Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Dwi Purwaningsih

Mahasiswa ITB Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, selain bercita cita menjadi rekayasawan lingkungan, ingin menjadi selengkapnya

Realita Bangsa :: Pendidikan di Indonesia saat ini

REP | 15 June 2012 | 03:32 Dibaca: 11817   Komentar: 0   0

Potret Pendidikan di Indonesia

Pendidikan merupakan kunci utama bagi bangsa yang ingin maju dan unggul dalam persaingan global. Pendidikan adalah tugas negara yang paling penting dan sangat strategis. Sumber manusia yang berkualitas merupakan prasyarat dasar bagi terbentuknya peradaban yang lebih baik dan sebaliknya, sumber manusia yang buruk akan menghasilkan peradaban yang buruk. Melihat realitas pendidikan pendidikan di negeri ini masih banyak masalah dan jauh dari harapan. Bahkan jauh tertinggal dari Negara-negara lain.

Masalah pendidikan di Indonesia ibarat enang kusut. Banyak permasalahan yang terjadi di dalam pendidikan Indonesia bukan hanya sistem pendidikannya tetapi pelaku yang ada didalamnya. Lihat saja, banyak pelanggaran yang terjadi seperti banyak pelajar melakukan tawuran, narkoba, free sex , bahkan ada oknum guru yang harus jadi panutan melakukan pelanggaran yaitu membiarkan kecurangan yang terjadi saat UN dengan alasan agar para siswanya lulus 100% . sungguh, ini merupkan keadaan yang sangat ironis.

Mirisnya lagi yang bisa mengenyam pendidikan kebanyakan orang-orang golongan atas , yang memiliki uang lebih dan sementara orang-orang dari golongan bawah hanya bisa diam dan tak tahu harus berbuat apa. Lihatlah pada realitanya banyak calon calon generasi penerus bangsa tidak bersekolah dan alasannya terkait biaya pendidikan terlalu mahal. Akibat kondisi seperti ini, terjadi pengganguran dimana-mana, kriminalitas menjadi hal yang utama  menjadi pekerjaan mereka, kemiskinan pun menjadi lingkaran setan yang sulit diputuskan. Beginalah realita bangsa Indonesia. Berikut jejak-jejak pendapat beberapa masyarakat berbagai profesi mengenai pendidikan di Indonesia khususnya wilayah Bandung :

Dosen

Pak Haji Asep, biasa disapa oleh orang-orang sekitar. Beliau merupakan dosen UNISBA yang mengajar salah satu mata kuliah yang ada di Unisba. Beberapa dari kami mencoba mewawancarai beliau mengenai sistem pendidikan di Indonesia terkhusus di wilayah Bandung.

Menurut pak haji Asep, pendidikan di kota bandung tidaklah jauh berbeda dengan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Surabaya, Jogjakarta dan lainnya. Sejak diadakannya SNMPTN undangan, maka disitulah letak mulainya penyamarataan pendidikan di seluruh Indonesia mulai dari tingkat SD hingga Universitas. “Untuk pendidikan di Bandung sendiri sudah cukup baik” ujar beliau, kurikulum yang diajarkann sudah berstandar nasional untuk semua tingkatan pendidikan.

Pendidikan dirasa sangat penting saat ini. Jika tidak, mengapa pemerintah mewajibkan program 9 Tahun belajar bukan?

“Coba bayangkan dunia tanpa pendidikan, pasti kita akan kembali lagi ke hukum rimba” kata pak Asep.  Pendidikan lah yang menuntun kita ke peradaban ini. Tanpa pendidikan, mustahil kita dapat menciptakan perkembangan yang begitu rumit hingga didapat teknologi yang memudahkan kehidupan kita saat ini.

Banyak permasalahan pendidikan yang dihadapi Kota Bandung, salah satunya adalah ketidak ikutsertaan anak yang harusnya mengikuti pendidikan dikarenakan masalah ekonomi yang melanda keluarga mereka. Kemudian banyak diantara mereka yang kemudian menjadi anak jalanan, dan menjadi sumber kekacauan, salah satunya geng motor yang marak akhir-akhir ini. Menurut beliau, hal itu disebabkan oleh kurang meratanya program pemerintah di kota Bandung untuk menyekolahkan anak yang seharusnya berada di bangku sekolah.

Dan Harapan untuk kedepannya bahwa pemerintah lebih memperhatikan kondisi perekonomian yang terjadi tidak hanya di kota Bandung tetapi juga di seluruh Indonesia agar semua bagian masyarakat dapat menikmati pendidikan yangs sekarang mungkin hanya dirasakan oleh kaum yang dapat dikatakan berkecukupan secara ekonomi.

Pedagang Tradisional

Ibu Yuhelmi adalah seorang pedagang aksesoris-wanita di pasar Simpang Dago. Ia berusia 42 tahun. Ibu Yuhelmi mempunyai 2 orang anak, yang satu pelajar kelas 6 SDN Coblong dan yang satu lagi kelas 1 SMAN 1 Bandung. Menurut perantau asal Padang ini, pendidikan di kota Bandung sudah cukup baik. Fasilitas yang disediakan pun  sudah dinilai memadai. Penyelenggaraan BOS (Bantuan Operasional Sekolah)  juga dinilai sangat membantu karena dengan adanya BOS, anak Ibu Yuhelmi yang sedang mengenyam bangku sekolah dasar ini bisa menikmatinya dengan gratis. BOS juga membantu penyediaan fasilitas seperti buku dan lainnya.

Namun sangat disayangkan, 2 bulan terakhir ini dana BOS tidak keluar dan Ibu Yuhelmi harus membayar biaya ujian anaknya. Sementara itu, Ibu Yuhelmi tidak merasa biaya SPP anaknya yang mengenyam pendidikan sekolah menengah atas terlalu mahal. “Biayanya standar, yaa tidak mahal dan tidak murah” begitu akui pedagang yang sudah mulai berdagang tahun 1995 ini.

Ibu yang berlatar pendidikan SMA ini menganggap pendidikan sangatlah penting agar kita pintar dan tidak dibodohi orang dan lebih jauh lagi agar bangsa ini maju dan berkembang.

Harapan Yuhelmi sendiri terhadap pendidikan di Indonesia adalah agar pendidikan bisa diselenggarakan gratis 100% dan semakin maju.

Siswa SMA

Gifary adalah seorang murid sekolah menengah atas dari SMA Negeri 2 Bandung. Ia berumur 17 tahun dan berencana melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi Institut Teknologi Bandung. Menurutnya, pendidikan di Indonesia khususnya di Bandung, masih kurang memuasakan, karena masih banyak anak-anak yang tidak sekolah dan dia merasa bahwa kualitas sekolah di Bandung belum merata, dia juga mengungkapkan bahwa kualitas pendidikan di Bandung sudah bagus dan menjadi salah satu unggulan di Indonesia dalam bidang pendidikan, terlepas dari ketidakmerataan kualitas tadi. Pendidikan menurut Gifary sangat lah penting, karena zaman sekarang pendidikan merupakan kebutuhan yang tak terelakkan apalagi untuk masuk ke dunia kerja, pendidikan juga penting karena merupakan sarana untuk kita menimba ilmu juga belajar tentang etika maupun moral. Gifary menuturkan, manfaat yang dirasakan dari pendidikan sangatlah banyak seperti yang disebutkan sebelumnya yaitu sarana untuk menimba ilmu, belajar etika dan moral, apalagi jika bersekolah di sekolah formal, maka manfaatnya lebih terasa lagi, seperti menambah teman, dapat mengembangkan bakat melalui kegiatan ekstrakulikuler, dapat aktif berorganisasi, dan masih banyak lagi.

Ketika disinggung mengenai permasalahan pendidikan di Bandung, Gifary menuturkan bahwa masih banyak masalah yang terjadi pada pendidikan di Bandung, seperti yang diungkapkan di atas tadi bahwa masih banyak anak-anak putus sekolah bahkan tidak bersekolah, masih mahalnya biaya sekolah, juga kualitas sekolah-sekolah di Bandung yang masih belum merata, lalu masalah kesenjangan antara satu sekolah satu dengan sekolah lainnya juga merupakan salah satu masalah yang perlu diperhatikan. Gifary berharap untuk kedepannya pemerintah dapat meningkatkan pemerataan pendidikan, menambah sekolah-sekolah untuk orang yang kurang mampu, menambah subsidi untuk biaya pendidikan, mengurangi kesenjangan antar sekolah, dan terus memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia khusunya di Bandung.

Pengunjung Mall

Kelompok kami mencoba kembali mencari jejak-jejak pendapat mengenai pendidikan di Indonesia khususnya kota Bandung. Dan kami menemukan pengunjung mall BIP. Bapak Indi, itu sapaan beliau, saat ini beliau berumur 30 tahun dan telah memiliki istri serta dua orang anak. Bapak Indi kelulusan S1 ini sekarang bekerja sebagai wiraswasta di salah satu perusahaan di Bandung. Menurut beliau, pendidikan itu penting karena dibutuhkan untuk mencari pekerjaan. Selain pendidikan itu penting juga karena dapat melatih pola pikir kita dan mendapatkan ilmu-ilmu yang berguna untuk dunia kerja.

Menurutnya pendidikan di sekolah tidak menjamin lulusan-lulusannya, karena kualitas individulah yang menentukan. Saat ditanya mengenai orang yang tidak mempunyai kesempatan mendapat pendidikan, bapak ini menjawab bahwa pendidikan dapat diperoleh di mana saja, tidak harus di sekolah, sekolah itu hanya untuk status saja jelasnya. Menurutnya masih lebih baik mempunyai keahlian tapi tidak sekolah daripada bersekolah tetapi tidak mempunyai keahlian.

Bapak Indi memberi masukan untuk para pelajar agar dapat merubah pola pikir. Jadi, para pelajar harus bersekolah benar-benar dengan tujuan untuk mencari ilmu, tidak hanya untuk bekerja. Beliau juga menekankan, jika ada usaha pasti ada jalan, jadi tidak ada alasan untuk tidak memiliki pendidikan.

Pengamen

Di usianya yang baru menginjak 13 tahun Arul sudah tidak lagi bersekolah. Dia hanya menempuh pendidikan hingga kelas 3 SD. Arul keluar dari sekolah karena sering bolos untuk bekerja. Walaupun sudah tidak belajar di sekolah umum seperti anak lainnya, dia masih bersekolah di rumah belajar yang terletak di kolong jembatan dekat tempat tinggalnya.

Arul telah mengamen selama tujuh tahun. Kakaknya seorang supir angkot dan adiknya juga mengamen. Meskipun begitu dia tetap bercita-cita menjadi pilot. Menurutnya pendidikan itu sangat penting, tetapi dia tidak dapat melanjutkan pendidikan karena tidak mempunyai biaya.

Masalah pendidikan untuk Arul yaitu dia tidak berkesempatan mendapat pendidikan di sekolah karena harus bekerja. Harapan dia ke depannya yaitu agar dia dapat menempuh pendidikan secara gratis.

Pengemis

Ibu Lilis itu sapaan beliau. Beliau merupakan pengemis disalah satu simpang jalan di kota Bandung. Umur beliau saat ini adalah 30 tahun, Ibu Lilis mempunyai 2 orang anak. Yang pertama telah duduk di bangku smp dan yang kedua masih di taman kanak-kanak. Ibu Lilis sendiri adalah lulusan SD. Alasan ibu ini tidak bekerja karena harus mengurus anak-anaknya dan terpaksa menjadi pengemis karena sulit mencari pekerjaan yang hanya bermodal ijazah SD.

Menurut beliau pendidikan itu penting. Untuk itu beliau berusaha mencari uang untuk biaya sekolah kedua anaknya. Pendapat beliau tentang masalah pendidikan di Indonesia khususnya kota Bandung yaitu sulitnya mendapatkan biaya pendidikan anak-anaknya karena bisa dikatakan saat ini biaya pendidikan sangat mahal. “Untuk makan pun susah, apalagi menyekolahkan anak-anak sampai kuliah” Ujar beliau.

Harapan beliau kedepannya ingin terus menyekolahkan anaknya dan memiliki modal untuk usaha. Dan setidaknya pemerintah peduli akan nasib seperti ibu Lilis ini dan dapat memberi bantuan dana berupa sekolah gratis untuk anak-anak mereka.

Ketua RT

Pak Darojat nama sapaan beliau, kini beliau telah menginjak usia 59 tahun. Tetapi semangat beliau masih terpancar. Beliau sendiri peduli akan permasalahan yang terjadi di Indonesia ini terutama dalam bidang pendidikan. Beliau menuturkan pendidikan di Indonesia belum bisa dikatakan sehebat luar negeri. Masih banyak permasalahan yang terjadi di Indonesia ini, Contohnya ujian nasional yang sistemnya kurang bagus seperti adanya penjagaan yang tidak perlu, adanya doa bersama para siswa-siswa yang hendak menempuh ujian. Bahkan, adanya sejumlah siswa yang menempuh jalur kotor dengan menggunakan kunci. Seandainya pendidikannya bagus dan berkualitas, tidak akan terjaid hal-hal seperti di atas dan tentu tingkat kelulusannya tidak akan setinggi itu.

Beliau menuturkan bahwa pendidikan itu sangat penting, karena segala sesuatunya sangat memerlukan pendidikan, seperti pendidikan formal maupun non-formal. Karena pendidikan merupakan pembentuk moral dan akal pikiran manusia. “Manfaatnya adalah dapat mencerdaskan manusia yang mula-mula tidak tahu menjadi tahu” Ujar pak Darojat yang berprofesi sebagai pegawai swasta. Tetapi ada permasalahan yang terjadi di Indonesia dan telah mendarah daging yaitu Biaya pendidikan yang mahal, meskipun untuk beberapa SD, SMP, dan SMA sudah tidak ditarik uang. Namun tetap saja pendidikan membutuhkan biaya, untuk merawat infrastruktur-infrastruktur sehingga seharusnya tidak harus gratis sepenuhnya. Untuk swasta masih sulit untuk menggratiskan biaya dan memang harus mengeluarkan biaya karena tidak ditanggung pemerintah.

Harapan beliau adalah agar semua kalangan menikmati pendidikan seperti yang dijanjikan oleh pembukaan UUD 1945. Pendidikan gratis untuk semua.

Ketua RW

“Menurut pendapat saya pendidikan di Indonesia sudah cukup baik, sudah banyak institusi – institusi pendidikan yang memang kualitasnya patut diberi apresiasi yang tinggi dari mulai jenjang yang paling rendah sampai universitas sekalipun.” Ujar pak Maman, laki-laki paruh baya berusia 43 tahun. Selain itu juga beliau mengutarakan bahwa pendi dkan itu sangat penting. Karena mengingat urgensi pendidikan saat ini sangat diperlukan untuk menjawab semua tantangan zaman yang semakin hari semakin meningkat. Manfaat dalam pendidikan menurut pak Maman adalah Manfaat pendidikan memang tidak dirasakan langsung seketika ketika proses pendidikan itu dilaksanakan, manfaanya akan terasa ketika hasil dari proses pendidikan itu benar – benar diimplementasikan di masyarakat. Tetapi sayangnya manfaat itu tidak dirasakan oleh semua orang. “rakyat menengah kebawah seperti kami- kami ini ya terkait biaya pendidikan yang semakin hari semakin mahal saja.” Ujar beliau. Pak Maman mengaku kecewa terhadap pemerintah karena Banyak iklan yang menyebutkan bahwa saat ini sekolah gratis, ada dana bantuan operasional sekolah juga namun kenyataannya masih ada saja biaya – biaya yang tidak sedikit yang harus dikeluarkan untuk mendapat pendidikan yang layak.

Harapan beliau adalah semoga pendidikan di Indonesia bias semakin maju, mencetak generasi- generasi yang peduli keadaan sekitarnya, dan mudah –mudahan biaya pendidikan di Indonesia bias lebih terjangkau dengan tidak mengesampingkan kualitas dari pendidikan itu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah 5 Butir Penting Putusan MK atas …

Rullysyah | | 21 August 2014 | 17:49

MK Nilai Alat Bukti dari Kotak Suara …

Politik14 | | 21 August 2014 | 15:12

Penulis Fiksiana Community Persembahkan …

Benny Rhamdani | | 21 August 2014 | 11:53

Meriahnya Kirab Seni Pembukaan @FKY26 …

Arif L Hakim | | 21 August 2014 | 11:20

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Dear Pak Prabowo, Would You be Our Hero? …

Dewi Meisari Haryan... | 3 jam lalu

Kereta Kuda Arjuna Tak Gentar Melawan Water …

Jonatan Sara | 4 jam lalu

Dahlan Iskan, “Minggir Dulu Mas, Ada …

Ina Purmini | 5 jam lalu

Intip-intip Pesaing Timnas U-19: Uzbekistan …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Saya yang Memburu Dahlan Iskan! …

Poempida Hidayatull... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: