Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sergei Tofaninoff

Suka sains, TED Talks, dan kereta api. Pendiri Taman Baca Bulian.

Popeye dan Kebiasaan Baru

OPINI | 02 July 2012 | 06:25 Dibaca: 214   Komentar: 0   0

Saya sedih kalau melihat teman atau anak kecil tidak suka makan sayur. Soalnya, sayur itu penting untuk pemenuhan gizi. Sayuran pulalah salah satu faktor yang menyebabkan kulit menjadi halus.

Adik saya yang paling kecil salah satunya. Susah banget menelan sayuran. Padahal adik saya ini perempuan, yang notabene lebih membutuhkan sayuran ketimbang laki-laki.

Berbagai cara dilakukan supaya dia mau makan sayur. Mulai dari membujuk halus, mengandai-andaikan sayuran adalah teman dari luar angkasa, sampai memaksa. Tapi ya nihil.

Kemudian teringatlah saya akan Popeye. Sayangnya Popeye sudah cukup lama tidak ada yang menayangkan, baik di tv domestik maupun tv kabel. Langsung saja saya buka YouTube dan mencari Popeye the Sailor Man.

Sejak nonton Popeye, adik saya punya kebiasaan makan sayur.

*****

Cara membujuk anak kecil (maupun orang tua) memang harus menggunakan pendekatan yang tepat. Ambil contoh, larangan membuang sampah sembarangan. Perda yang mengatur sudah dikeluarkan. Berbagai sanksi diterapkan. Bahkan ada yang memajang papan bertuliskan “YANG MEMBUANG SAMPAH DI SINI (sembarangan -pen) BUKAN MANUSIA!”. Tapi tetap saja banyak yang ngeyel tetap buang sampah sembarangan.

Mungkin pendekatan supaya mau buang sampah di tempatnya harus seperti ini.

Atau, kalau warga malas berolahraga, salah satu pendekatannya seperti ini.

*****

Ada lagi cerita Pepsodent yang lewat riset, sanggup membuat warga Amerika suka menggosok gigi.

Di awal abad ke-20, menggosok gigi belum menjadi budaya. Padahal saat itu sudah banyak produsen pasta dan sikat gigi yang meluncurkan produknya. Alhasil, gigi penduduk Amerika banyak yang kuning. Imbasnya lagi, produk pasta serta sikat gigi banyak yang tidak laku.

Pepsodent melihat ini sebagai kesempatan. Pepsodent meluncurkan produk pasta gigi yang menggunakan sejenis bahan kimia tidak lazim. Bahan kimia ini menimbulkan sensasi iritasi ringan seperti rasa mint segar (sampai saat ini sensasi ini masih dipertahankan Pepsodent). Sensasi ini membuat penggunanya yakin bahwa gigi pengguna sudah bersih. [Coba Anda gunakan pasta gigi Pepsodent, lalu beralih ke Enz*m. Enz*m tidak menggunakan sensasi segar ini. Maka, mungkin Anda akan merasa kalau menggunakan pasta gigi Pepsodent lebih bersih].

Sejak saat itu, market share Pepsodent meroket. Pesaingnya pun ikut-ikutan menggunakan bahan kimia tersebut. Penjualan pasta gigi pesaing pun ikutan meroket, namun Pepsodent tetap mendominasi.

Sebenarnya apa sih yang membuat 3 contoh di atas bisa mempengaruhi orang, untuk membentuk kebiasaan baru?

*****

Contoh pertama, adik saya yang makan sayuran adalah contoh mempengaruhi.

Dengan mempengaruhi, si objek akan tersugesti bahwa “jika saya mengikuti yang x lakukan, maka saya akan menjadi seperti dia!”. Mempengaruhi adalah salah satu cara yang digunakan psikolog. Iklan yang ada di televisi pun selalu mempengaruhi penontonnya, meskipun penonton sering tidak sadar.

Mempengaruhi biasanya lebih mudah dilakukan kepada anak kecil, atau orang dewasa dengan tingkat pendidikan rendah. Sedangkan remaja atau orang dewasa berpendidikan tinggi biasanya lebih sulit dipengaruhi, baik lewat iklan maupun teguran.

Contoh kedua (tong sampah serta tangga berbunyi) dan ketiga (Pepsodent) adalah membentuk kebiasaan baru dengan pola berulang.

Supaya kebiasaan baru dapat mengakar kuat, pola yang dibutuhkan adalah:

Umpan -> Pengulangan -> Hadiah. Tumbuh kebiasaan.

Dalam contoh tong berbunyi, pengumpannya adalah suara dari tong sampah. Ketika mendapatkan umpan tersebut, maka objek yang membuang sampah akan penasaran. Kemudian, sebisa mungkin dia akan mengulang membuang sampah di tong berbunyi. Jika dilakukan berulang-ulang, maka membuang sampah di tong akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, tidak diperlukan tempat sampah berbunyi lagi supaya si objek mau disiplin membuang sampah.

Begitu pula dalam contoh tangga berbunyi. Pengumpannya adalah tangga berbentuk tuts, yang jika diinjak berbunyi. Kemudian si objek akan mengulangi naik tangga berbunyi. Karena sering diulangi, objek akan mendapat hadiah: badannya lebih bugar sejak naik turun tangga. Sejak itu, tumbuh kebiasaan naik turun tangga.

Tak pelak dalam contoh Pepsodent. Umpannya adalah sensasi segar nan bersih setelah menggosok gigi. Karena umpannya menarik, pengguna mengulang menggosok gigi dengan Pepsodent. Karena diulang, pengguna Pepsodent mendapati giginya lebih sehat. Pengulangan yang dilakukan terus menerus membentuk kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, biasanya sulit diubah. Inilah yang membuat Pepsodent tetap laku hingga saat ini: karena sudah terbiasa pakai Pepsodent.

Nah, itulah kunci dari kesuksesan membentuk kebiasaan. Oh ya, supaya bisa membentuk pengulangan, umpan harus menarik dan unik.

*****

Jika kunci membentuk kebiasaan sudah ditemukan, maka sekarang saatnya kita memutar otak untuk menerapkan kebiasaan baru. Kebiasaan tidak melakukan money politics, misalnya. Ada yang punya ide, pengaruh apa atau umpan apa yang cocok supaya masyarakat Indonesia tidak melakukan money politics? :D

Trivia: penelitian membuktikan bahwa bayam membuat otot lebih kuat.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 7 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 15 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 9 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 9 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 9 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: