Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Arifa Ade

mahasiswa jurusan PGSD

Pembentukan Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Seni Musik

OPINI | 28 June 2012 | 18:00 Dibaca: 2769   Komentar: 7   1

Menurut Kamus Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan karakter adalah tabiat (sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain) atau dapat pula dikatakan karakter merupakan watak. Menurut Simon Philips  dalam quari (2010: 10), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema dalam quari (2010:12) memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Sementara Winnie dalam quari memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut ‘orang yang berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.

Dari pengertian dan pendaapat ahli di atas mengenai karakter dapat disimpulkan bahwa karakter menyangkut moral, yaitu menyangkut ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb; akhlak; budi pekerti; susila. Karakter juga merupakan kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, bersedia berkorban, menderita, menghadapi bahaya, dsb; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dari perbuatan. Maka karakter baik yang tertanam pada peserta didik akan membuatnya menjadi manusia yang bermoral, yaitu manusia yang berbudi pekerti baik, masih mempunyai pertimbangan yang baik dan buruk sebelum melakukan sesuatu. Menurut teori perkembangan moral yang disampaikan Piaget, ada dua tahap dalam perkembangan moral manusia. Yang pertama adalah tahap moralitas heteronomous atau tahap perkembangan moral yang terjadi selama manusia berada pada tahap anak-anak. Pada tahap ini moral ditanamkan oleh orang dewasa kepada anak-anak. Penalaran moral ini menciptakan keyakinan pada anak bahwa aturan moral adalah bersifat tetap dan tidak berubah.

Bangsa Indonesia mempunyai cita-cita untuk menjadi bangsa yang besar, kuat, berdaya, disegani oleh bangsa lain. Cita-cita bangsa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 ini dapat terwujud apabila bangsa Indonesia menanamkan karakter yang baik yang berasal dari nilai-nilai luhur yang ada di masyarakat Indonesia. Karakter yang perlu ditanamkan antara lain rasa cinta terhadap Tuhan Yang Maha Esa, jujur, disiplin, sopan, tanggung jawab, keadilan dan kepemimpinan, amanah, mandiri, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai dan persatuan.

Cita-cita bangsa Indonesia tersebut saat ini mengalami hambatan dalam mewujudkannya. Hambatan tersebut antara lain dikarenakan adanya beberapa hal yang bergeser dari nilai dan norma yang harus dijunjung tinggi, penegakan hukum yang belum terwujud, dampak demokrasi yang tidak diinginkan, karakter manusia yang semakin merosot. Ini semua merupakan dampak sikap orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak ada rasa memiliki akan bangsa yang hanya bersikap mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

UU No.20 tahun 2003 Sisdiknas, menegaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan iman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita. Pendidikan karakter merupakan bagian integral yang sangat penting dari pendidikan kita.

Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena turut menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa emas namun kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Thomas Lickona (seorang profesor pendidikan dari Cortland University) dalam quari (2010:8) mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda zaman yang kini terjadi, tetapi harus diwaspadai karena dapat membawa bangsa menuju jurang kehancuran. 10 tanda jaman itu adalah: (1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja/masyarakat; (2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk/tidak baku; (3) Pengaruh peer-group (geng) dalam tindak kekerasan, menguat; 4) Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba;   alkohol dan seks bebas; (5) Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; (6) Menurunnya etos kerja; (7) Semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru; (8) Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok; (9) Membudayanya kebohongan/ketidakjujuran; dan (10) Adanya rasa saling curiga dan kebencian  antarsesama. Dan kesepuluh tanda tersebut nampaknya mulai muncul pada bangsa Indonesia. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena bila sepuluh tanda tersebut semakin berkembang tanpa adanya suatu penanganan maka akan semakin cepat bangsa ini menuju kehancuran. Sebelum hal yang dikhawatirkan terjadi maka pembentukan karakter harus segera dilaksanakan dan digalakkan di seluruh lini pendidikan.

Seperti yang telah disebutkan di atas, peserta didik yang merupakan manusia yang berada dalam tahap anak-anak hingga remaja mengalami fase perkembangan moralitas heteronomous. Oleh karena itu menjadi penting dan strategis apabila penanaman karakter dilakukan pada tahap ini kepada para peserta didik karena karakter yang ditanamkan cenderung akan bersifat tetap. Karena karakter yang ditumbuhkan pada masa heteronomous ini bersifat tetap maka penting dan perlu untuk melakuakn pembentukan karakter pada masa ini. Pembentukan karakter pada peserta didik dapat dilakukan melalui proses pendidikan yang diintegrasikan melalui mata pelajaran yang ada. Salah satu mata pelajaran yang dapat membentuk karakter peserta didik adalah pendidikan seni musik.

Pendidikan merupakan upaya sadar dan terencana serta terarah untuk mewujudkan suatu proses belajar yang optimal serta membentuk peserta didik agar memilki karakter yang baik, cerdas secara kognitif; afektif; maupun psikomotorik, serta cerdas spiritual emosional sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai. Seni merupakan pengekspresian cita rasa, ide, jiwa, emosi dan perasaan yang diluapkan melalui kreativitas manusia menjadi satu karya yang dapat dikatakan unik, indah dan simbolis. Seni juga dikatakan sebagai suatu ujud usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. Menurut Maslow kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan yang tertinggi. Seni terbagi menjadi berbagai cabang, salah satunya adalah seni musik. Musik adalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian. Musik juga sering dikatakan sebagai bahasa universal, karen apada umumnya dapat dipahami manusia walaupun tidak dapat dijelaskan secara verbal. Jadi dapat didefinisikan bahwa pendidikan seni musik merupakan ilmu pengetahuan dan seni tentang kombinasi ritmik dari nada-nada, baik vokal maupun instrumental yang menggunakan unsur melodi, ritme, dan harmoni sebagai alat ekspresi jiwa.

Pendidikan seni perlu diajarkan dalam pendidikan formal karena (1) pendidikan seni berfungsi untuk mengenalkan dan mempelajari budaya bangsa kita di masa lalu. (2) sarana menumbuhkan dan mengembangkan individu peserta didik dalam rangka mempersiapkan hari depannya. Melihat hal ini sudah jelas bahwasannya pendidikan seni dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan karakter pada peserta didik. Dengan mempelajari budaya bangsa di masa lalu, peserta didik akan dapat menemukan beragam nilai-nilai luhur yang patut untuk ditanamkan dalam dirinya dan bersedia untuk melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa yang ada. Melalui pendidikan seni pula peserta didik dituntut untuk berkreativitas, dalam proses kreativitas ini peserta didik akan mendapatkan bermacam-macam karakter yang akan menjadi kepribadiannya. Karakter yang dimaksud seperti jujur, sabar, bekerja keras, tanggung jawab, disiplin, mandiri. Dalam proses berkreasi peserta didik akan merasakan bagaimana caranya sabar dlaam menciptakan sesuatu, bertanggung jawab dengan apa yang diperbuatnya, jujur dalam proses berkreasi (tidak mengakui hasil karya orang lain sebagai hasil karyanya), disiplin dalam mengerjakan sesuatu agar bisa tepat waktu, mandiri dalam proses berkreasi. Semua ini merupakan karakter yang diperlukan dalam membangaun bangsa. Dan melalui pendidikan seni berbagai karakter yang berasal dari nilai luhur bangsa dapat ditumbuhkan dan dikembangkan.

Adapun fungsi seni musik antara lain (1) membantu pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. (2) membina perkembangan estetika peserta didik dalam berkarya seni. (3) membantu siswa dalam berkehidupan di masyarakat. Seni musik berperan sebagai media pendidikan. Salah satu peran itu yakni seni musik sebagai media berpikir kreatif. Renzulli dan kawan-kawannya mengatakan: Creativity is the ability to set aside esthabilishes conventions and procedures yang berarti bahwa orang yang kreatif itu biasanya sering menemukan halbaru, yang terpikirkan oelh orang lain;dapat memecakan masalah dengan kemungkinan sebagai cara (divergen) tidak hanya satu cara. Ciri-ciri orang yang berpikir kreatif antara lain: (1) peka terhadap lingkungan, (2) tanggap terhadap rangsangan sensoris, (3) teliti dalam mengamati sesuatu, (4) sadar dan penuh rasa ingin tahu, (5) bersikap tegas pada yang disukai maupun tidak, (6) berpikir tebuka dan peka pada sesuatu yang menarik, (7) senantiasa ingin mencoba sesuatu yang baru dan mengutamakan keaslian, (8) bersikap bebas dalam mengamati, menganalisis/berpikir dan bertindak, (9) memilki kemampuan dan kemauan merespon yang tinggi, (10) hasil karyanya bersifat unik (hasil tersebut sangat dipengaruhi hal-hal yang internal dan eksternal). Dalam hubungannya dengan pembentukan karakter maka seni musik dapat menumbuhkan karakter berpikir kreatif pada peserta didik dengan ciri-ciri orang yang berpikir kreatif seperti yang telah disebutkan. Martin Gardiener dari Sekolah Musik di Providence, Rhode Island juga membenarkan bahwa pendidikan seni musik mencerdasakan anak. “Pendidikan kesenian, menurut Martin Gardiener, dapat berinteraksi denagn kecepatan seseorang menyerap pelajaran lain”. Hubungannya dengan otak, musik dapat merangsang kerja otak sehingga peserta didik dapat lebih rileks dalam belajar dan nantinya berdampak pada kecerdasan peserta didik. Peserta didik yang cerdas musik cenderung memiliki kecerdasan di bidang lain. Howard Gardner membagi kecerdasan menjadi 8 jenis yaitu: word smsart, picture smart, logic smart, nature smart, people smart, self smart, dan body smart. Kedelapan jenis kecerdasan ini lebih dikenal dengan sebutan kecerdasan majemuk atau multiple intellegences. Para pakar lalu menambahkan satu kecerdasan lagi yaitu kecerdasan spiritual. Dnegan pendidikan seni musik peserta didik berkemungkinan besar dapat memiliki kecerdasan majemuk ini.

Menyelesaiakan penggalan melodi, menghias melodi dan mencipta musik merupakan pengalaman berpikir kreatif. Kreatifitas senni menunjang kreatifitas berpikir. Penelitian menunjukkan pelajar yang menguasai bidang seni ternyata lebih berhasil dalam pekerjaan (karier) bidang apapun. Pendapat ini dikemukakan oleh Scott C. Schiller (1996). Orang yang berpikir kreatif diharapkan dapat menciptakan karya yang bermakna dan berguna. Pencipta tidak diharapkan menghasilkan karya yang menyebabkan berpikir dan menjadikan manusia bermoral rendah. Dari hal tersebut jelas bahwa pendidikan seni musik menghendaki terbentuknya moral yang tinggi, dapat dikatakan bahwa pendidikan seni musik menghendaki tumbuhnhya karakter positif pada peserta didik. Melalui pengalaman bermusik peserta didik dapat menumbuhkan berbagai karakter pada dirinya dan menanmkannya pada diri dan mengakar menjadi kepribadian yang akan terpancar dalam sikap dan perbuatannya.

Dalam pendidikan seni musik terdapat apresiasi seni musik. Melalui kegiatan apresiasi seni musik ini peserta didik akan diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya dan penilaian/penghargaan terhadap sesuatu, menghargai karya orang lain, mempertajam rasa dan emosi, peka terhadap unsur-unsur musik yang ada pada objek apresiasi musik seperti bunyi, irama, melodi, birama, harmoni, fekture, tempo, dinamik dan gaya.

Pembentukan karakter pada peserta didik selanjutnya dapat dilakukan melalui kegiatan pengalaman musik. Kegiatan yang apat dilakukan antara lain mendengarkan musik, bernyanyi, kegiatan bermain musik, kegiatan membaca musik, kegiatan bergerak mengikuti musik, maupun kegiatan kreativitas peserta didik dalam bermusik. Melalui pengalaman bermusik, peserta didik akan memperoleh berbagai pengalaman yang akan semakin menguatkan karakter yang sudah ada serta menumbuhkan karakter yang belum tumbuh pada diri peserta didik.

Dengan menggunakan musik dan suara dalam berbagai cara yang kreatif, pendidik dapat membantu peserta didik mengembangakan harga diri yang positif dan sehat (yakni percaya akan kemampuan diri sendiri, mampu mengandalkan diri sendiri) sejak awal sehingga nantinya sikap yang dikembangkan tersebut akan menjadi karakter tetap peserta didik. Berbagai macam lagu dapat digunakan dalam pembentukan karakter peserta didik, melalui lirik yang ada di setiap lagu peserta didik akan lebih mudah menerima maksud serta nilai-nilai yang ada pada lagu tersebut. Dalam praktikanya musik lebih mengandalakan perasaan dan emosi an hal ini berhubungan dengan moral. Pembentukan karakter juga menekankan pada tumbuhnya moral yang tinggi pada peserta didik maka dapat dikatakan bahwa pendidikan seni musik selaras dengan upaya pembentukan karakter.

Hubungannya dengan mennumbuhkan karakter, Munif Chatib dalam Sekolahnya Manusia (2010) melalui ceritanya seputar peserta didik yang ada di sekolah yang diampunya membenarkan fakta bahwa musik dapat melejitkan potensi peserta didik dan menumbuhkan sikap atau karakter percaya diri, rajin, mandiri, aktif, kreatif.

Melihat bahwasannya pendidikan seni musik dapat dijadikan sebagai alat atau sarana yang efektif dan strategis untuk menumbuhkan karakter pada peserta didik maka sebagai orang yang berhubungan langsung sehari-hari dengan peserta didik, guru harus mampu mengajarkan pendidikan seni musik secara maksimal dan baik. Pendidikan seni musik harus diajarkan secara utuh dengan memberikan pengalaman musik kepada peserta didik. Pembelajaran yang dilakukan secara utuh akan menumbuhkan karakter pada peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Rifa’i RC dan Catharina Tri Anni. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES PRESS.

Afra, Afifah. 2009. …and The Star is Me!. Surakarta: Afra Publishing.

Chatib, Munif. 2010. Sekolahnya Manusia. Bandung: Penerbit Kaifa.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta. 1984.

Lewis, Barbara A. 2004. Character Building Untuk Anak-anak. Batam Centre: KARISMA Publishing Goup.

Ortiz, John M. 2002. Nurturing Your Child with Music. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Pekerti, Widia, dkk. 2001. Pendidikan Seni Musik-Tari/Drama. Jakarta: Pusat Penerbitan Univrsitas Terbuka.

Safrina, Rien. 2002. Pendidikan Seni Musik. Bandung: CV. Maulana.

Sumber Internet

http/www.wikipedia.org

http/www.duniabaca.com

http/www.stp.dian-manggala.org

http/www.satulagi.com

http/nansa-pendikar.blogspot.com

http/desyandri.wordpress.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Latahnya Pedagang Kaki Lima …

Agung Han | | 17 September 2014 | 04:16

Polemik Kabinet Jokowi-JK …

Mike Reyssent | | 17 September 2014 | 05:05

Potret-Potret Geliat TKW HK Memang …

Seneng Utami | | 17 September 2014 | 06:07

Pro-Kontra Pembubaran (Sebagian) Kementerian …

Hendi Setiawan | | 17 September 2014 | 08:17

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

PKS Pecundang Menolak Pilkada Langsung …

Damang Averroes Al-... | 12 jam lalu

Jusuf Kalla Sebaiknya Belajar dari Ahok …

Relly Jehato | 14 jam lalu

Wanda Hamidah Bukan Ahok …

Mawalu | 16 jam lalu

Ini Kepemimpinan Ala Jokowi …

Sjahrir Hannanu | 16 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Jokowi Bermain Kata-kata …

Hasan Ali | 8 jam lalu

Sanggupkah Timnas Lolos dari Hadangan …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Istilah Luar Negeri …

Rizky Purwantoro | 8 jam lalu

Maudy Ayunda ‘Dimodusin’ Bule! …

Darren Wennars | 8 jam lalu

Kutinggalkan Cintaku Terkapar di Tuktuk (7) …

Leonardo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: