Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Dewa Gilang

Single Fighter!

Gilang Menjawab: Islam dan Terorisme

OPINI | 23 June 2012 | 10:17 Dibaca: 478   Komentar: 20   15

Pasca penyerangan 11 September 2001 setidaknya mengaktifkan kembali sikap Islamophobia, yaitu sebuah gejala umum (baca: fenomena) yang menganggap Islam, bukan hanya muslim, sebagai ancaman bagi non muslim dan barat.

Tak seluruhnya salah, meski tak benar juga, mengingat pelakunya bukanlah drakula penghisap darah, melainkan orang2 yang mengaku muslim, yang meyakini bahwa tindakannya itu sebagai bagian dari ajaran yang suci, dan melakukan pengeboman sadis berdasarkan penafsiran -maaf- yang sempit terhadap Alquran serta cenderung literal, sehingga memunculkan ideologi yang horor.

Banyak pengamat yang menilai bahwa serangan terorisme merupakan akibat benturan peradaban (clash of civilization). Sementara, sebagian pengamat lainnya menilai hal tersebut sebagai bentuk perang antara teroris global (tidak hanya muslim) dengan barat, modernitas, demokrasi, sekularisme dan kapitalisme.

Terlepas dari penilaian di atas, Islamophobia, sebagai problem sosial dan politik, marak berkembang di Amerika dan Eropa, meskipun juga terdapat fenomena yang sama di India, cina, bahkan di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas muslim.

Di Eropa misalnya, gejala Islamophobia, selain ditimbulkan oleh “black september”, juga dipicu oleh pesatnya perkembangan Islam, yang berjalan seiring dengan bertambahnya para imigran dari non-Eropa dan meningkatnya kelahiran populasi muslim. Tak pelak sentimen anti muslim bak menjadi tren yang cukup menonjol dalam gerakan politik dan budaya di barat. (Lihat dalam kasus Prancis mengenai UU yang sangat diskriminatif terhadap pendatang, terlebih muslim).

Yang cukup menarik ialah bagaimana kalangan Islamophobik seakan tak henti menciptakan “streotype” bahwa umat muslim adalah ekstrimis, pembuat onar, anti Kristen dan anti Yahudi, menolak demokrasi, diskriminatif terhadap wanita dan memaksakan penerapan hukum Islam yang kejam. Bahkan mereka menuduh bahwa Muhammad sebagai orang yang pertama kali mengkampanyekan terorisme di Madinah, sehingga pemeluk Islam menjadi umat yang intoleran. Hal ini diperparah dengan adanya anggapan bahwa banyak ayat2 pedang yang bertebaran di Alquran, seperti QS: At-Taubah: 5. Ayat ini sering digambarkan oleh orientalis anti Islam, sebagai anjuran jihad ofensif.

Sebagai contoh, saya akan mengutip pernyataan Ali Sina, penulis kontroversial asal Kanada keturunan Iran yang sosoknya misterius. Dalam bukunya, “Understanding Muhammad: A Physicobiografy Of Allah, Ali sina berkata: Setelah membaca Alquran, saya terkejut. Betapa Alquran mengajarkan kekerasan, kebencian, ketidakakuratan, kesalahan secara saintifik, kesalahan matematik…….setelah merasa pusing dan depresif, saya akhirnya menerima kesimpulan bahwa Alquran bukanlah kitab Allah, tetapi ayat2 setan, cerita bohong, dan produk pikiran yang sakit.”

Ali Sina setidaknya mewakili jutaan Islamophobik lainnya dari berbagai belahan dunia, yang meyakini bahwa akar masalah terorisme bukan pada bagaimana kaum muslim memahami Alquran, melainkan pada Alquran itu sendiri. Selama muslim masih mengimani Alquran, maka akan terus bermunculan teror dan intoleransi. Setidaknya inilah gambaran yang saya tangkap dari buku Ali Sina dan berbagai blog abal2 pemecah persatuan, seperti FFI dan yang lainnya.

Karenanya, saya khusus membuat artikel ini untuk membantah tuduhan bahwa Islam adalah agama yang intoleran. Insyallah pada artikel selanjutnya, saya akan membantah penyelewengan tafsir terhadap ayat2 yang diberi nama oleh Islamophobik sebagai ayat2 pedang. Dan saya persembahkan artikel ini bagi mereka -sebagai jawaban- dan kepada Rasulullah Saww dan keluarganya yang suci. Amiin…

Semoga setelah ini tak ada lagi stigma negatif terhadap Islam dan juga dimohon kepada setiap muslim agar menghentikan cara2 dakwah yang tak simpatik, yang penuh dengan kekerasan atas nama agama. Dan dimohon vote aktual agan-sista biar nangkring nih…..hihihihihihihi

Bersambung…

Salam Gitu Aja Koq Repot.

Selamat menikmati hidangan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Latahnya Pedagang Kaki Lima …

Agung Han | | 17 September 2014 | 04:16

Polemik Kabinet Jokowi-JK …

Mike Reyssent | | 17 September 2014 | 05:05

Potret-Potret Geliat TKW HK Memang …

Seneng Utami | | 17 September 2014 | 06:07

Pro-Kontra Pembubaran (Sebagian) Kementerian …

Hendi Setiawan | | 17 September 2014 | 08:17

Setujukah Anda jika Kementerian Agama …

Kompasiana | | 16 September 2014 | 21:00


TRENDING ARTICLES

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 3 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 3 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 4 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 5 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: