Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bernadetta

Mahasiswa Sosiologi Antropologi Universitas Sebelas Maret Surakarta yang bercita - cita menjadi seorang Violis ^_^)/ Belajar selengkapnya

Makalah Komersialisme Pendidikan

OPINI | 21 June 2012 | 19:01 Dibaca: 961   Komentar: 1   2

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting di dalam kehidupan manusia, selain kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan yang harus dipenuhi. Tanpa pendidikan, seseorang tidak akan bisa beradaptasi dan diterima oleh masyarakat di sekitarnya.

Namun, yang terjadi akhir – akhir ini adalah pendidikan yang seharusnya bertujuan untuk mencerdaskan anak – anak bangsa justru menjadi lahan bisnis yang membawa berbagai dampak.

Pendidikan yang layak bagi semua rakyat di Indonesia telah digembar – gemborkan namun membawa hasil yang jauh dari harapan. Banyak masyarakat kecil tidak bisa mengenyam pendidikan begitupun sarana dan prasarananya.

Untuk dapat melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinngi harus merogoh kocek yang tidak sedikit, apalagi sejak maraknya sekolah RSBI atau kepanjangan dari Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yang meskipun sampai sekarang masih dipertanyakan kebenarannya.

Pendidikan sebagai lahan bisnis tidak hanya disebabkan oleh kaum – kaum penguasa tertentu, bahkan terkadang guru dalam sekolah tersebut juga ikut campur dalam hal ini.

Apa yang sebenarnya terjadi di Negara kita bukan lagi merupakan hal yang asing untuk kita dengar, untuk kita ketahui.

Semua hal yang awalnya bertujuan baik dan mulia kini tampaknya sudah melenceng dari garis lurus yang seharusnya terpenuhi. Memang untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri bukan merupakan hal yang mudah, namun yang menjadi masalah adalah banyak orang berpikir bahwa tujuan pendidikan sendirilah yang telah diubah. Dari keinginan untuk memajukan serta mencerdaskan anak bangsa, kini justru dimanfaatkan sebagai lahan bisnis usaha untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar – besarnya.

Adapun kaum- kaum yang menjadi tersisih oleh karena munculnya fenomena ini, yaitu kaum miskin. Lebih miris ketika muncul tulisan – tulisan yang menyebutkan bahwa “Orang Miskin Dilarang Sekolah!” .

Pernyataan yang disertai tanda seru itu seolah menegaskan bahwa tidak ada jalan masuk untuk orang miskin bisa sekolah. Tidak ada celah. Kaum miskin menjadi kamu yang dirugikan ketika ada beberapa pihak yang memanfaatkan pendidikan menjadi lahan bisnis.

Kenyataan pahit harus mereka terima sedangkan di sisi lain mereka juga sangat membutuhkan pendidikan demi msa depan mereka.

Pendidikan menjadi suatu hal yang hanya bias dinikmati oleh kaum berduit saja. Pendidikan dapat dibeli dengan uang dan harga yang mahal. Komersialisme bidang pendidikan di Indonesia tidak hanya di beberapa tempat saja. Namun sudah cukup banyak sekolah yang mempersilahkan sekolahnya untuk menjadi lahan bisnis untuk mendapat keuntungan yang sebesar – besarnya.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan komersialisme pendidikan ?

2. Mengapa komersialisme pendidikan bisa terjadi ?

3. Apa dampak yang ditimbulkan dari adanya komersialisme pendidikan?

4. Bagaimana cara mengatasi komersialisme pendidikan ?

C. Tujuan

1. Mengetahui makna dari komersialisme pendidikan.

2. Mengetahui sebab – sebab muncuknya komersialisme di bidang pendidikan.

3. Mengenali dampak – dampak yang disebabkan karena adanya komersialisme di bidang pendidikan.

4. Mengenali cara menanggulangi dan mengatasi komersialisme bidang pendidikan yang ada di Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN

Pendidikan yang dikemukakan merupakan hak asasi yang dimiliki oleh setiap warga Negara, kini justru memberikan kenyataan yang sebaliknya. Pendidikan menjadi barang mahal yang hanya terbeli oleh kalangan berkantong tebal. Tujuan yang diharapkan dari adanya pendidikan adalah untuk merubah sikap dan perilaku seseorang menjadi lebih baik dan menuju ke tingkat pendewasaan dalam arti yang positif melalui transfer pengetahuan. Namun pendidikan pada umumnya identik dengan sekolah, sehingga banyak orang melihat bahwa orang yang tidak sekolah adalah orang yang tidak berpendidikan. Seseorang dianggap mengenyam pendidikan pendiidkan jika ia pernah atau telah menempuh sekolah. Orang yang terdidik dianggap sebagai seseorang yang telah menyandang gelar tertentu dari proses belajar mengajar di sekolah ataupun lembaga formal.

Pendefinisian pendidikan pun telah melenceng dari arti yang sebenarnya. Hal ini memicu timbulnya komersialisme pendidikan. Komersialisme pendidikan yaitu suatu fenomena dimana terdapat pihak – pihak tertentu yang bermaksud atau sudah menguasai dan menjadikan sarana pendidikan (sekolah dan sarana prasarananya) untuk dijadikan peluang usaha atau lahan bisnis yang dapat menghasilkan keuntungan.

Pendidikan yang seharusnya bisa dinimati oleh semua kalangan dari kelas manapun, kini semenjak munculnya komersialisme pendidikan, menyebabkan semakin sempitnya ruang bagi kaum – kaum tertentu untuk dapat menikmati pendidikan. Muncul diskriminasi bagi rakyat kecil yang tidak dapat membayar harga cukup mahal untuk mereka mengenyam pendidikan. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan dari adanya komersialisme bidang pendidikan di Indonesia.

Semakin banyak kaum yang berkuasa, semakin tinggi persaingannya. Pihak yang ikut campur dalam usahanya untuk menjadikan sekolah sebagai lahan bisnis kini semakin banyak. Apalagi sejak munculnya RSBI, banyak sekolah yang ingin mendapatkan gelar sebagai RSBI. Gelar RSBI juga disalah artikan, banyak pihak – pihak baik dari dalam maupun dari luar sekolah yang memanfaatkan gelar tersebut dengan mematok harga tinggi bagi siswa – siswa nya untuk mereka dapat melanjutkan pendidikan. Biaya dalam hitunngan jutaan, menjadi monster yang menakutkan bagi rakyat miskin yang ingin menempuh pendidikan lebih tinggi namun tidak memiliki cukup biaya untuk mendapatkan pendidikan di sekolah yang seharusnya layak dan pantas mereka terima.

Diskriminasi muncul di kalangan atas terhadap kalangan bawah. Terdapat jurang pemisah antara si kaya dan si miskin dalam hal mengenyam pendidikan dan hanya dapat dijembatani hanya jika si miskin memiliki cukup banyak uang untuk menempuh pendidikan.

Sungguh miris sekali melihat kenyataan yang ada di Indonesia!

Mahalnya biaya pendidikan menyebabkan banyak orang tua putus asa, karena kebutuhan yang harus dipenuhi bukan saja hanya pendidikan, namun masih ada kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan yang harus dipenuhi dengan biaya yang juga tidak sedikit.

Banyak orang tua gelisah dan cemas memikirkan masa depan anak – anaknya jika mereka tidak bisa mendapat sekolah yang layak sebagai tempat untuk mereka mendapat bekal masa depan untuk kehidupan yang lebih baik. Banyak yang memutuskan untuk putus sekolah, entah menjadi pengangguran ataupun memutuskan untuk bekerja di usia yang masih sangat muda.

Ironis sekali rasanya.

Potret komersialisme di Indonesia seakan – akan memaksa banyak anak untuk putus sekolah saja jika tidak memiliki cukup biaya untuk melanjutkannya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Perjuangan PPP & PPP Perjuangan …

Ribut Lupiyanto | | 31 October 2014 | 14:24

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

Nonggup, Contoh Pergerakan Cerdas Orang …

Evha Uaga | | 31 October 2014 | 17:40

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 6 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 11 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 11 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 7 jam lalu

Persebaya Gagal Di 8 Besar, Karma Kah ? …

Djarwopapua | 7 jam lalu

The Mystery of Ancient City …

Arif Wihananto | 7 jam lalu

Apa Kabarmu Mr. Gayus? …

Nala Arung | 7 jam lalu

I Should Know From The First …

Yasmin Medina Anggi... | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: