi IPA sedemikian banyaknya? Buat apa?

Apakah benar pengetahuan sebanyak itu harus dijejalkan sekarang, sebanyak mungkin kepada anak SD?

Menurut hemat saya, separuh dari materi IPA yang ada saat ini sudah cukup untuk diberikan kepada anak-anak.

Daripada waktu guru banyak dihabiskan untuk menerangkan materi sebanyak itu di dalam kelas, lebih baik materi sedikit dan selebihnya anak bisa diajak mengamati langsung di alam atau lingkungan sekitar. Tentunya pengamatan visual akan lebih melekat dan mudah dipahami anak, daripada penjelasan panjang lebar di depan kelas.

Bukan masalah guru yang tidak kreatif, tetapi kalau tuntutan materi sudah sedemikian banyak, apakah guru masih punya waktu untuk mengajak anak keluar kelas mengamati kondisi lingkungan berdasarkan materi yang didapat di kelas?

Kalaulah saya punya wewenang, pasti akan ku sunat materi IPA menjadi 50% dari yang ada sekarang.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 5 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 8 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Prof Lincolin Arsya... | 9 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 9 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: