Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Imam Rahmanto

Penyuka cappuccino. Penikmat pagi. (Masih) mahasiswa. Freelance Journalist || Berkunjung ke"rumah" saya: nulislepas.blogspot.com

Belajar Menghargai Lawan Bicara

OPINI | 05 July 2012 | 14:42 Dibaca: 1342   Komentar: 2   3

“Kita dianugerahi dua mata dan dua telinga, serta hanya satu mulut. Itu menandakan bahwa kita dianjurkan untuk lebih banyak melihat dan mendengar dibandingkan berbicara,”

ImamR

ImamR

Lumrah, saya sudah terlalu sering mendengarkan nasehat seperti itu, baik ketika masih kecil maupun saat saya sudah beranjak dewasa. Semasa kecil, kalimat-kalimat itu hanya terngiang-ngiang selintas lalu di kepala, sekadar mengangguk-angguk mengikuti petuah orang tua. Namun, beranjak dewasa, saya semakin mengerti makna di balik ucapan-ucapan itu. Segalanya tentang belajar. Belajar tentang kehidupan. Belajar pula menghargai orang lain.

Saya baru sadar, di dunia yang semakin dinamis ini, banyak orang yang tidak begitu peduli dengan lingkungan sekitarnya. Mereka acuh terhadap segala kejadian di sekelilingnya. Bahkan, untuk berbincang dengan orang lain saja (mungkin) mereka hanya meluangkan sedikit waktunya. Jikalaupun mereka meluangkan waktunya untuk mengobrol, terkadang mereka tidak begitu memperhatikan lawan bicara mereka.

Sesungguhnya, hal itu tidak hanya terjadi pada orang-orang yang “sibuk”. Tak jarang, kita yang hanya berstatus sebagai seorang mahasiswa/ generasi muda meniru-niru hal demikian. Teman sedang berbicara, kita malah sibuk sendiri (keasikan) semisal dengan pencat-pencet tombol handphone. Seolah-olah mendengarkan, namun yang terjadi justru kita mengabaikan lawan bicara kita. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.

Dua mata untuk melihat; Belajar dengan melihat kejadian atau keadaan sekitar. Kita dituntut untuk mampu membaca, bukan hanya membaca suatu tulisan, namun juga mampu membaca keadaan. Dari melihat (secara luas) itulah kita bisa lebih banyak belajar.

Dua telinga untuk mendengar; Belajar dari mendengarkan nasehat-nasehat orang lain. Kita belajar dari orang lain dengan cara mendengarkannya. Bersosialisasi pula dengan mendengarkan segala permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar kita.

Satu mulut untuk berbicara; Kita dituntut untuk tidak terlalu banyak berbicara. Berbicara cukup untuk bertanya seperlunya saja. Selebihnya, biarkan mereka bercerita lebih banyak untuk kita dengarkan.

Nah, oleh karena itu, pada dasarnya berinteraksi dengan orang lain, tidak jauh berbeda dengan banyak belajar dari kehidupan. Dua mata, mengindikasikan kita belajar dengan cara sendiri melalui lingkungan sekitar. Dua telinga, mengartikan kita belajar dari petunjuk atau arahan orang lain. Dan satu mulut, dimaknai kita harus tetap belajar dengan bertanya.

Belajar melalui mata dan telinga, itu berarti kita menyimak. Benar-benar memperhatikan dan memahami sesuatu. Menyimak beda dengan menghafal. Belajar melalui mata, telinga, dan mulut, berarti kita bersosialisasi dengan orang-orang maupun lingkungan di sekitar kita. Nah, berinteraksi inilah sebagai salah satu bentuk belajar. Kita dituntut untuk tidak hanya mendengarkan, namun juga harus menyimak (dengarkan dan perhatikan).

Dua mata, dua telinga, dan satu mulut adalah salah satu cara belajar menghargai orang lain, khususnya dalam hal berkomunikasi. Kita sebaiknya lebih banyak menyimak apa yang dikatakan orang lain, dan menyela hanya seperlunya saja. Hal ini juga berlaku bagi para “penampung curhatan”. Oleh karena itu, sedari sekarang, berhentilah menekan-nekan tombol handphone ketika orang lain sembari berbicara dengan kita. Setidaknya, berikan perhatian pada orang lain bahwa ternyata kita PEDULI.

–Imam Rahmanto–

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Emak, Emang Enak Nunggu Kereta Sambil …

Masluh Jamil | | 27 November 2014 | 05:41

BBM Naik, Pelayanan SPBU Pertamina …

Jonatan Sara | | 27 November 2014 | 01:16

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Munas Golkar Tak Diijinkan di Bali Pindah …

Akhmad Sujadi | | 27 November 2014 | 00:00

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Menteri Dalam Negeri dan Menko Polhukam …

Hendi Setiawan | 11 jam lalu

Menguji Kesaktian Jokowi Menjadi Presiden RI …

Abdul Adzim | 11 jam lalu

Kisruh di Partai Golkar, KMP Pun Terancam …

Adjat R. Sudradjat | 11 jam lalu

Riedl: Kekalahan Dari Filipina Buah Dari …

Hery | 13 jam lalu

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Museum Basoeki Abdullah …

Agung Han | 8 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu

Yummy, Manis krenyez krenyez Meringue avec …

Imam Hariyanto | 9 jam lalu

Kiprah Ibu-Ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | 9 jam lalu

Potret Susi Pujiastuti Wanita Indonesia yang …

Imam Kodri | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: