Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Nur Aeni

Masih belajar menulis...

Sekolah di SDIT, Mendapatkan Lebih dari yang Diharapkan

OPINI | 13 June 2012 | 03:27 Dibaca: 367   Komentar: 2   1

Ketika memasukkan anak sekolah di SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu), niat saya adalah memberikan lingkungan yang baik bagi perkembangan anak serta membekali anak dengan pengetahuan agama yang cukup memadai.

Ternyata apa yang saya dapatkan lebih dari yang saya harapkan.

Dalam satu kelas terdapat sekitar 30 siswa dengan seorang guru wali dan guru mapel. Guru wali bagaikan ibu kedua bagi anak. Ketika berbagai guru mapel bergantian mengajar, maka guru wali setia mendampingi dan mengawasi anak-anak yang belajar. Hubungan guru wali, anak dan orang tua terbilang dekat dan hangat. Anak “lendotan” dengan guru wali terbilang biasa. Guru wali ber-sms-an dengan orang tua juga sering. Guru wali umumnya mengikuti anak dari kelas 1 hingga kelas 6. Tak heran ketika ada guru wali yang mengundurkan diri karena mengikuti suami pindah kerja di luar kota, maka guru wali akan ditangisi anak dan orang tua karena dekatnya hubungan mereka. Sungguh hubungan yang indah.

Dalam setahun, orang tua diundang ke sekolah kira-kira lebih dari 10 kali. Awal semester ada kegiatan co-parenting yaitu penjelasan materi belajar anak untuk satu semester (setahun 2x), terima rapor (setahun 4x - rapor tengah semester 2x, rapor akhir semester 2x), buka puasa bersama, halal bi halal, seminar psikologi/parenting, pengajian bulanan. Kegiatan mengundang orang tua umumnya dilakukan pada hari Sabtu, di mana umumnya orang tua libur pada hari Sabtu.  Dengan sering datang ke sekolah, kesempatan bertemu dengan guru wali menjadi lebih sering. Kesempatan ini dimanfaatkan orang tua untuk mendengarkan pendapat guru wali tentang anaknya selama si sekolah, bertanya kemajuan belajar hingga sikap/perilaku anak selama di sekolah. Sungguh kesempatan berharga bisa mendiskusikan perkembangan anak dengan guru wali.

Ketika melihat anak tetangga yang bersekolah di SD Negeri pagi-siang kemudian sore/malam hari masih les dan mengerjakan berbagai tugas dan PR, maka anak saya jarang sekali ada PR. Karena tidak ada PR, maka sore hari anak saya relatif bebas bermain. Malam hari karena TV tidak boleh dinyalakan, anak akan belajar, membaca buku cerita atau bercerita kegiatan selama di sekolah. Walapun jarang ada PR ternyata nilai ulangan dan nilai rapor anak-anak bagus-bagus. Tentu senang mendapati anak yang mendapatkan hak belajar dan bermain dengan waktu yang cukup memadai.

Suatu hari anak saya bercerita bahwa siang hari dia bertugas sebagai imam shalat dhuhur di kelas. Anak saya menceritakan adanya piket imam bagi anak laki-laki. Shalat diselenggarakan di kelas masing-masing, imam dari salah satu siswa, bacaan shalat dikeraskan dengan alat pengeras suara (mic) dan ada guru yang mengawasi agar anak tidak banyak bercanda selama shalat. Kaget juga mendengar anak saya pede menjadi imam bagi teman-temannya, dengan mic pula. Padahal anak saya lumayan pemalu kalau disuruh tampil ke depan. Ternyata keberanian dan kepedeannya makin tumbuh dengan adanya kesempatan menjadi imam. Sungguh senang membayangkan kelak anak saya bisa menjadi imam bagi keluarganya.

Ketika anak saya kelas satu atau kelas dua SD, sudah keluar pertanyaan kenapa mama shalatnya libur. Bingung juga memberi jawaban yang sederhana, jelas dan tepat pada anak seusia itu. Tiba-tiba saya teringat pelajaran fiqih anak, ada pelajaran tentang najis, hadas kecil, hadas besar, cara membersihkan diri dari hadas kecil dan besar. Dengan menggunakan materi belajar fiqih tersebut ternyata lumayan membantu memberi jawaban yang sederhana, benar (tidak bohong) dan dapat diterima nalar anak mengenai pertanyaan kenapa mama shalatnya libur. Sungguh senang bisa memberi jawaban berbagai pertanyaan kritis anak melalui apa-apa yang sudah dipelajarinya.

Itulah sekelumit manfaat yang saya dapatkan ketika menyekolahkan anak di swasta, khususnya SDIT. Apa yang saya dapatkan lebih dari yang saya harapkan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Inilah Buah Cinta yang Sebenarnya …

Anugerah Oetsman | | 01 September 2014 | 17:08

Catatan Pendahuluan atas Film The Look of …

Severus Trianto | | 01 September 2014 | 16:38

Mengulik Jembatan Cinta Pulau Tidung …

Dhanang Dhave | | 01 September 2014 | 16:15

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 7 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 7 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 10 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 11 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemenang Putri Indonesia di Belanda Bangga …

Bari Muchtar | 8 jam lalu

Penanggulangan Permasalahan Papua Lewat …

Evha Uaga | 8 jam lalu

Antara Aku, Kamu, dan High Heels …

Joshua Krisnawan | 8 jam lalu

Rakyat Dukung Pemerintah Baru Ambil Jalan …

Abdul Muis Syam | 8 jam lalu

Masa Orientasi, Masa Di-bully; Inikah Wajah …

Utari Eka Bhandiani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: