Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bima S. Ariyo

seorang guru yang berharap bisa diGUgu dan ditiRU, bukan hanya di geGUyu dan di tinggal selengkapnya

Kisah Sedih Pada Masa Penerimaan Siswa Baru (PSB)

REP | 05 July 2012 | 12:55 Dibaca: 1846   Komentar: 11   4

Penerimaan Siswa Baru (PSB) untuk tahun pelajaran 2012/2013 merupakan trending topic dikalangan kaum ibu yang biasa berbelanja sayur di depan rumahku. Banyak bahan yang dapat diperbincangkan mulai dari harapan anak-anak sampai sekolah mana yang jadi favorit untuk dituju.

Setiap orang tua tentunya akan berusaha memilihkan sekolah yang terbaik untuk anak-anaknya. Sebut saja ada Bu Misye yang pegawai BUMN, Bu Rini yang menjabat sebagai PNS di PEMDA, Bu Dian yang merupakan seorang guru, dan ada Bu Ijah yang hanya seorang tukang sayur. Mereka berempat sama-sama punya anak yang baru lulus dari Sekolah Dasar dan kini sedang pusing-pusingnya mencari SMP.

Bu Misye adalah orang terpandang di wilayahnya. Seperti di wilayah-wilayah lainnya orang terpandang senantiasa dilihat dari indikator harta bukannya kearifan sikap. Bu Misye ini kaya raya bukan kepalang, rumahnya mewah, mobilnya bagus-bagus, perhiasannya mentereng. Semua orang hormat padanya. Bu Misye punya anak semata wayang bernama Doni yang bandelnya minta ampun. Kerjanya main warnet dan keluyuran menggunakan sepeda motor padahal Doni baru kelas 6 SD. Tak pernah ada di pikiran Doni bahwa ia harus menyelesaikan sekolah untuk menyongsong masa depannya. Yang penting ada duit, bisa jajan, bisa foya-foya, sudah senang bahagia. Bu Misye pun pusing bukan kepalang manakala ternyata nilai UN Doni sangat jauh dari harapan. Tak mungkin bisa masuk SMP Negeri favorit di wilayahnya. Sementara Bu Misye amat sangat gengsi untuk menyekolahkan anaknya di SMP Negeri yang kurang favorit atau bahkan sekolah swasta. Hal ini dikarenakan setiap kumpul ibu-ibu, Bu Misye selalu membanggakan kepandaian anaknya yang baru kelas 6 SD sudah pandai main komputer dan mengendarai sepeda motor. Karena main komputer dan mengendarai sepeda motor tak pernah ada di soal UN SD. Wajar saja jika nilai UN Doni jeblok.

Akhirnya Bu Misye memutuskan untuk masuk ke SMP favorit tersebut melalui jalur Bina Lingkungan yang diperuntukkan bagi siswa kurang mampu. Usut punya usut bu Misye terpaksa mengeluarkan uang sejumlah lima juta rupiah untuk itu. Ah lima juta sih tidak masalah buat bu Misye, lha wong beres UN saja si Doni dibelikan ponsel pintar seharga tujuh juta rupiah. Akhirnya si Doni pun tercatat sebagai siswa SMP favorit tersebut dan Bu Misye pun lega karena bisa membanggakan anak semata wayangnya di depan ibu-ibu dengan kalimat pamungkas, “Saya bersyukur lho bu, si Dony itu biarpun malas belajar ternyata bisa keterima di SMP favorit. Bagaimana kalau rajin ya? Mungkin sudah dapat beasiswa keluar negeri…”

Ahhh….mual saya mendengarnya.

Bu Rini adalah PNS Pemda di lingkungan dinas pendidikan. Entah apa jabatannya yang jelas Bu Rini nampaknya memegang peranan vital di kesatuan dinasnya. Gajinya mungkin standar PNS namun amplopnya itu lho selalu ada setiap minggu. Besarnya bahkan bisa sangat fantastis sehingga keluarga Bu Rini di lingkungannya tergolong orang yang hidup serba mewah. Anaknya yang bernama Indah setiap hari kesibukannya hanya menonton film korea, mendengarkan musik, menonton sinetron remaja, dan bermain jejaring sosial. Kemana-mana Indah tak pernah lepas dari Blackberry-nya. Berbeda dengan Doni anak Bu Misye, nilai UN Indah sangat tinggi dengan rata-rata lebih dari 9. Alangkah bangganya Bu Rini, setiap kumpul ibu-ibu dia selalu bercerita bagaimana perjuangannya setiap malam mendidik anaknya Indah agar bisa mencapai nilai UN yang sangat fantastis.

Namun apa sebenarnya yang terjadi adalah berbeda dari yang Bu Rini selalu katakan. Indah adalah anak yang malas, bahkan saat malam sebelum UN dia lebih sibuk dengan BB-nya ketimbang dengan buku pelajarannya. Sementara sang Ibu santai-santai di depan televisi. Namun Bu Rini punya kartu As untuk menyukseskan UN anaknya yaitu secarik kertas kunci jawaban. Bermodalkan kunci jawaban, Indah melalui UN dengan amat sangat lancar. Ia pun di anggap sebagai pahlawan karena juga membagi kunci jawaban kepada teman-teman sekelasnya. Pihak sekolah juga mengelu-elukannya karena telah menyelamatkan nama baik para guru, kepala sekolah, dan citra sekolahnya sebagai sekolah dengan out-put terbaik se Kecamatan. Ironi memang. Akhirnya Indah pun diterima di SMP favorit yang sama dengan Doni. Indah masuk melalui jalur seleksi nilai UN secara on-line yang dikenal dengan istilah Penerimaan Calon Peserta Didik Baru (PPDB). Indah bercokol di atas tangga atas klasemen hasil seleksi siswa dengan nilainya yang membanggakan itu.

Ahhh….yang ini bahkan sempat bikin saya muntah

Sedangkan Bu Dian yang seorang guru memiliki anak bernama Restu. Restu ini amat sangat pendiam, jarang bergaul bahkan terlihat sangat kuper. Hobinya setiap hari bermain game on-line di internet dan Play Station. Berkacamata sangat tebal tapi bukan karena hobi membaca buku melainkan karena terlalu sering memandang monitor saat bermain game. Alhasil nilai UN Restu hanya skala sedang. Tak terlalu tinggi tak juga terlalu rendah. Bu Dian pun panik, khawatir anak tercintanya tak dapat masuk di Sekolah Negeri favorit. Berbagai jurus ia lancarkan termasuk silaturahim ke rumah teman-teman lama. Sebagai seorang guru yang sudah puluhan tahun mengajar rekanan Bu Dian bisa dibilang ada di setiap sekolah termasuk di sekolah favorit tempat ia mendaftarkan anaknya.

Entah melalui jalur apa yang jelas Restu kini telah sukses menembus dinding seleksi sekolah favorit tersebut meskipun nilainya pas-pasan. Teorinya dalam mencari sekolah jika kita tak punya cukup uang maka jaringan rekanan dapat diandalkan. Entah itu politik balas budi atau toleransi antar sesama profesi yang jelas jika ada rekanan dan rekanan tersebut menduduki posisi penting maka dapatlah dimanfaatkan untuk mempermudah menembus seleksi penerimaan siswa baru. Kini dalam setiap kumpul ibu-ibu jika ditanya bagaimana kok Restu yang nilainya pas-pasan bisa diterima di sekolah favorit? Bu Dian hanya menjawab, “Ya ada faktor keberuntunganlah. Sudah rejekinya Restu mungkin, saya cuma bisa mengucap syukur atas keberhasilannya”

* * *

Nah saatnya saya ceritakan tentang Bu Ijah, janda beranak tiga ini merupakan tukang sayur di komplek saya. Setiap Bu Ijah mangkal di perempatan para ibu-ibu selalu mengerumuninya seperti Bu Misye, Bu Rini, Bu Dian, dan banyak lagi. Entah sekedar lihat-lihat, membandingkan harga, ataupun mencari ruang untuk ngerumpi. Yang jelas Bi Ijah selalu bersyukur dan yakin pasti ada satu atau dua orang yang membeli dagangannya. Bi Ijah memiliki anak sulung bernama Rita. Rita ini sangat cerdas, semenjak kelas 1 SD selalu menempati peringkat 3 besar di kelasnya. Rita hidup dengan sangat serba kekurangan. Pendapatan ibunya tak menentu. Hal ini membuat Rita mencoba survive dengan berbagai cara.

Pukul 04.00 pagi Rita sudah bangun untuk membantu ibunya memasak, mencuci, dan mengurus berbagai keperluan dua adiknya yang kini duduk di bangku kelas 1 SD dan kelas 3 SD. Sebentara Bu Ijah pergi ke pasar induk membeli sayur untuk dijual pagi harinya. Pulang sekolahpun kadang Rita menjadi pemulung plastik bekas untuk menambah tabungannya demi kelanjutan sekolahnya. Meskipun pemerintah mencanangkan program sekolah gratis, namun harus tetap wajib membeli seragam karena jika tidak punya pasti tak boleh duduk di kelas. Sekolah tetap wajib membeli buku LKS (Lembar Kerja Siswa) karena jika tidak membeli akan sangat mengurangi penilaian rapor. Sekolah itu juga wajib ikut study tour karena jika tidak ikut resikonya dijutekin guru, dikucilkan teman-teman, dan diberi tugas-tugas yang sangat tidak rasional. Ya itulah biaya sekolah dari sudut pandang Rita, seorang yatim anak Bi Ijah si tukang sayur. Tiap Rita melihat iklan sekolah gratis dia selalu protes, “Harusnya di iklan di sebutkan SPP gratis bukan sekolah gratis karena hanya SPPnya yang gratis”.

Rita lulus dengan nilai UN yang wajar yaitu rata-rata 8. Ini merupakan pencapaian yang sangat luar biasa ditengah kesibukannya membantu ibunda tercinta mencari nafkah, merawat adik-adik, mengurus rumah, dan ketiadaan fasilitas belajar yang memadai. Namun kini Bu Ijah bingung karena anaknya terancam tidak dapat bersekolah dikarenakan berbagai hal berikut ini:

Pertama, ada kebijakan dimana setiap siswa hanya boleh mendaftar ke satu sekolah negeri dan mengikuti seleksi nilai UN pada Penerimaan Calon Peserta Didik Baru (PPDB) secara online. Semenjak kelas 5 SD, Rita bercita-cita melanjutkan ke SMP Negeri favorit di wilayahnya. Ritapun akhirnya mendaftar dan bersaing demi mewujudkan cita-citanya. Namun, karena banyaknya kecurangan saat UN di SD menjadikan banyaknya siswa yang hanya mengandalkan bocoran kunci jawaban mendapatkan nilai UN yang sangat tinggi seperti halnya kisah siswa bernama Indah yang diceritakan di atas. Hal ini membuat Rita ketar-ketir mengingat nilai UN-nya yang dicapai dengan penuh kejujuran dan kerja keras hanya mendapat rata-rata 8 sedangkan banyak siswa yang melakukan kecurangan nilai UN-nya mencapai rata-rata 9 bahkan lebih. Rita pun akhirnya terdegradasi dari seleksi nilai UN karena batas terendah yang lolos seleksi adalah 24,70 sementara nilai UN Rita hanya 24,50 untuk tiga mata pelajaran. Sementara untuk mendaftar di sekolah lain melalui seleksi UN tidak mungkin dilakukan karena seleksi UN dilaksanakan serentak dan hanya boleh memilih satu sekolah saja.

Kedua, Rita seharusnya dapat memanfaatkan jalur penerimaan siswa Bina Lingkungan yang diperuntukkan bagi keluarga miskin untuk pemerataan akses pendidikan dengan alokasi penerimaan sebesar 27%. Namun program ini justru telah banyak dimanfaatkan oleh siswa yang tergolong berasal dari keluarga kaya. Bahkan program ini juga dikenai tarif sekian juta oleh pihak sekolah seperti halnya kisah Doni anak Bu Misye ebelumnya yang akhirnya lolos masuk SMP favorit dengan memanfaatkan program ini. Bagaimana Rita bisa masuk lewat jalur ini? Bahkan uang satu juta pun ia tak punya. Saat Bu Ijah menanyakan program ini setiap sekolah selalu bilang kuota sudah penuh. Bu Ijah hanya bisa menangis.

Ketiga, Jalur Prestasi yang disediakan di sekolah-sekolah juga tak dapat diharapkan. Kuota terlalu sedikit yang hanya 3%. Jika siswa yang diterima 400 maka 3%nya hanya 12 orang. Ketika bersekolah Rita tak punya banyak prestasi yang menonjol. Rita tak sempat memikirkan untuk mengikuti kompetisi atau mengumpulkan piagam prestasi. Rita hanya memiliki sebuah piagam juara harapan II lomba calistung ketika ia kelas 3 SD. Dan itupun nampaknya tak berguna untuk bisa menembus seleksi jalur prestasi.

Keempat, untuk bersekolah di sekolah swasta jelas Bu Ijah tak punya biaya yang memadai. SMP Negeri hanyalah satu-satunya harapan. Karena bersekolah di SMP Negeri tidak dikenai biaya SPP meskipun untuk biaya yang lain masih dipungut namun Bu Ijah yakin jika ia memohon belas kasihan pasti mendapat keringanan. Sedangkan jika di sekolah swasta untuk uang masuknya saja Bu ijah tidak punya bagaimana mau bersekolah.

Kini jika Bu Misye, Bu Rini, dan Bu Dian membanggakan anak-anaknya yang berhasil menembus seleksi SMP Negeri, Bu Ijah hanya bisa meneteskan air mata. Rita kinihanya bisa pasrah dan mungkin esok hari ia hanya akan membantu ibunya berjualan sayur setiap pagi. Hasratnya untuk bersekolah seolah-olah sudah terkoyak. Yang ada di pikiran Rita hanyalah penyesalan, “Mengapa aku dilahirkan sebagai orang miskin sehingga tak dapat membayar untuk les tambahan menjelang UN? Mengapa aku sangat bodoh sehingga UN saja hanya bisa mendapat nilai rata-rata 8? Mengapa aku tak seberutung Doni, Indah, dan Restu?”

* * *

Adilkah hal ini kawan? Ini bukanlah cerpen atau penggalan novel namun ini kisah nyata. Adapun nama yang tertera sengaja saya samarkan dan bukan nama yang sebenarnya. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa “INILAH WAJAH PENDIDIKAN KITA”. Semoga suatu saat jika ada dari pembaca yang menduduki posisi penting di pemerintahan serta memiliki wewenang untuk mengambil kebijakan. Bijaksanalah!!! Karena di negeri kita banyak Rita yang lain yang saat ini berharap sepenuhnya untuk bisa bersekolah dengan mudah, murah, dan nyaman. Agar dapat mewujudkan cita-cita mereka yang kelak akan kita titipkan masa depan bangsa ini di pundak-pundak mereka.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

5 Jam Menuju Museum Angkut, Batu-Malang …

Find Leilla | | 31 July 2014 | 18:39

Kecoa, Orthoptera yang Berkhasiat …

Mariatul Qibtiah | | 31 July 2014 | 23:15

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Menjenguk Blowhole Sebuah Pesona Alam yang …

Roselina Tjiptadina... | | 31 July 2014 | 20:35


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 9 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 13 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 17 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 21 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: