Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

I Ketut Suweca

Membaca dan menulis adalah minatnya yang terbesar. Kelak, ingin dikenang sebagai seorang penulis.

Ternyata Sertifikat Lomba Itu Bermanfaat untuk Masuk Perguruan Tinggi

OPINI | 15 June 2012 | 20:51 Dibaca: 511   Komentar: 26   11

Sejak kecil anak pertamaku, perempuan, berlatih menyanyi. Sejak TK dia ikut pelatihan vokal. Pelatih yang lama dan intensif menanganinya adalah I Gusti Agung Suarnada. Sejak bersekolah di SMAN 1 Singaraja, dia juga dilatih oleh guru setempat, Ketut Wisnaya. Beliaulah yang menggembleng anakku.

Semasih TK, ia sudah mencoba untuk ikut lomba. Kendati belum berhasil mendapatkan juara, ia sudah memliki keberanian tampil di depan umum. Bersamaan dengan berjalannya waktu, anakku berlatih terus, sering ikut lomba dan sering juga memperoleh juara, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Beruntungnya, kesukaannya menyanyi itu didukung penuh oleh pihak sekolah, baik ketika dia masih SD, SMP, maupun saat SMA. Kepala sekolah dan guru pembimbing dan pelatih di luar sekolah memberikan bimbingan dan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan minat dan kemampuannya.

Pelatihan yang berkesinambungan dan keikutsertaan dalam berbagai lomba membawanya mendapatkan puluhan sertifikat/tanda penghargaan yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun swasta. Untuk mengikuti lomba itu, tak sedikit pengorbanan yang harus dilakukan. Waktu, tenaga, uang, dan pemikiran terkuras di situ. Salah satunya membeli atau menyewa pakaian setiap kali hendak lomba, juga harus diantar wara-wiri ke tempat lomba yang terkadang jauh. Begitulah anak perempuanku mengisi waktunya untuk beragam lomba. Tidak hanya menyanyi, ia juga pernah menjadi Siswa Berbudi Pekerti, Juara PMR, Juara Trisandya, dll. Pokoknya dia senang sekali ikut ajang lomba.

Sertifikat yang dikumpulkan dari mengikuti lomba-lomba itu ternyata kemudian sangat membantunya memasuki jenjang pendidikan tinggi. Sebagaimana diketahui, jalur masuk ke perguruan tinggi ada beberapa, salah satu di antaranya adalah jalur prestasi. Nah, melalui jalur inilah anakku menembus sejumlah universitas. Dia masuk tanpa test di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, ia juga diterima sebagai mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dia diterima sebagai calon mahasiswa di Universitas Brawijaya Malang, dan ia pun diterima di Universitas Indonesia yang kemudian menjadi pilihannya. Kesemuanya itu melalui jalur prestasi seni (nonakademik).

Nah, jika para sahabat ingin mempersiapkan putra-putri masing-masing untuk mendapatkan sekolah/PT kelak, maka mari kita dorong dan dukung dia untuk ikut bimbingan dan lomba yang diminatinya, baik yang bernuansa akademik maupun nonakademik. Karena, dari situ akan muncul pretasi terbaiknya dan menjadi bekal untuk masuk dan menempuh pendidikan tinggi.

( I Ketut Suweca , 15 Juni 2012).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hati-Hati Meletakkan Foto Rahasia di …

Pical Gadi | | 02 September 2014 | 15:36

Yohanes Surya Intan yang Terabaikan …

Alobatnic | | 02 September 2014 | 10:24

Plus Minus kalau Birokrat yang Jadi …

Shendy Adam | | 02 September 2014 | 10:03

Mereka Sedang Latihan Perang …

Arimbi Bimoseno | | 02 September 2014 | 10:15

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 5 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 7 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 9 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Mengenal dan Mengenang IH Doko, Pahlawan …

Blasius Mengkaka | 8 jam lalu

Kenormalan yang Abnormal …

Sofiatri Tito Hiday... | 8 jam lalu

Aku Akan Pulang …

Dias | 8 jam lalu

Terpenuhikah Hak Kami, Hak Anak Indonesia? …

Syifa Aslamiyah | 8 jam lalu

UUD 1945 Tak Sama dengan Jakarta …

Adinda Agustaulima ... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: