Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Dudung Koswara

History Teacher in SMANSA Sukabumi

Pentingnya Membumikan Budaya Proses Bagi Peserta Didik

OPINI | 12 June 2012 | 23:47 Dibaca: 160   Komentar: 0   0

Oleh : Dudung Koswara, M.Pd.

Trend globalisasi menuntut pentingnya kemampuan bersaing (competitiveness ), namun bangsa kita masih terbebani oleh masih kuatnya tradisi pragmatisme. Nilai-nilai pragmatisme dan ingin serba mudah dalam mendapatkan sesuatu makin menggejala di negeri ini. Nuansa persaingan yang menuntut kompetensi imbas dari era globalisasi, dinodai dengan tindakan curang yang membolehkan mendapatkan sesuatu tanpa proses.

Satu produk paling membudaya dan susah diberantas diantaranya adalah korupsi. Koruptor adalah sosok pelaku korupsi generasi anti proses, pragmatik dan abai moralitas demi kepentingan pribadi. Kepentingan pribadi yang didapatkan dengan cara pintas/illegal dan menghindari proses semakin banyak terjadi. Masyarakat pemalas, akan menjadi komunitas manusia-manusia anti proses. Komunitas pemalas anti proses akan menjadi beban bangsa.

Mental terabas, alergi pada proses menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat kita. Perilaku negatif ini berpeluang menetes kebawah terutama pada generasi bangsa yakni para pemuda /pelajar. Pemuda dan pelajar /peserta didik adalah anak dari masyarakat, Ia berada dalam satu lingkaran sosial. Ia akan berpeluang mengimitasi perilaku masyaraktnya. Masyarakat yang cederung pragmatis sedikit banyak telah memengaruhi peserta didik, sebagai bagian dari lingkungannya. Ungkapan “Yang penting hari ini, nanti jangan dipikirin.” Ungkapan ini menjadi mind set masyarakat kita, pragmatis dan menghindari proses.

Harapan membendung menularnya pragmatisme terhadap remaja/peserta didik masih ada di lingkungan satuan pendidikan. Satuan pendidikan harus mampu menjadi penerjemah dari perilaku sosial yang tidak baik. Bukan harus ditiru, melainkan harus dihindari. Satuan pendidikan harus mampu memberikan pencerahan dan alternatif dari fenomena menggejalnya pragmatisme sosial. Peserta didik adalah generasi muda yang sedang tumbuh mencari identitas dan model-model kehidupan. Ia memerlukan penerjemah cerdas dalam memahami realitas yang cenderung anomalis.

Setiap satuan pendidikan __sebagai area penumbuhkembangan budaya adiluhung manusia__ harus dapat diandalkan. Perlu kesepahaman warga civitas akademika yang dikemas dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Mengintegrasikan pentingnya paradigma proses dalam setiap pembelajaran. Secara teoritik dan praktik, paradigma pentingnya proses harus ditanamkan. Satuan pendidikan sebaiknya menjadi tempat menterjemahkan pentingnya proses sebagai rahasia berkehidupan yang baik.

Pada hakekatnya hidup adalah proses. Keseharian aktifitas manusia penuh dengan tuntutan proses. Karena proses adalah prasyarat dalam kehidupan untuk mendapatkan sesuatu. Peserta didik adalah generasi yang akan terjun dikemudian hari menjadi bagian masyarakat. Peserta didik yang bermental pragmatis dan phobia terhadap proses sangat berbahaya. Menghindarkan peserta didik dari mental terabas menjadi bagian dari tugas dunia pendidikan. Tradisi ingin serba mudah untuk mendapatkan sesuatu pada akhirnya akan melahirkan mental menghalalkan segala cara demi mendapatkan sesuatu. Ini harus dihindari. Generasi yang asing terhadap proses akan menenggelamkan bangsa pada kekalahan dalam persaingan global. Sukses adalah hasil dari proses yang panjang dan perbaikan tiada akhir. Dalam tradisi bangsa Jepang disebut sistem kaizen.

Satuan pendidikan harus mampu menjadi “industri” peserta didik yang menjunjung tinggi pentingnya proses. Pendidikan proses dan pentingnya mengeksplorasi segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu harus dikuatkan. Jangan sampai satuan pendidikan justru telah menjadi institusi yang mensponsori mental cepat saji. Lembaga pendidikan bukan area yang mengabaikan proses dan mengutamakan ijazah. Lembaga pendidikan bukan “pabrik ijazah” melainkan rumah budaya yang mengemban amanah memanusia manusia. Manusia mahluk dinamis dan membutuhkan proses. Apirmasi terhadap pentingnya proses tidak hanya pada teori melainkan dalam praktek keseharian pembelajaran.

Satuan pendidikan harus mampu menggiring peserta didik idealis bukan pragmatis. Idealis dalam memahami pentingnya proses dan belajar tiada henti. Hindarkan hal-hal buruk terjadi di satuan pendidikan yang akan berdampak menguatnya spirit pragmatisme dikalangan peserta didik. Seperti, peserta didik tidak mau belajar/menghapal karena mengandalkan teman yang biasa dijadikan contekan bersama. Mudahnya tenaga pendidik memberikan nilai.

Bisa lebih parah lagi dalam “fenomena UN” yang seharusnya menjadi momen untuk meningkatkan ikhtiar belajar menjadi momen mencari dan menyebarkan kunci jawaban diantara sesama peserta didik. Faktanya para pelajar Jawa Barat berada pada peringkat 15 dalam hal kejujuran. Tidak jujur berarti mengambil jalan pintas, mencari kunci jawaban. Sebuah ikhtiar yang tidak memperlihatkan mental baik. Hal-hal yang seharusnya melintasi proses dan melalui pengalaman belajar, berubah menjadi tanpa proses dan siap saji.

Ulangan mencontek, UN mencontek bahkan mengerjakan tugas oleh orang lain. Bila satuan pendidikan menjadi area tersembunyi tumbuhnya mental pragmatism peserta didik akan berbahaya. Munculnya reaksi pelajar Kota Bandung yang tergabung dalam Mantap-GAN (Mandiri Terpercaya Gerakan Anti Nyontek), menjelaskan masih adanya generasi muda kita yang senang pada proses. Ini peluang baik untuk menumbuhkembangkan kejujuran (mental senang berproses). Mengikis mental siap saji, abai pada ikhtiar dapat diawali di satuan pendidikan.

Menurut hemat penulis ada beberapa upaya untuk mengembalikan mental pragmatisme kepada mental mau berproses. Dapat dilakukan dengan usaha bersama semua warga civitas akademika. Langkah-langkah yang dapat dilakukan diantaranya adalah; pertama, berikan penilaian lebih pada proses bukan pada hasil. Apresiasi usaha siswa sebijak mungkin. Berikan pehatian dan motivasi terhadap semua peserta didik yang “berani” berproses dalam pembelajaran. Dampingi setiap kegiatan siswa dan jangan berorientasi pada hasil.

Kedua, jangan menghakimi hasil yang kurang baik dari peserta didik. Baik dalam bentuk ulangan maupun praktek. Melainkan komentari dengan bijak proses yang sedang berjalan. Utamakan proses dibanding kompetensi peserta didik. Penilaian proses menjadi alternatif dalam menanamkan pentingnya proses.

Ketiga, hindari dominasi evaluasi peserta didik dengan menggunakan angka-angka. Evaluasi afeksi dan proses peserta didik dengan banyak menggunakan skala sikap dan unjuk kerja. Pengamatan dan apresiasi secara spontan terhadap perkembangan peserta didik dapat menjadi penguat pendidikan pentingnya proses. Proses belajar peserta didik harus lebih dihargai dari hasil belajar peserta didik. Proses oriented, menjadi media penanaman pentingnya proses pada peserta didik.

Keempat, memberikan tambahan wawasan tentang fenomena sosial buruknya dampak perilaku pragmatis anti proses. Contoh sosial seperti; maraknya perjudian; maraknya rentenir; maraknya korupsi; maraknya PNS muda dengan rekening gendut; kerja dengan suap; narkoba di Lembaga Pemasyarakatan; sex bebas dll. Peserta didik harus diberikan pemahaman akan buruknya mentalitas pragmatis dan anti proses.

Tuhan saja menciptakan bumi dan langit melalui proses. Bukan Tuhan tidak mampu membuat jagat raya langsung jadi, melainkan pesan dibalik penciptaan itu adalah pentingnya proses dalam kehidupan. Manusia yang anti proses adalah manusia yang tidak “seirama” dengan kehendak Tuhannya. Tuhan sangat menilai proses dibanding hasil. Karena proses adalah urusan manusia, hasil adalah urusan Tuhan. Kita yang berdo,a, Tuhan yang mengabulkan. Kita yang ikhtiar, Tuhan yang menentukan. Aa Gym, menyatakan pentingnya proses dengan kalimat, “Indahnya ikhtiar”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | | 28 November 2014 | 11:45

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Serunya Dalang Bocah di Museum BI Jakarta …

Azis Nizar | | 28 November 2014 | 08:50

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



HIGHLIGHT

Bos Arus Liar Bicara Bisnis Arung Jeram …

Tuan Yuda | 7 jam lalu

Fenomena Penipuan Berkedok Bisnis Online …

Alan Budiman | 7 jam lalu

5 Artis Ibukota Tes HIV Diam-diam di …

Syaiful W. Harahap | 7 jam lalu

Uji Kompetensi Keperawatan Nasional Luar …

Rinta Wulandari | 8 jam lalu

Hidup Sederhana, Gak Punya Apa-apa tapi …

Natalia Karyawati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: