Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Maryam

Alumni SMA N 3 Yogya (3B), FK. UGM. Minat : Kesehatan, lingkungan, pendidikkan, bahasa Jawa selengkapnya

Bagaimana Melestarikan Permainan Tradisional

OPINI | 03 July 2012 | 16:39 Dibaca: 590   Komentar: 5   4

gobak sodor

gobak sodor

Saat-saat liburan sekolah seperti ini, rasanya pas sekali membicarakan masalah permainan tradisional. Seingat saya, ketika masa kecil dulu, begitu liburan kenaikkan kelas tiba, rasanya tiada hari tanpa bermain berbagai macam permainan tradisional. Bahkan banyak anak yang bermainnya sampai jauh, tidak hanya disekitar rumah, sehingga anak-anak jaman dulu bisa mengenal anak-anak yang rumahnya jauh meskipun tidak satu sekolahan. Kami jadi mengenal teman sebaya dan anak-anak yang lebih besar dari kami karena sama-sama kecanduan permainan tradisioanl seperti gobak sodor (didaerah saya disebut blodor), kasti, dll.

Sekarang, kemajuan jaman telah menjauhkan anak-anak dari permainan tradisional ini. Jarang sekali kita lihat mereka bermain tradisional bahkan pada saat liburan sekalipun. Kemana perginya permainan tradisional? Apakah kalau generasi seusia saya meninggal semua, permainan tradisional akan punah? Oo tidak!! Jangan biarkan punah!!

Kita semua generasi yang melalui masa kecil sebelum era 90 an, sangat merindukan kembalinya permainan tradisional. Semua dari kita ingin melihat permainan syarat makna ini kembali jaya, menggeser kejayaan permainan modern buatan pabrik. Ya, siapa sih yang tidak mengakui kehebatan permainan berkarakter ini? Siapa sih yang tidak mengakui kehebatan permainan yang tidak akan kita dapatkan dari permainan modern ini? Semua mengakui kehebatan permainan tradisional sebagai permainan edukatif yang membawa begitu banyak dampak positif. (Bacalah artikel saya sebelumnya: http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/21/permainan-tradisional-permainan-edukatif-yang-mencerdaskan-anak/)

Tapi bisakah kita mengembalikannya? Menjadikannya sebagai permainan favorit seperti masa kecil kita? Bisa ! Insya Allah bisa! Benarkah? Tentu saja bisa kalau kita punya niat! Niat saja tak akan cukup, harus disertai dengan tindakan nyata! Anak-anak sekarang tidak mengenal permainan masa kecil kita, bagaimana mereka mau bermain? Mendengar nama permainannya saja asing. Kalaupun tahu, hanya sebagian kecil dari permainan tradisional yang sangat beragam itu. Oleh karena itu orang tua harus mengajarinya. Saat liburan begini, waktu yang pas untuk mengajari anak-anak bermain permainan tradisional. Orang tua harus memberi contoh pada anak-anak jaman sekarang. Anak-anakku suka bermain sunda manda karena diajari Ibuku.

Perlombaan permainan tradisional sebagai ajang mengenalkan kepada anak-anak jaman sekarang.

Salah satu media untuk mengembalikan permainan tradisional menjadi trend lagi adalah dengan mengadakan perlombaan. Peserta perlombaan ini awalnya adalah orang-orang tua seangkatan kita atau dibawah kita yang masih mengetahui aturan permainan tradisional. Orang tua bermain tradisional, tak aneh bukan? Tak ada yang melarang bukan? (Baca: http://muda.kompasiana.com/2012/07/03/permainan-tradisional-vs-masa-kecil-kurang-bahagia/)

Memang aneh ya permainan kok jadi perlombaan. Dulu kita main kan untuk bersenang-senang dan kita tidak begitu peduli dengan kalah atau menang. Yang penting kita bisa lari-lari, bergerak dengan suka cita, gembira..

Saya jadi ingat ketika saya duduk di bangku kelas 3 SMP, (tahun 1985/1986) Ibuku yang telah punya anak-anak SLTA dan SMP bermain kasti bersama teman-teman sebayanya di lapangan PJKA Maos (waktu itu masih berupa lapangan, sekarang sudah jadi Gedung AKPER. Ibuku yang sudah emak-emak tentu saja malu-malu.. maka saya lihat dari jauh biar Ibu tidak kikuk. Ibuku memang sering bercerita bahwa sewaktu kecil beliau jago main kasti, larinya cepat sekali (beda dengan aku, meskipun suka kasti, tapi sering kena bola) dan setelah emak-emak ternyata masih lihai juga, meski sudah tidak sekencang dulu larinya, maklum emak-emak. Tapi karena sama-sama emak-emak, yang mengejar bolapun emak-emak maka permainan jadi seimbang. Waktu itu Ibu denga teman-teman main kasti dalam rangka lomba kasti antar Desa se Kecamatan Maos, entah dalam rangka apa, mungkin agustusan, karena kalau bulan Agustus, biasanya banyak perlombaan).

Nah pada saat perlombaan, anak-anak kita yang asing dengan permainan tradisional harus menonton, dan libatkan jadi panitia kecil atau sekedar menjadi penonton. Mereka harus menonton perlombaan di tingkat RT (bayangkan kalau tiap RT mengadakan lomba permainan tradisional, pasti akan jaya lagi, tak jadi punah), tingkat RW, tingkat Kelurahan, Kecamatan… dari sering menonton, mereka menjadi bisa meniru memainkannya. Ada yang berppendapat anak-anak adalah peniru ulung. Dengan melihat mereka bisa.

Maka dari itu, yuuk kita adakan perlombaan ! Nah sekarang bulan Juli, biasanya bulan Agustus akan ada perlombaan aneka macam dalam rangka peringatan hari jadi NKRI. Kita ususlkan saja permainan tradisioanl ini untuk lomba. Atau bagi yang biasa jadi panitia, enak sekali tinggal rapat pengaruhi orang lain supaya setuju dengan perlombaan ini… Sayang Agustus tahun ini jatuh saat bulan Ramadhan, jadi mungkin bisa diajukan lebih awal. Bisa pertengahan Juli sebelum puasa.. Atau kapanpun bisa diadakan lomba asal ada kesepakatan.. Ayo kita rencanakan.. waktunya mepet nih.. tapi untungnya permainan tradisional tidak butuh banyak alat, paling kalau kasti cukup cari bola dan pemukulnya, gampang ya? Adalah yang mau mengikutiku? Oya, apakah perlombaan itu hanya ada saat peringatan hari jadi NKRI? Bisakah juga di bulan lain? Bagainmana teman-teman?

Kurikulum olahraga di sekolah

Selain perlombaan tiap bulan Agustus (atau bulan lain dimana ada libur panjang/tanggal merah di hari Jumat/libur 3 hari), saya rasa sekolah harus memasukkan permainan tradisional ke dalam kurikulum olahraga. Sesuai kelas dan usianya. Kalau masih PAUD dan kelas 1 dan 2 SD bisa dakon/congklak, sunda manda, main kucing dan tikus, lompat tali atau sejenisnya. Sementara untuk kelas yang lebih besar bisa jenis yang lebih atraktif.

Sepertinya memang ada sekolah yang sudah memasukkan kurikulum permainan tradisional ini, tapi saya yakin masih banyak yang belum, soalnya sekolah anak-anak saya juga belum, juga tiap saya ke SD-SD sewilayah kerja Puskesmas kami, belum ada yang memasukkannya. Semoga guru-guru atau pengambil kebijakkan ada yang membacanya.. dan tergerak…

Sumber gambar: http://3.bp.blogspot.com/_SdSMbQR5RJA/SXZygPg28-I/AAAAAAAAAAM/gmKzeT2Z_TE/s320/IMG_1253.jpg

Salam saya.

Maryam Almaosy

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Di Kupang, Ibu Negara yang Tetap Modis namun …

Mba Adhe Retno Hudo... | 9 jam lalu

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 13 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: